<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740</id><updated>2012-02-15T22:27:48.925-08:00</updated><category term='pakan'/><category term='sapi'/><category term='peternakan'/><category term='sengon'/><category term='pestisida'/><category term='mujair'/><category term='nilam'/><category term='kacang panjang'/><category term='mentimun'/><category term='albizzia falcata'/><category term='vitamin'/><category term='minyak sawit'/><category term='emas hijau'/><category term='bau kotoran'/><category term='perata'/><category term='bandeng'/><category term='kelinci'/><category term='jagung'/><category term='jatropha curcas'/><category term='molting'/><category term='tembakau'/><category term='perekat'/><category term='itik'/><category term='tanah asam'/><category term='daging'/><category term='pertanian'/><category term='kedelai'/><category term='kelapa'/><category term='ikan'/><category term='kubis'/><category term='kepyar'/><category term='lele'/><category term='lada'/><category term='fungisida'/><category term='coklat'/><category term='timun'/><category term='cengkeh'/><category term='allium cepa'/><category term='panili'/><category term='mas'/><category term='ricinus communis'/><category term='bawang merah'/><category term='semangka'/><category term='kakao'/><category term='kopi'/><category term='hybrida'/><category term='jarak'/><category term='paraserianthes falcataria'/><category term='jeruk'/><category term='organik'/><category term='perkebunan'/><category term='pupuk'/><category term='cabe'/><category term='udang'/><category term='pembasah'/><category term='agro'/><category term='insektisida'/><category term='ternak'/><category term='banana'/><category term='budidaya padi'/><category term='kambing'/><category term='pepaya'/><category term='perikanan'/><category term='domba'/><category term='ayam'/><category term='tebu'/><category term='padat'/><category term='pagar'/><category term='kelapa sawit'/><category term='kapur'/><category term='tambak'/><category term='analisis ekonomis'/><category term='plankton'/><category term='herbisida'/><category term='cair'/><category term='tomat'/><category term='strowberry'/><category term='pisang'/><category term='koki'/><category term='cabai merah'/><category term='unggas'/><category term='hama'/><category term='ph tanah'/><category term='ginseng'/><title type='text'>Teknaphotos Agro Site</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-9103337857227480764</id><published>2008-07-30T01:34:00.000-07:00</published><updated>2008-07-31T00:14:49.119-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kapur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tanah asam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ph tanah'/><title type='text'>Pengapuran Tanah Asam</title><content type='html'>TS PUPUK/PERTANIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Dasar&lt;br /&gt;Tanah masam adalah tanah ber-pH rendah (pH dibawah 6), semakin rendah pH tanahnya maka semakin ekstrim kemasamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala Tanah Masam&lt;br /&gt;1. Unsur hara makro (terutama N,P,K,Ca,Mg) tidak tersedia dalam jumlah cukup, efektifitas dan efisiensi pemupukan makro (urea, TSP, KCl) juga rendah.&lt;br /&gt;2. Beberapa unsur (terutama Al dan Fe) tersedia berlebih sehingga sering meracun pada tanaman.&lt;br /&gt;3. Menghambat perkembangan mikroorganisme tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengapuran untuk Meningkatkan pH Tanah&lt;br /&gt;Perbaikan pH tanah bisa diakatakan menyelesaikan 50% masalah kesuburan tanah. Salah satu cara meningkatkan pH tanah dengan pengapuran menggunakan kapur pertanian (kaptan) atau dolomit. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;1. Idealnya paling lambat pengapuran dilakukan 2 minggu sebelum tanam, karena bahan kapur termasuk bahan yang lambat bereaksi dengan tanah.&lt;br /&gt;2. Setelah pengapuran sebaiknya tanah dicangkul (dibajak) agar kapur bisa merata masuk dekat zona perakaran.&lt;br /&gt;3. Pengairan setelah pengapuran sangat diperlukan.&lt;br /&gt;4. Peningkatan pH tidak bisa terjadi seketika, melainkan pelan dan bertahap.&lt;br /&gt;5. Dosis kapur disesuaikan pH tanahnya, tetapi sebagai pedoman praktis dosis berkisar 500 kg/Ha 2 ton/Ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;Dolomit juga harus secara rutin digunakan pada tanah pH normal, karena unsur Ca dan Mg pada dolomit sangat dibutuhkan tanaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-9103337857227480764?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/9103337857227480764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=9103337857227480764' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/9103337857227480764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/9103337857227480764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/pengapuran-tanah-asam.html' title='Pengapuran Tanah Asam'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-2219230284163126263</id><published>2008-07-30T01:30:00.001-07:00</published><updated>2008-09-25T06:15:30.660-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bandeng'/><title type='text'>Budidaya BANDENG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuO1GcohGI/AAAAAAAAAOA/JZpI0lcMqKc/s1600-h/lif-029.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuO1GcohGI/AAAAAAAAAOA/JZpI0lcMqKc/s200/lif-029.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249946833545364578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;I. Pendahuluan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ikan bandeng merupakan adalah satu jenis ikan penghasil protein hewani yang tinggi. Usaha intensifikasi budidaya perlu dilakukan karena rendahnya produktivitas bandeng dengan budidaya tradisional. Peningkatan sistem budidaya juga harus diikuti dengan penggunaan teknologi baru.&lt;br /&gt;  PT. NATURAL NUSANTARA  memberikan teknologi yang diperlukan dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;II. Sifat Biologis.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bandeng termasuk golongan ikan herbivora , yaitu bangsa ikan yang mengkonsumsi tumbuhan. Mampu mencapai berat rata-rata 0,6 kg pada usia 5 - 6 bulan dengan pemeliharaan yang intensif.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;III. Penyediaan Benih. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Usaha penyediaan benih (nener) secara kontinyu dengan mutu yang baik dilakukan dengan sistem pembenihan yang intensif pada kolam-kolam khusus, yaitu kolam pematangan induk, pemijahan, peneneran dan kolam pembsaran. Dalam pembenihan bandeng langkah yang dilakukan adalah :&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;1. Pemilihan induk yang unggul &lt;/em&gt;. Induk yang unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada keturunannya, Ciri-cirinya  :&lt;br /&gt;  - bentuk  normal, perbandingan panjang dan berat ideal.&lt;br /&gt;  -  ukuran  kepala  relatif  kecil,  diantara  satu  peranakan pertumbuhannya paling cepat.&lt;br /&gt;  -  susunan  sisik  teratur,  licin,  mengkilat,  tidak ada luka.&lt;br /&gt;  -  gerakan lincah dan normal.&lt;br /&gt;  -  umur antara 4  5 tahun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;2. Merangsang  pemijahan&lt;/em&gt;.  Kematangan  gonad  dapat dipercepat dengan penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.`&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;3. Memijahkan. &lt;/em&gt;Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah matang sel sperma dan sel telurnya agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi diluar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;4. Penetasan.&lt;/em&gt; Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 - 26 jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva yang masih mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;5. Merawat benih.&lt;/em&gt; Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener . Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mempu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air. Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dengan NASA dengan dosis 2 - 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain, vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;IV. Pembesaran.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindahkan ke kolam pembesaran. Teknis pembesaran bandeng meliputi beberapa hal, yaitu :&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;1. Persiapan lahan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;  Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air. kegiatan yang dilakukan selama persiapan lahan adalah :&lt;br /&gt;- Pencangkulan dan pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu dengan menjadi gemburnya tanah, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.&lt;br /&gt;- Pengapuran. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 - 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran karena penimbunan dan pembusukan bahan organik selama budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.&lt;br /&gt;- Pemupukan. Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air (porous). Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, dan asam-asam organik utama memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.&lt;br /&gt;- Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 - 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;2. Pemindahan nener.&lt;/em&gt; Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) dan kecerahan sedalam 30 - 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam pembesaran dengan hati-hati dengan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;3. Pemberian Pakan.&lt;/em&gt; Sesuai dengan sifat bandeng yang termasuk hewan herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah lumut, ganggang dan klekap. Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dengan standar nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal dengan kadar protein .minimal 25 - 28 %.&lt;br /&gt;Sebagai hewan herbivora, unsur tumbuhan dalam pakan memang sangat penting,. Oleh karena itu, sebaiknya bahan baku unsur protein harus didominasi dari sumber tumbuhan atau nabati dari tepung kedelai atau bungkil kacang tanah. Sebagai acuan pemberian pakan adalah :&lt;br /&gt;  Jumlah pakan 5 -  7% dari berat badan.&lt;br /&gt;  Waktu pemberian 3 - 5 kali sehari.&lt;br /&gt;Penambahan NASA pada pakan buatan merupakan pilihan yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh bandeng. NASA mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin akan menambah kandungan nutrisi pakan. Dosis pencampuran NASA dengan pakan buatan adalah 2 - 5 cc/kg pakan dengan cara :&lt;br /&gt;  1. Timbang pakan sesuai dengan kebutuhan bandeng.&lt;br /&gt;  2. Basahi  pakan  dengan  sedikit  air agar pencampuran dengan NASA dapat merata.&lt;br /&gt;  3. Campurkan NASA sesuai jumlah pakan yang diberikan dengan dosis 2 -  5 cc/kg pakan.&lt;br /&gt;  4. Pakan siap untuk diberikan.&lt;br /&gt;  Pemberian pakan dengan menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam, agar seluruh bandeng dapat pakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;V. Pengendalian hama dan Penyakit. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Penyakit penting yang sering menyerang bandeng adalah :&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;1. Pembusukan sirip,&lt;/em&gt; disebabkan oleh bakteri. Gejalanya sirip membusuk dari bagian tepi.&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;2. Vibriosis&lt;/em&gt;. Disebabkan oleh bakteri Vibriosis sp , gejalanya nafsu makan turun, pembusukan sirip, dan bagian perut bengkak oleh cairan.&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;3. Penyakit oleh Protozoa.&lt;/em&gt; Gejalanya nafsu makan hilang, mata buta, sisik terkelupas, insang rusak, banyak berlendir.&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;4. Penyakit oleh cacing renik.&lt;/em&gt; Sering disebabkan oleh cacing Diploctanum yang menyerang bagian insang sehingga menjadi pucat dan berlendir.&lt;br /&gt;Penyakit dari bakteri, parasit dan jamur disebabkan lingkungan yang buruk, dan penurunan daya tahan tubuh ikan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh tingginya timbunan bahan organik dan pencemaran lingkungan dari aliran sungai.. Bahan organik dan kotoran akan membusuk dan manghasilkan gas-gas yang berbahaya. Ketahanan tubuh ikan ditentukan konsumsi nutrisinya. Maka cara pengendalian penyakit harus menitikberatkan pada kedua faktor tersebut. Untuk mengatasi penurunan kualitas lingkungan dapat dilakukan perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 yang mengandung unsur mineral dan asam-asam organik penting yang mampu menetralkan berbagai gas berbahaya hasil pembusukan kotoran dalam kolam dan unsur mineral akan menyuburkan plankton sebagai pakan alami. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dalam jumlah yang ideal, perlu diberikan pakan dengan standar protein yang sesuai serta dengan penambahan/pencampuran NASA pada pakan buatan. NASA dengan kandungan mineral-mineral penting, vitamin, asam organic, protein dan lemak akan menambah dan melengkapi nutrisi pakan, sehingga ketahanan tubuh untuk hidup dan berkembang selalu tercukupi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-2219230284163126263?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/2219230284163126263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=2219230284163126263' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2219230284163126263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2219230284163126263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-bandeng.html' title='Budidaya BANDENG'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuO1GcohGI/AAAAAAAAAOA/JZpI0lcMqKc/s72-c/lif-029.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-1761194085431492139</id><published>2008-07-30T01:29:00.002-07:00</published><updated>2008-09-25T06:17:38.822-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='udang'/><title type='text'>Budidaya UDANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuPN0dksPI/AAAAAAAAAOI/OEVqBuoYFDE/s1600-h/lif-030.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuPN0dksPI/AAAAAAAAAOI/OEVqBuoYFDE/s200/lif-030.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249947258214199538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;I. Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Budidaya udang windu di Indonesia dimulai pada awal tahun 1980-an, dan mencapai puncak produksi pada tahun 1985-1995. Sehingga pada kurun waktu tersebut udang windu merupakan penghasil devisa terbesar pada produk perikanan. Selepas tahun 1995 produksi udang windu mulai mengalami penurunan. Hal itu disebabkan oleh penurunan mutu lingkungan dan serangan penyakit. Melihat kondisi tersebut, PT. NATURAL NUSANTARA merasa terpanggil untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut dengan produk-produk yang berprinsip kepada Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;II. Teknis Budidaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Budidaya udang windu meliputi beberapa faktor, yaitu :&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.1. Syarat Teknis &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Lokasi yang cocok untuk tambak udang yaitu pada daerah pantai yang mempunyai tanah bertekstur liat atau liat berpasir yang mudah dipadatkan sehingga mampu menahan air dan tidak mudah pecah.&lt;br /&gt;- Air yang baik yaitu air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26 - 300C dan bebas dari pencemaran bahan kimia berbahaya.&lt;br /&gt;  - Mempunyai     saluran   air   masuk/inlet    dan    saluran   air keluar/outlet  yang terpisah.&lt;br /&gt;  - Mudah  mendapatkan  sarana  produksi  yaitu  benur,  pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain.&lt;br /&gt;  - Pada tambak yang intensif harus tersedia aliran listrik dari PLN atau mempunyai Generator sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.2. Tipe  Budidaya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Berdasarkan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya, tipe budidaya dibedakan menjadi :&lt;br /&gt;  - Tambak Ekstensif atau tradisional.&lt;br /&gt;Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur.&lt;br /&gt;  - Tambak Semi Intensif.&lt;br /&gt;Lokasi tambak sudah pada daerah terbuka, bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3 ha/petakan), padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.&lt;br /&gt;  - Tambak Intensif.&lt;br /&gt;Lokasi di daerah yang khusus untuk tambak dalam wilayah yang luas, ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan udang, padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan yang baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.3.  Benur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;. Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji kualitas benur dapat dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit. Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.4. Pengolahan Lahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Pengolahan lahan, meliputi :&lt;br /&gt;- Pengangkatan lumpur. Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.&lt;br /&gt;- Pembalikan Tanah. Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.&lt;br /&gt;- Pengapuran. Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 1 ton/ha.&lt;br /&gt;  - Pengeringan. Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.&lt;br /&gt;- Perlakuan pupuk TON ( Tambak Organik Nusantara ). Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik atau masih baru dan 10 botol TON untuk areal tambak yang sudah rusak. Caranya masukkan sejumlah TON ke dalam air, kemudian aduk hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.5. Pemasukan Air&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.6. Penebaran Benur.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :&lt;br /&gt;- Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.&lt;br /&gt;- Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.&lt;br /&gt;- Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.&lt;br /&gt;- Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.7. Pemeliharaan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan TON dengan dosis 1 - 2 botol TON/ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.&lt;br /&gt;Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakuan TON.&lt;br /&gt;Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan TON 1-2 botol/ha. Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.8. Panen.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 - 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.&lt;br /&gt;Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;III. Pakan Udang.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet. Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.&lt;br /&gt;  Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.&lt;br /&gt;  a. Umur 1-10 hari pakan 01&lt;br /&gt;  b. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02&lt;br /&gt;  c. Umur 16-30 hari pakan 02&lt;br /&gt;  d. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03&lt;br /&gt;  e. Umur 36-50 hari pakan 03&lt;br /&gt;  f. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S&lt;br /&gt;  (jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).&lt;br /&gt;g. Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.&lt;br /&gt;Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan pertumbuhan udang, perlu penambahan nutrisi lengkap dalam pakan. Untuk itu, pakan harus dicampur dengan POC NASA yang mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin dengan dosis 5 cc/kg pakan untuk umur dibwah 60 hari dan setelah itu 10 cc/kg pakan hingga panen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;IV. Penyakit.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Beberapa penyakit yang sering menyerang udang adalah ;&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;1. Bintik Putih.&lt;/em&gt; Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalan budidaya udang. Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang dalam satu kolam dapat mati. Gejalanya : jika udang masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan jika menabrak tanggul langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Virus dapat berkembang biak dan menyebar lewat inang, yaitu kepiting dan udang liar, terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya adalah dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolam budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar udang tidak stress dan daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap mampu hidup sampai cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak tersebut tambak perlu dipupuk dengan TON.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;2. Bintik Hitam/Black Spot.&lt;/em&gt; Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda yang nampak yaitu terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga gejala lain yang tampak yaitu adanya kerusakan alat tubuh udang. Cara mencegah : dengan selalu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;3. Kotoran  Putih/mencret.&lt;/em&gt; Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran dan gas amoniak dalam tambak. Gejala : mudah dilihat, yaitu adanya kotoran putih di daerah pojok tambak (sesuai arah angin), juga diikuti dengan penurunan nafsu makan sehingga dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kematian. Cara mencegah : jaga kualitas air dan dilakukan pengeluaran kotoran dasar tambak/siphon secara rutin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;4. Insang  Merah.&lt;/em&gt; Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan penebaran kapur pada kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;5. Nekrosis. &lt;/em&gt;Disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri dalam air tambak. Gejala yang nampak yaitu adanya kerusakan/luka yang berwarna hitam pada alat tubuh, terutama pada ekor. Cara mengatasinya adalah dengan penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah perlakuan TON 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera melakukan ganti kulit (Molting) dengan pemberian saponen atau dengan pengapuran.&lt;br /&gt;Penyakit pada udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam budidaya. Oleh karena itu perlakuan TON sangat diperlukan baik pada saat pengolahan lahan maupun saat pemasukan air baru.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-1761194085431492139?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/1761194085431492139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=1761194085431492139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1761194085431492139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1761194085431492139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-udang.html' title='Budidaya UDANG'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuPN0dksPI/AAAAAAAAAOI/OEVqBuoYFDE/s72-c/lif-030.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-8348115079967330427</id><published>2008-07-30T01:29:00.001-07:00</published><updated>2008-09-25T06:21:32.672-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lele'/><title type='text'>Budidaya IKAN LELE</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuQQYlfgqI/AAAAAAAAAOQ/KDkEBCT3Z2g/s1600-h/lif-048.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuQQYlfgqI/AAAAAAAAAOQ/KDkEBCT3Z2g/s200/lif-048.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249948401782456994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;I. Pendahuluan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat, daging empuk, duri teratur dan dapat disajikan dalam berbagai macam menu masakan. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu petani lele dengan paket produk dan teknologi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;II. Pembenihan Lele.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele mempunyai prospek yang bagus dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;III. Sistem Budidaya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;1. Sistem Massal.&lt;/em&gt; Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;2. Sistem Pasangan.&lt;/em&gt; Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;IV. Tahap Proses Budidaya.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;A. Pembuatan Kolam.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;Kolam tandon.&lt;/em&gt; Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;Kolam pemeliharaan induk&lt;/em&gt;. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.&lt;br /&gt;  &lt;em&gt;Kolam Pemijahan.&lt;/em&gt; Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.&lt;br /&gt;Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;B. Pemilihan Induk&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Induk&lt;strong&gt; jantan&lt;/strong&gt; mempunyai tanda :&lt;br /&gt;  - tulang kepala berbentuk pipih&lt;br /&gt;  - warna lebih gelap&lt;br /&gt;  - gerakannya lebih lincah&lt;br /&gt;  - perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung&lt;br /&gt;  - alat kelaminnya berbentuk runcing.&lt;br /&gt;  Induk &lt;strong&gt;betina &lt;/strong&gt;bertanda :&lt;br /&gt;  - tulang kepala berbentuk cembung&lt;br /&gt;  - warna badan lebih cerah&lt;br /&gt;  - gerakan lamban&lt;br /&gt;  - perut mengembang lebih besar daripada punggung  alat kelamin berbentuk bulat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;C. Persiapan Lahan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) &lt;/strong&gt;meliputi :&lt;br /&gt;  - &lt;em&gt;Pengeringan.&lt;/em&gt; Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.&lt;br /&gt;  - &lt;em&gt;Pengapuran.&lt;/em&gt; Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.&lt;br /&gt;  - &lt;em&gt;Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara)&lt;/em&gt;. untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.&lt;br /&gt;  - &lt;em&gt;Pemasukan Air&lt;/em&gt;. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;Pada tipe kolam berupa bak&lt;/strong&gt;, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :&lt;br /&gt;  - Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.&lt;br /&gt;- Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;D. Pemijahan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;E. Pemindahan. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Cara pemindahan :&lt;br /&gt;  - kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.&lt;br /&gt;  - siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.&lt;br /&gt;  - samakan suhu pada kedua kolam&lt;br /&gt;  - pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.&lt;br /&gt;- pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;F. Pendederan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 - 7 cm, 7 - 9 cm dan 9 - 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;V. Manajemen Pakan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Pakan anakan lele berupa :&lt;br /&gt;- pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 - 4 hari.&lt;br /&gt;  - Pakan buatan untuk umur diatas 3 - 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.&lt;br /&gt;- Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;VI. Manajemen Air. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :&lt;br /&gt;  - air harus bersih&lt;br /&gt;  - berwarna hijau cerah&lt;br /&gt;  - kecerahan/transparansi sedang (30 - 40 cm).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;   Ukuran kualitas air secara kimia :&lt;br /&gt;  - bebas senyawa beracun seperti amoniak&lt;br /&gt;  - mempunyai suhu optimal (22 - 26 0C).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;VI. Manajemen Kesehatan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-8348115079967330427?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/8348115079967330427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=8348115079967330427' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/8348115079967330427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/8348115079967330427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-ikan-lele.html' title='Budidaya IKAN LELE'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuQQYlfgqI/AAAAAAAAAOQ/KDkEBCT3Z2g/s72-c/lif-048.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-6645923629515200503</id><published>2008-07-30T01:28:00.002-07:00</published><updated>2008-07-30T01:29:23.628-07:00</updated><title type='text'>Budidaya RUMPUT LAUT</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-6645923629515200503?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/6645923629515200503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=6645923629515200503' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6645923629515200503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6645923629515200503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-rumput-laut.html' title='Budidaya RUMPUT LAUT'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-4138669186156687049</id><published>2008-07-30T01:28:00.001-07:00</published><updated>2008-07-30T01:28:44.100-07:00</updated><title type='text'>Ternak AYAM PEDAGING / BROILER</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-4138669186156687049?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/4138669186156687049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=4138669186156687049' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/4138669186156687049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/4138669186156687049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/ternak-ayam-pedaging-broiler.html' title='Ternak AYAM PEDAGING / BROILER'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-4398641513517335707</id><published>2008-07-30T01:26:00.000-07:00</published><updated>2008-07-30T01:28:03.232-07:00</updated><title type='text'>Ternak SAPI POTONG</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-4398641513517335707?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/4398641513517335707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=4398641513517335707' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/4398641513517335707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/4398641513517335707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/ternak-sapi-potong.html' title='Ternak SAPI POTONG'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-8219303050462215631</id><published>2008-07-30T01:25:00.002-07:00</published><updated>2008-07-30T01:26:25.684-07:00</updated><title type='text'>Budidaya KACANG TANAH</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-8219303050462215631?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/8219303050462215631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=8219303050462215631' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/8219303050462215631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/8219303050462215631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-kacang-tanah.html' title='Budidaya KACANG TANAH'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-7929082362349790163</id><published>2008-07-30T01:25:00.001-07:00</published><updated>2008-07-30T01:25:51.923-07:00</updated><title type='text'>Budidaya MELON</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-7929082362349790163?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/7929082362349790163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=7929082362349790163' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7929082362349790163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7929082362349790163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-melon.html' title='Budidaya MELON'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-5789665590331020228</id><published>2008-07-30T01:24:00.004-07:00</published><updated>2008-07-30T01:25:17.851-07:00</updated><title type='text'>Budidaya DURIAN</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-5789665590331020228?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/5789665590331020228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=5789665590331020228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/5789665590331020228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/5789665590331020228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-durian.html' title='Budidaya DURIAN'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-865584689388519818</id><published>2008-07-30T01:24:00.003-07:00</published><updated>2008-07-30T01:24:40.116-07:00</updated><title type='text'>Budidaya TERONG</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-865584689388519818?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/865584689388519818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=865584689388519818' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/865584689388519818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/865584689388519818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-terong.html' title='Budidaya TERONG'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-6636863723825704363</id><published>2008-07-30T01:24:00.001-07:00</published><updated>2008-07-30T01:24:18.986-07:00</updated><title type='text'>Budidaya ANGGUR</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-6636863723825704363?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/6636863723825704363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=6636863723825704363' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6636863723825704363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6636863723825704363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-anggur.html' title='Budidaya ANGGUR'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-3928209295419249714</id><published>2008-07-30T01:23:00.001-07:00</published><updated>2008-07-30T01:24:00.863-07:00</updated><title type='text'>Budidaya KARET</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-3928209295419249714?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/3928209295419249714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=3928209295419249714' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3928209295419249714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3928209295419249714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-karet.html' title='Budidaya KARET'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-664542581395567113</id><published>2008-07-30T01:22:00.002-07:00</published><updated>2008-07-30T01:23:16.052-07:00</updated><title type='text'>Budidaya KENTANG</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-664542581395567113?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/664542581395567113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=664542581395567113' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/664542581395567113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/664542581395567113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-kentang.html' title='Budidaya KENTANG'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-5020788478622029064</id><published>2008-07-30T01:22:00.001-07:00</published><updated>2008-07-30T01:22:32.411-07:00</updated><title type='text'>Budidaya MANGGA</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-5020788478622029064?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/5020788478622029064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=5020788478622029064' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/5020788478622029064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/5020788478622029064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-mangga.html' title='Budidaya MANGGA'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-3779385477546486321</id><published>2008-07-30T01:21:00.001-07:00</published><updated>2008-09-25T06:12:06.201-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilam'/><title type='text'>Budidaya NILAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuNnNchDWI/AAAAAAAAAN4/h9wQzKNFvck/s1600-h/lif-007.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuNnNchDWI/AAAAAAAAAN4/h9wQzKNFvck/s200/lif-007.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249945495394127202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;A. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Minyak nilam memberikan sumbangan cukup besar dalam penghasil devisa Negara di antara minyak atsiri lainnya. Namun produksi minyak nilam di Indonesia masih terbatas dan produksinya belum optimal. PT Natural Nusantara berusaha meningkatkan produksi minyak nilam secara kuantitas, kualitas dan kelestarian lingkungan (Aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. EKOLOGI &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman nilam dapat tumbuh di dataran rendah maupun tinggi dengan ketinggian optimal 10-400 mdpl, curah hujan antara 2500 - 3500 mm/th dan merata sepanjang tahun, suhu 24 - 280C, kelembaban lebih dari 75%, intensitas penyinaran matahari cukup, tanah subur dan gembur kaya akan humus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. PEMBIBITAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Stek diambil dari batang atau cabang yang sudah mengayu dari bagian tengah, berdiameter 0,8-1,0 cm, + 15-23 cm dan paling sedikit 3-5 mata tunas&lt;br /&gt;- Siapkan bedengan persemaian, ukuran lebar 1,5 m, tinggi 30 cm dan panjang tergantung kebutuhan, parit selebar 30-40 cm dan dalamnya + 50 cm&lt;br /&gt;- Tanah bedengan diolah sampai gembur dicampur pasir dengan perbandingan 2:1 dan selanjutnya diberi pupuk kandang matang yang telah dicampur Natural GLIO (1 sachet Natural GLIO + 25-50 kg Pupuk Kandang)&lt;br /&gt;- Buat naungan menghadap ke timur dengan ketinggian 180 cm timur dan 120 cm barat, letakkan daun kelapa atau alang-alang di atas para-para.&lt;br /&gt; - Stek ditanam posisi miring, bersudut 450 sedalam 10 cm dan jarak tanam 10 x 10 cm&lt;br /&gt; - Siram dengan POC NASA (2-3 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per 10 - 15 liter air.&lt;br /&gt;- Setelah umur 3-4 minggu bibit sudah siap dipindahkan ke lapangan (2-4 hari) sebelum bibit dipindah semprot POC NASA (3-4 tutup/tangki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. PENGOLAHAN LAHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Lahan dibersihkan dari jenis rumput-rumputan, kayu-kayuan dan semak belukar.&lt;br /&gt; - Tanah dicangkul atau dibajak serta digaru&lt;br /&gt;- Buat parit-parit pembuangan air lebar 30-40 cm dan dalamnya 50 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. JARAK TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Dataran rendah yang tanahnya subur 100 x 100 cm, tanah yang kandungan liatnya tinggi 50 x 100 cm&lt;br /&gt; - Pada tanah lipatit, 75 x 75 cm&lt;br /&gt;- Tanah berbukit dengan mengikuti garis contour 50 x 100 cm atau 30 x 100 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; ~ Secara tidak Langsung&lt;br /&gt;- Bibit stek dicabut dari persemaian umur 3-4 minggu, bila akar terlalu panjang sebaiknya dipotong supaya tidak mudah terserang busuk akar. - - - Setiap lubang tanam ditanami 1-2 bibit stek&lt;br /&gt; ~Secara Langsung&lt;br /&gt; - Tanam stek secara langsung di lahan 2-3 stek per lubang tanam&lt;br /&gt;Catatan : Akan lebih baik pada penanaman secara langsung, sebelum di tanam stek direndam dulu dalam POC NASA (1-2 tutup) + HORMONIK ( 1 tutup ) per 5 -10 liter.&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;G. PEMUPUKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Pemupukan dengan cara melingkar di sekililing pangkal tanaman&lt;br /&gt; Dosis pupuk makro yang digunakan  + adalah :&lt;br /&gt; ( lihat tabel disamping ) &lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;Urea&lt;br /&gt;     kg/ha&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;DS/TSP&lt;br /&gt;     kg/ha&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;KCl&lt;br /&gt;     Kg/ha&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;NASA&lt;br /&gt;     btl/ha&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;HRN&lt;br /&gt;     btl/ha&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;Saat Tanam&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;25 - 50     &lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;3 - 5&lt;br /&gt;     kocor&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt; -&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;1 bulan&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;37,5&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;20&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;2 - 5&lt;br /&gt;     semprot&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt; -&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;1 mgg setelah panen I&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;56,25&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;   -&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;30&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;2,5 – 5&lt;br /&gt;         semprot&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;5 – 10&lt;br /&gt;         semprot&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;1 mgg&lt;br /&gt;     Setelah&lt;br /&gt;     Panen II&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;56,25&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;   -&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;30&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;2,5 – 5&lt;br /&gt;         semprot&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;5 – 10&lt;br /&gt;         semprot&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;TOTAL&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;150&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;25 - 50&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="46"&gt;&lt;br /&gt;80&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;10-20&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;br /&gt;10 - 20&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Siramkan SUPER NASA yang telah dicampur air, merata di atas bedengan, dosis ± 1 botol/1000  m2 dengan cara :&lt;br /&gt;- alternatif 1 ; 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt; - alternatif  2 ; setiap 1 gembor  (10  lt)  beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan.&lt;br /&gt;POC NASA disemprotkan umur 20, 30, 50 dan 60 hari setelah tanam dengan dosis 4 - 5 tutup/tangki atau POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;H. PENYULAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyulaman dilakukan satu bulan setelah tanam untuk mengganti tanaman yang mati atau kurang normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. PENYIANGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan 2 bulan setelah tanam atau saat tanaman mencapai tinggi 20-30 cm dan cabang bertingkat dengan radius 20 cm. Selanjutnya setiap 3 bulan sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;J. PEMANGKASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Penjarangan dan pemangkasan dilakukan pada umur 3 bulan setelah tanam. Penjarangan dengan mencabut tanaman yang jaraknya terlalu rapat. - Pemangkasan pada tanaman yang terlalu rimbun dan menutupi cabang lainnya, yaitu pada cabang dari tingkat tiga ke atas. Untuk mempercepat tumbuhnya tunas baru, sebaiknya dalam tiap rumpun dibiarkan satu cabang saja yang tumbuh dan semprot dengan POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1-2 tutup) setelah pemangkasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;K. PEMBUMBUNAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan setelah panen, cabang-cabang yang ditinggalkan setelah panen dan letaknya dekat dengan tanah ditimbun di dekat ujungnya setinggi 10-15 cm. Sedang cabang-cabang yang letaknya jauh dari tanah dipatahkan di bagian ujungnya, tetapi tidak terputus dari batangnya, sesudah itu bagian yang patah ditimbun dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;L. PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. H a m a&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;a. Ulat Penggulung Daun (Pachyzaneba stutalis)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ulat hidup dalam gulungan daun muda, sambil memakan daun yang tumbuh, serangan berat hanya tinggal tulang-tulang daun saja. Pengendalian : kumpulkan dan musnahkan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Belalang ( Orthoptera )&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hama ini memakan daun, sehingga tanaman menjadi gundul. Serangan berat batang dimakan akhirnya mati. Pengendalian : sanitasi lingkungan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Criket Pemakan Daun (Gryllidae)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Memakan daun muda sehingga daun berlubang-lubang dan produksi turun. Pengendalian : sanitasi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;a. Budok (hoprosep)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya adalah virus, gejala daun keriting, berwarna abu-abu dan rontok, terbentuk benjolan-benjolan pada batang sampai akar bila dipijit baunya tidak enak. Penyakit ini tumbuh setelah musim kemarau dan disebabkan oleh pemangkasan yang terlalu berat saat panen. Pengendalian : sanitas kebun, Alat-alat kerja steril.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Penyakit Busuk Batang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya jamur Fusarium sp. dan menyerang pada akar atau batang. Batang terserang akan mengerut, warna berubah coklat lalu menghitam disekeliling batang dan akhirnya mati. Pengendalian : kurangi kelembaban dengan cara dipangkas, hindari luka, gunakan Natural GLIO + SUPERNASA. Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, dapat digunakan pestisida kimia sesuai anjuran. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml ( ½ tutup) pertangki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;M. PANEN DAN PASCA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Panen dapat dilakukan pada umur 6 - 8 bulan setelah tanam&lt;br /&gt; - Semua bagian tanaman nilam, yaitu akar, batang, cabang dan daun mengandung minyak atsiri&lt;br /&gt; - Alat yang digunakan sabit, gunting, atau parang yang tajam dan bersih&lt;br /&gt;- Panen pertama, bagian yang boleh dipangkas adalah cabang-cabang dari tingkat dua ke atas, sedang cabang-cabang tingkat pertama ditinggalkan&lt;br /&gt;- Selesai panen pertama, bila cabang-cabang pertama jauh dari tanah dirundukkan tetapi tidak putus kemudian ditimbun tanah pada setiap tunasnya&lt;br /&gt;- Setelah tanaman umur 9 bulan, tanaman dapat dipanen kedua kalinya dengan cara seperti panen pertama, sehingga akan diperoleh cabang-cabang baru dan anakan baru.&lt;br /&gt; - Demikian selanjutnya sampai panenan pada bulan ke-12, 15, 18, 21, 24 , dst&lt;br /&gt;- Panenan daun nilam dipotong-potong + 3-5 cm kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar air 15 % kemudian di suling.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-3779385477546486321?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/3779385477546486321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=3779385477546486321' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3779385477546486321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3779385477546486321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-nilam.html' title='Budidaya NILAM'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_usq4W0coyAM/SNuNnNchDWI/AAAAAAAAAN4/h9wQzKNFvck/s72-c/lif-007.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-3123638272696824176</id><published>2008-07-30T01:20:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T00:49:59.674-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='semangka'/><title type='text'>Budidaya SEMANGKA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJazNG4Vu3I/AAAAAAAAANw/Ks8q6y2tKdA/s1600-h/lif-003+semangka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJazNG4Vu3I/AAAAAAAAANw/Ks8q6y2tKdA/s400/lif-003+semangka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230565055003999090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;p valign="top" align="justify"&gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tingkat dan kualitas produksi semangka di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena tanah yang keras, miskin unsur hara dan hormon, pemupukan yang tidak berimbang, serangan hama dan penyakit tanaman, pengaruh cuaca /iklim, serta teknis budidaya petani.&lt;br /&gt;PT. Natural Nusantara berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p valign="top" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2.1. Iklim&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Curah hujan ideal 40-50 mm/bulan. Seluruh areal pertanaman perlu sinar matahari sejak terbit sampai tenggelam. Suhu optimal ± 250 C. Semangka cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2.2. Media Tanam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tanah cukup gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan yang telah dikeringkan. Cocok pada jenis tanah geluh berpasir. Keasaman tanah (pH) 6 - 6,7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.1. Pembibitan&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;3.1.1. Penyiapan Media Semai&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-50 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Diamkan + 1 minggu di tempat teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).&lt;br /&gt;- Campurkan tanah halus (telah diayak) 2 bagian atau 2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian atau 1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang (1-3 kg) .Masukkan media semai ke dalam polybag kecil 8x10 cm sampai terisi hingga 90%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.1.2.  Teknik Perkecambahan Benih&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Benih dimasukkan ke dalam kain lalu diikat, kemudian direndam dalam ramuan : 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 sendok POC NASA (direndam 8-12 jam). Benih dalam ikatan diambil, dibungkus koran kemudian diperam 1-2 hari. Jika ada yang berkecambah diambil untuk disemaikan dan jika kering tambah air dan dibungkus kain kemudian dimasukkan koran lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.1.3.  Semai Benih dan Pemeliharaan Bibit&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Media semai disiram air bersih secukupnya. Benih terpilih yang calon akarnya sudah sepanjang 2-3 mm, langsung disemai dalam polybag sedalam 1-1,5 cm.&lt;br /&gt;- Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh. Diberi perlindungan plastik transparan, salah satu ujung/pinggirnya terbuka.&lt;br /&gt;- Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, dilakukan rutin setiap 3 - 4 hari sekali. Penyiraman 1-2 kali sehari. Pada umur 12-14 hari bibit siap ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.2.1. Pembukaan Lahan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pembajakan sedalam + 30 cm, dihaluskan dan diratakan. Bersihkan lahan dari sisa-sisa perakaran dan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.2.2. Pembentukan Bedengan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lebar bedengan 6-8 m, tinggi bedengan minimum 20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.2.3. Pengapuran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH &gt;6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.2.4. Pemupukan Dasar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;a. Pupuk kandang 600 kg/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam.&lt;br /&gt;b. Pupuk anorganik berupa TSP (200 kg/ha), ZA (140 kg/ha) dan KCl (130 kg/ha).&lt;br /&gt;c. Siramkan POC NASA yang telah dicampur air secukupnya diatas bedengan dengan dosis + 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika POC NASA digantikan SUPER NASA, dosis 1-2 botol/1000 m2 dengan cara :&lt;br /&gt;Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt;Alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.2.5.  Lain-lain&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bedengan perlu disiangi, disiram dan diberi plastik mulsa dengan lebar 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuhnya tanaman liar. Di atas mulsa dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm untuk perambatan semangka dan peletakan buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.3.  Teknik Penanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.3.1. Pembuatan Lubang Tanaman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan Satu minggu sebelum penanaman dengan kedalaman 8-10 cm. Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.3.2.  Waktu  Penanaman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penanaman sebaiknya pagi atau sore hari kemudian bibit disiram hingga cukup basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.4.  Pemeliharaan Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.4.1.   Penyulaman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya dilakukan 3 - 5 hari setelah tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.4.2.  Penyiangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak. Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder. Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.4.3.  Perempelan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan perempelan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.4.4.  Pengairan dan Penyiraman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pengairan melalui saluran diantara bedengan atau digembor dengan interval 4-6 hari. Volume pengairan tidak boleh berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.5. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;   &lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;       &lt;td rowspan="2" valign="top" width="156"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;Waktu&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td colspan="3" valign="top" width="216"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;Dosis Pupuk Makro (kg/ ha)&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="72"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;ZA&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="66"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;TSP&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="78"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;KCl&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="156"&gt;&lt;h3&gt;Susulan    I (3 hari)&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="72"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;40&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="66"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;-&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="78"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;40&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="156"&gt;&lt;h3&gt;Susulan    II Daun 4-6 helai&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="72"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;120&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="66"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;85&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="78"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;80&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="156"&gt;&lt;h3&gt;Susulan    III Batang 45–55 cm&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="72"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;170&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="66"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;-&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="78"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;30&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="156"&gt;&lt;h3&gt;Susulan    IV Tanaman bunga&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="72"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;130&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="66"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;-&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="78"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;30&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="156"&gt;&lt;h3&gt;Susulan    V Buah masih pentil&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="72"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;80&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="66"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;-&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td valign="top" width="78"&gt;&lt;h3 align="center"&gt;30&lt;/h3&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="156"&gt; &lt;strong&gt;POC NASA ( per ha )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;      Mulai umur 1 minggu –  6 atau 7 minggu&lt;br /&gt;        &lt;h2&gt; &lt;/h2&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td colspan="3" valign="top" width="216"&gt;POC NASA disemprotkan ke    tanaman &lt;u&gt;alternatif 1&lt;/u&gt;:  6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn    dosis  4 tutup botol/ tangki&lt;br /&gt;            &lt;strong&gt;&lt;u&gt;alternatif    2&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;: 4    kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis     6 tutup botol/ tangki&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;   &lt;em&gt;3.4.6. Waktu Penyemprotan HORMONIK&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Semprotkan HORMONIK sejenis ZPT/hormon alami. Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-4 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan pada umur 21 - 70 hari, interval 7 hari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.4.7. Pemeliharaan Lain&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pilih buah yang cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman, bentuk baik dan tidak cacat. Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas. Semenjak calon buah ± 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidakmerataan terkena sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.5.1 Hama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Thrips&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas. Cara penularan secara mengembara dimalam hari, menetap dan berkembang biak. Pengendalian: semprotkan Natural BVR atau Pestona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Ulat Perusak Daun&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning, gejala : daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang. Pengendalian: dilakukan penyemprotan Natural Vitura atau Pestona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Tungau&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan berukuran kecil mengisap cairan tanaman. Tandanya, tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun, warna dedaunan akan pucat. Pengendalian: semprot Natural BVR atau Pestona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;d. Ulat Tanah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm, aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun, terutama tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman. Pengendalian: (1) penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya; (2) pengendalian dengan penyemprotan Natural Vitura/Virexi atau Pestona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;e. Lalat Buah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri mempunyai sayap yang transparan berwarna kuning dengan bercak-bercak dan mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan : terdapat bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai), daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar. Pengendalian : membersihkan lingkungan, tanah bekas hama dibalikan dengan dibajak/dicangkul, pemasangan perangkap lalat buah dan semprot Pestona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.5.2. Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Layu Fusarium&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang terlalu lembab). Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan subur. Pengendalian: (1) dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami, (2) pemberian Natural GLIO sebelum atau pada saat tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Bercak Daun&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang. Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu. Pengendalian: seperti pada penyakit layu fusarium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Antraknosa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: seperti penyakit layu fusarium. Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas. Pengendalian: seperti pengendalian penyakit layu fusarium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;d. Busuk Semai&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menyerang pada benih yang sedang disemaikan. Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati. Pengendalian: pemberian Natural GLIO sebelum penyemaian di media semai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;e. Busuk Buah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik. Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan, pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;f. Karat Daun&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman. Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang. Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium.&lt;br /&gt;Catatan : Jika pengendalian hama penyakit menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia. Agar penyemprotan pestisida kimia dapat merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis + 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.6. Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.6.1.Ciri dan Umur Panen&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Umur panen setelah 70-100 hari setelah penanaman. Ciri-cirinya: terjadi perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah tersebut bisa dipetik (dipanen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.6.2.Cara Panen&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pemetikan buah sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah sehingga buah dalam kondisi kering permukaan kulitnya, dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer. Sebaiknya pemotongan buah semangka dilakukan beserta tangkainya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-3123638272696824176?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/3123638272696824176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=3123638272696824176' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3123638272696824176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3123638272696824176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-semangka.html' title='Budidaya SEMANGKA'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJazNG4Vu3I/AAAAAAAAANw/Ks8q6y2tKdA/s72-c/lif-003+semangka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-2692889084827581932</id><published>2008-07-30T01:19:00.002-07:00</published><updated>2008-08-04T00:41:55.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tomat'/><title type='text'>Budidaya TOMAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJayq5MFM9I/AAAAAAAAANo/kPl2OTRZxBY/s1600-h/lif-001+tomat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJayq5MFM9I/AAAAAAAAANo/kPl2OTRZxBY/s400/lif-001+tomat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230564467213153234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani&lt;br /&gt;PT. Natural Nusantara berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan (Aspek K-3), agar petani dapat berkompetisi di era perdagangan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. FASE PRA TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;1. Syarat Tumbuh&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; - Tomat  dapat  ditanam  di dataran rendah/dataran tinggi&lt;br /&gt; - Tanahnya gembur, porus dan subur, tanah liat yang sedikit mengandung pasir dan pH antara 5 - 6&lt;br /&gt; - Curah hujan 750-1250 mm/tahun, curah hujan yang tinggi dapat menghambat persarian.&lt;br /&gt;- Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan tanaman yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak, tetapi juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman dan ini berbahaya bagi tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Pola Tanam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; - Tanaman yang dianjurkan  adalah jagung, padi, sorghum, kubis dan kacang-kacangan&lt;br /&gt;- Dianjurkan tanam sistem tumpang sari atau tanaman sela untuk memberikan keadaan yang kurang disukai oleh organisme jasad pengganggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;3. Penyiapan Lahan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; - Pilih lahan gembur dan subur yang sebelumnya tidak ditanami tomat, cabai, terong, tembakau  dan kentang .&lt;br /&gt; - Untuk mengurangi nematoda dalam tanah genangilah tanah dengan air selama dua minggu&lt;br /&gt; - Bila pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam&lt;br /&gt; - Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal&lt;br /&gt; - Buatlah parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk pembuangan air.&lt;br /&gt; - Berikan pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000 m2 diatas bedengan, aduk  dan ratakan dengan tanah&lt;br /&gt; - Atau jika pakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg / 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di atas bedengan.&lt;br /&gt;- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata diatas bedengan dosis 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika diganti SUPER NASA (dosis ± 1-2 botol/1000 m2 ) dengan cara :&lt;br /&gt;- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt; - alternatif   2  :  setiap  1  gembor   volume  10  lt  diberi    1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan&lt;br /&gt; - Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet yang telah dicampur pupuk kandang (+ 1 minggu) merata di atas bedengan pada sore hari&lt;br /&gt; - Jika pakai Mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari&lt;br /&gt; - Biarkan selama 5-7 hari sebelum tanam&lt;br /&gt; - Buat lubang tanam dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedalam 15 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4. Pemilihan Bibit&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; - Pilih varietas tahan dan jenis Hybryda ( F1 Hybryd )&lt;br /&gt; - Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai)  pindahkan ke lapangan&lt;br /&gt; - Untuk mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada sore sehari sebelum tanam atau pagi harinya (agar lembab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Siapkan media tanam yang merupakan campuran tanah dan pupuk kandang 25 - 30 kg  +  Natural GLIO (1:1)&lt;br /&gt; - Masukkan dalam polibag plastik atau contongan daun pisang atau kelapa&lt;br /&gt; - Sebarlah benih secara merata atau masukkan satu per satu dalam polibag&lt;br /&gt;- Setelah benih berumur 8-10 hari , pilih bibit yang baik, tegar dan sehat dipindahkan dalam bumbunan daun pisang atau dikepeli yang berisi campuran media tanam&lt;br /&gt; - Penyiraman dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah)&lt;br /&gt; - Penyemprotan POC NASA pada umur 10 dan 17 hari dengan dosis 2 tutup/tangki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari Setelah Tanam )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Bedengan sehari sebelumnya diairi ( dilep ) dahulu&lt;br /&gt; - Bibit siap tanam umur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6&lt;br /&gt; - Penanaman sore hari&lt;br /&gt; - Buka polibag plastik&lt;br /&gt; - Benamkan bibit secara dangkal pada batas pangkal batang dan ditimbun dengan tanah di sekitarnya&lt;br /&gt; - Selesai penanaman langsung disiram dengan POC NASA dengan dosis 2-3 tutup per  + 15 liter air&lt;br /&gt;- Sulam tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman yang telah mati, rusak, layu atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru, dibersihkan dan diberi Natural GLIO lalu bibit ditanam&lt;br /&gt;- Pengairan dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), hati-hati jangan sampai berlebihan karena tanaman bisa tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit&lt;br /&gt; - Amati hama seperti ulat tanah dan ulat grayak. Jika ada serangan semprot dengan Natural VITURA&lt;br /&gt;- Amati penyakit seperti penyakit layu Fusarium atau bakteri dan busuk daun , kendalikan dengan menyemprot Natural GLIO dicampur gula pasir perbandingan 1:1. Untuk penyakit Virus, kendalikan vektornya seperti Thrips, kutu kebul (Bemissia tabaci), banci ( Aphis sp.), Kutu persik (Myzus sp.) dan tungau (Tetranichus sp.) dengan menyemprot Natural BVR atau Pestona secara bergantian&lt;br /&gt; - Pasang ajir sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir dengan jarak 10-20 cm dari batang tomat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Jika tanpa mulsa, penyiangan dan pembubunan pada umur 28 HST bersamaan penggemburan dan pemberian pupuk susulan diikuti pengguludan tanaman&lt;br /&gt;- Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu semenjak tanam, diberi pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman (1-2 gram), berikan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian ditutup tanah dan siram dengan air&lt;br /&gt;- Pemupukan kedua dilakukan umur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl (± 5 gr), berikan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan sedalam ± 1 cm kemudian ditutup tanah dan siram dengan air.&lt;br /&gt;- Bila umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk Urea dan KCl lagi (7 gram). Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh ( ± 7 cm).&lt;br /&gt; - Jika pakai Mulsa tidak perlu penyiangan dan pembubunan  serta pupuk susulan diberikan dengan cara dikocorkan&lt;br /&gt; - Penyiraman dilakukan pada pagi atau sore hari&lt;br /&gt;- Amati hama dan penyakit seperti ulat, kutu-kutuan, penyakit layu dan virus, jika terjadi serangan kendalikan seperti pada fase tanam&lt;br /&gt; - Semprotkan POC NASA (4-5 tutup) per tangki atau POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) setiap 7 hari sekali.&lt;br /&gt;- Tanaman yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir dan setiap bertambah tinggi + 20 cm harus diikat lagi agar batang tomat berdiri tegak.&lt;br /&gt;- Pengikatan jangan terlalu erat dengan model angka 8, sehingga tidak terjadi gesekan antara batang dengan ajir yang dapat menimbulkan luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. FASE GENERATIF (30 - 80 HST)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;1. Pengelolaan Tanaman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; - Jika tanpa mulsa penyiangan dan pembubunan kedua dilakukan umur 45-50 hari&lt;br /&gt;- Untuk merangsang pembungaan pada umur 32 HST lakukan perempelan tunas-tunas tidak produktif setiap 5-7 hari sekali, sehingga tinggal 1-3 cabang utama / tanaman&lt;br /&gt;- Perempelan sebaiknya pagi hari agar luka bekas rempelan cepat kering dengan cara; ujung tunas dipegang dengan tangan bersih lalu digerakkan ke kanan-kiri sampai tunas putus. Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting, sedangkan tanaman yang tingginya terbatas perempelan harus hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel sehingga tanaman tidak terlalu pendek&lt;br /&gt; - Ketinggian tanaman dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan buah  mencapai 5-7 buah&lt;br /&gt;- Semprotkan POC NASA dan HORMONIK setiap 7-10 hari sekali dengan dosis 3-4 tutup POC NASA dan 1-2 tutup HORMONIK/tangki. - Agar tidak mudah hilang oleh air hujan dan merata tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Pengamatan Hama dan Penyakit&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Ulat buah (Helicoperva armigera dan Heliothis sp.). Gejala buah berlubang dan kotoran menumpuk dalam buah yang terserang. Lakukan pengumpulan dan pemusnahan buah tomat terserang, semprot dengan PESTONA&lt;br /&gt;- Lalat buah (Brachtocera atau Dacus sp.).Gejala buah busuk karena terserang jamur dan bila buah dibelah akan kelihatan larva berwarna putih. - - Bersifat agravator, yaitu sebagai vektornya penyakit jamur, bakteri dan Drosophilla sp. Kumpulkan dan bakar buah terserang, gunakan perangkap lalat buah jantan (dapat dicampur insektisida)&lt;br /&gt;- Busuk daun (Phytopthora infestans), bercak daun dan buah (Alternaria solani) serta busuk buah antraknose (Colletotrichum coccodes). Jika ada serangan semprot dengan Natural GLIO&lt;br /&gt;- Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami (PESTONA, GLIO, VITURA) belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt; - Busuk ujung buah. Ujung buah tampak lingkaran hitam dan busuk. Ini gejala kekurangan Ca ( Calsium). Berikan Dolomit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. FASE PANEN &amp;amp; PASCA PANEN (80 - 130 HST)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Panen pada umur 90-100 HST dengan ciri; kulit buah berubah dari warna hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua mengering, batang menguning, pada pagi atau sore hari disaat cuaca cerah. Buah dipuntir hingga tangkai buah terputus. Pemuntiran buah dilakukan satu-persatu dan dipilih buah yang siap petik. Masukkan keranjang dan letakkan di tempat yang teduh&lt;br /&gt; - Interval pemetikan 2-3 hari sekali.&lt;br /&gt; - Supaya tahan lama, tidak cepat busuk dan tidak mudah memar, buah tomat yang akan dikonsumsi segar dipanen setengah matang&lt;br /&gt; - Wadah yang baik untuk pengangkutan adalah peti-peti kayu dengan papan bercelah dan jangan dibanting&lt;br /&gt; - Waspadai penyakit busuk buah Antraknose, kumpulkan dan musnahkan&lt;br /&gt; - Buah tomat yang telah dipetik, dibersihkan, disortasi dan di packing lalu diangkut siap untuk konsumsi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-2692889084827581932?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/2692889084827581932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=2692889084827581932' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2692889084827581932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2692889084827581932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-tomat.html' title='Budidaya TOMAT'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJayq5MFM9I/AAAAAAAAANo/kPl2OTRZxBY/s72-c/lif-001+tomat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-6201377964307628303</id><published>2008-07-30T01:19:00.001-07:00</published><updated>2008-08-04T00:39:23.892-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ginseng'/><title type='text'>Budidaya GINGSENG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJayDdMlL_I/AAAAAAAAANg/dhDRZdyh9g8/s1600-h/lif-041+ginseng.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJayDdMlL_I/AAAAAAAAANg/dhDRZdyh9g8/s400/lif-041+ginseng.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230563789684158450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Trend 'back to nature' pada industri farmasi, kosmetika, makanan dan minuman ringan, telah memacu peningkatan permintaan ginseng. Tingginya permintaan tersebut perlu diimbangi dengan teknologi budidaya tanaman yang memenuhi aspek K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian) seperti yang telah diterapkan PT. NATURAL NUSANTARA.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;II. SYARAT TUMBUH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Diutamakan di lahan terbuka. Tanah gembur, kandungan bahan organik tinggi, aerasi dan drainase baik.&lt;br /&gt; - Keasaman (pH) tanah 5,5 - 7,2.&lt;br /&gt; - Curah hujan 1000 -  2500 mm/th.&lt;br /&gt; - Suhu berkisar 20ºC - 33ºC.&lt;br /&gt; - Kelembaban 70% -  90%.&lt;br /&gt; - Ketinggian tempat berkisar 0 - 1.600 dpl. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;III. PENGOLAHAN TANAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Siapkan Natural GLIO (10 kemasan /ha) dicampur pupuk kandang matang (25-50 kg/kemasan). Simpan dalam karung terbuka selama 1-2 minggu.&lt;br /&gt; - Tebarkan dolomite / kapur pertanian (2-4 ton/ha) pada lahan yang masih terbuka paling lambat 2 minggu sebelum tanam.&lt;br /&gt; - Luku dan garu segera setelah dolomit disebarkan. Diamkan sekitar 1 minggu.&lt;br /&gt;- Buat bedengan membujur arah timur-barat, lebar bedengan 100-120 cm, tinggi 40-60 cm. Jarak antar bedengan 40-50 cm. Diamkan sekitar 1 minggu.&lt;br /&gt; - Buat parit mengelilingi lahan lebar 40-50 cm, kedalaman 50-60 cm.&lt;br /&gt; - Setelah 1 minggu, gemburkan permukaan bedengan secukupnya.&lt;br /&gt; - Tebarkan hasil campuran Natural GLIO dan pupuk kandang merata pada permukaan tanah.&lt;br /&gt;- Tambahkan pupuk kandang matang 20-40 ton/ha merata pada permukaan bedengan. Jika tidak ada pupuk kandang, penggunaan POP SUPERNASA, POC NASA dan HORMONIK dapat menggantikannya.&lt;br /&gt;- Siapkan larutan induk POP SUPERNASA (1 botol/3 liter air), aduk hingga larut. Dosis POP SUPERNASA 5 botol/ha jika pakai pupuk kandang sesuai dosis anjuran atau 10 botol/ha jika tidak pakai pupuk kandang. Dari larutan induk POP SUPERNASA 3000 cc atau 3 liter, diambil 200 - 300 cc dicampur dengan 0,25 kg NPK majemuk lalu dilarutkan atau diencerkan dalam 50 liter air.&lt;br /&gt;- Dari hasil 50 liter tersebut siramkan pada permukaan bedengan, caranya pakai gembor 10 liter / ± 8 m panjang bedengan. Atau 200 - 300 cc/lubang tanam.&lt;br /&gt; - Tebarkan hasil campuran Natural GLIO dan pupuk kandang merata di permukaan bedengan. Atau dalam setiap lubang tanam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;IV. PEMBIBITAN DAN PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Diutamakan  pakai bibit dari setek batang.&lt;br /&gt;- Gunakanlah induk tanaman sehat, tidak terindikasi gejala serangan hama dan penyakit, umur tidak terlalu muda dan terlalu tua, segar dan tidak layu, warna cerah/mengkilap.&lt;br /&gt; - Bibit hasil setek diistirahatkan/disimpan di tempat lembab selama 2 - 4 hari.&lt;br /&gt; - Sebelum tanam, pangkal bibit dipotong miring ± 45º menggunakan pisau tajam dan bersih.&lt;br /&gt;- Pangkal bibit direndam 20-30 menit dalam larutan POC NASA (1-2 ttp) + HORMONIK (0,5-1 ttp) + 1-2 sendok makan Natural GLIO per 10 liter air.&lt;br /&gt; - Bibit dikeringanginkan ± 1-2 jam.&lt;br /&gt; - Penanaman dilakukan sore hari, jarak tanam 50 x 60 cm atau 60 x 70 cm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;V. PEMELIHARAAN TANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Penyiraman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemberian air tidak boleh berlebihan ataupun kekurangan. Usia 0 - 21 hst (hari setelah tanam) disiram tiap hari secukupnya. Sejak usia ±100 hst penyiraman dikurangi atau dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Penyulaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Jika diperlukan, hingga 15 hst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Pemupukan susulan: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengocoran larutan pupuk : NPK majemuk 0,25 kg + 50 liter air. Berikan 200-300 cc/lubang tanam setiap 2 minggu sekali hingga usia 100 hst.&lt;br /&gt;Penyemprotan pupuk lewat daun dilakukan 1 minggu sekali hingga 100 hst, pakai 3 - 5 tutup POC NASA + 1-2 tutup HORMONIK dalam tangki 14 atau 17 liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Penyiangan, pendangiran dan pembumbunan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Dilakukan bersamaan setiap 2 minggu sekali terutama pada usia 14 - 65 hst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Perempelan I&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada 20 hst disisakan 2-3 batang utama. Perempelan selanjutnya adalah perempelan tunas ketiak daun setiap 2 minggu sekali hingga usia 65 hst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;VI. HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;4.1. Hama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;4.1.1. Bekicot&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Biasanya aktif pada malam hari, dan perlu diwaspadai keberadaannya. Pengendalian dengan cara dikumpulkan dan dimusnahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;4.1.2. Ulat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Banyak jenis ulat yang menyerang pada ginseng terutama ulat grayak (Spodoptera sp.), Ulat penggulung daun (Lamprosema sp.), dan ulat jenis lainnya. Pengendalian dengan cara mematikan ulat, semprot Vitura atau Pestona dan alternative terakhir dengan Insektisida kimia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;4.1.3. Uret/Lundi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hama ini menyerang akar bahkan bisa ke umbi sehingga tanaman lama kelamaan bisa layu dan akhirnya mati. Pada saat tanam bisa ditaburkan insektisida granular di sekeliling tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4.2. Penyakit &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;4.2.1. Penyakit Busuk Leher Batang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya jamur Phytium sp. atau Sclerotium sp. Biasanya di awal tanam ginseng mengalami pembusukan yang disebabkan oleh kelembaban tanah yang berlebihan. Leher batang atau pangkal batang tampak berwarna kelabu atau kecoklatan, lunak kebasahan dan melekuk ke dalam. Jamur ini dapat menjalar ke bagian umbi, lama-kelamaan daun tampak layu. Pengendalian dengan cara pengaturan drainase, kebun tidak becek dan tidak lembab. Sejak awal sebelum tanam gunakan Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;4.2.2. Penyakit Busuk Umbi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya jamur Phythopthora sp. Gejalanya daun yang mulanya hijau berubah menjadi kuning. Lama kelamaan menjalar hingga menyebabkan kematian. Bila tanaman dicabut pada pangkal umbi/batang tampak bulu-bulu putih yang kemudian berubah menjadi bulat-bulatan dan akhirnya berubah menjadi coklat tua sampai hitam. Pengendalian gunakan Natural GLIO sebelum tanam, jaga kelembaban tanah dan alternative terakhir dengan fungisida sistemik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;4.2.3. Penyakit Layu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bisa disebabkan jamur Fusarium sp. atau bakteri Pseudomonas sp. Tetapi kebanyakan disebabkan oleh jamur Fusarium. Mulanya tulang daun menguning, kemudian menjalar ke tangkai daun dan akhirnya daun menjadi layu. Pengendalian dengan cara sebarkan Natural GLIO sebelum tanam dan celupkan stek sebelum tanam ke dalam POC NASA dicampur Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;VII. PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Tanaman Ginseng dipanen umur 4 - 5 bulan tergantung pertumbuhan dan keadaan umbi. Cirinya; batang semula hijau berubah merah, daun menguning dan mulai rontok, berbunga dan mengeluarkan biji, umbi bila didangir sudah cukup besar (diameter diatas 1 cm).&lt;br /&gt; - Pemanenan pada pagi hari saat kondisi cerah, tidak hujan dan daun tidak berembun lagi, tanah kering. &lt;br /&gt; - Umbi dipanen sekaligus dengan menggunakan garpu tanah untuk menggemburkan permukaan tanah. &lt;br /&gt;- Sebelum umbi dicabut pangkal batang tanaman dipangkas dan dipisahkan dari batang serta daunnya. Pencabutan umbi harus dilakukan hati-hati, jangan sampai umbinya putus dan tertinggal dalam tanah. Umbi yang telah dicabut dibersihkan dan dibawa ke tempat teduh untuk penyortiran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-6201377964307628303?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/6201377964307628303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=6201377964307628303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6201377964307628303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6201377964307628303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-gingseng.html' title='Budidaya GINGSENG'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJayDdMlL_I/AAAAAAAAANg/dhDRZdyh9g8/s72-c/lif-041+ginseng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-8150476894719478126</id><published>2008-07-30T01:18:00.000-07:00</published><updated>2008-08-04T00:37:29.499-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jagung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hybrida'/><title type='text'>Budidaya JAGUNG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJawiIsppSI/AAAAAAAAANY/f-wuy2fRZfU/s1600-h/lif-016+jagung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJawiIsppSI/AAAAAAAAANY/f-wuy2fRZfU/s400/lif-016+jagung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230562117734212898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;A. Syarat benih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Pengolahan Lahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td rowspan="2" valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;Waktu&lt;/strong&gt;        &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="144"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;Dosis Pupuk Makro (per ha)&lt;/strong&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td rowspan="2" valign="top" width="126"&gt;&lt;div align="center"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;strong&gt;Dosis  POC&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;      &lt;strong&gt;NASA&lt;/strong&gt;        &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Urea (kg)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;TSP (kg)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;KCl (kg)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;Perendaman benih&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="126"&gt;&lt;div align="center"&gt;2 - 4 cc/ lt air    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;Pupuk dasar&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        120    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        80    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        25    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="126"&gt;&lt;div align="center"&gt;20 - 40 tutup/tangki&lt;br /&gt;    ( siram merata )&lt;/div&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;2 minggu&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="126"&gt;&lt;div align="center"&gt;4 - 8 tutup/tangki&lt;br /&gt;    ( semprot/siram)&lt;/div&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Susulan I      (3 minggu)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        115&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        55    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="126"&gt;&lt;div align="center"&gt;-&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;4 minggu&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="126"&gt;&lt;div align="center"&gt;4 - 8 tutup/tangki&lt;br /&gt;    ( semprot/siram )&lt;/div&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;Susulan II (6minggu)&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        115    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        -    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="126"&gt;&lt;div align="center"&gt;4 - 8 tutup/tangki&lt;br /&gt;    ( semprot/siram )&lt;/div&gt;     &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Catatan : akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA  dosis  ±  1 botol/1000  m2 dengan cara :&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;alternatif  1 :&lt;/strong&gt; 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;alternatif  2 : &lt;/strong&gt;1 gembor  (10-15 lt)  beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram  + 10 m bedengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Teknik Penanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1. Penentuan Pola Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :&lt;br /&gt;a. Tumpang sari&lt;em&gt; ( intercropping ),&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.&lt;br /&gt;b. Tumpang   gilir   &lt;em&gt;( Multiple  Cropping ),&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.&lt;br /&gt;c. Tanaman Bersisipan &lt;em&gt;( Relay Cropping ):&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.&lt;br /&gt;d. Tanaman Campuran &lt;em&gt;( Mixed  Cropping ) :&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Lubang Tanam dan Cara Tanam&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang). Panen &lt;&gt;E. Pengelolaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1. Penjarangan dan Penyulaman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Penyiangan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3. Pembumbunan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;4. Pengairan dan Penyiraman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. Hama dan Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1. Hama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;a. Lalat bibit &lt;em&gt;(Atherigona exigua Stein)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan PESTONA&lt;br /&gt;b. Ulat Pemotong&lt;br /&gt;Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;a. Penyakit bulai &lt;em&gt;(Downy mildew) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan GLIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyakit bercak daun &lt;em&gt;(Leaf bligh)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Penyakit karat&lt;em&gt; (Rust)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot dengan GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Penyakit gosong bengkak &lt;em&gt;(Corn smut/boil smut)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;G. Panen dan Pasca Panen &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1. Ciri dan Umur Panen&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Cara Panen&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3. Pengupasan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;4. Pengeringan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;  Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;5. Pemipilan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;6. Penyortiran dan Penggolongan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-8150476894719478126?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/8150476894719478126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=8150476894719478126' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/8150476894719478126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/8150476894719478126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-jagung.html' title='Budidaya JAGUNG'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJawiIsppSI/AAAAAAAAANY/f-wuy2fRZfU/s72-c/lif-016+jagung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-3649316044259442621</id><published>2008-07-30T01:17:00.002-07:00</published><updated>2008-08-01T04:48:11.959-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kacang panjang'/><title type='text'>Budidaya KACANG PANJANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL32iVMdZI/AAAAAAAAANQ/rp48GZX618w/s1600-h/lif-043+kcg+pjg.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL32iVMdZI/AAAAAAAAANQ/rp48GZX618w/s400/lif-043+kcg+pjg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229514633631266194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman tumbuh baik pada tanah Latosol / lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik, pH sekitar 5,5-6,5. Suhu antara 20-30 derajat Celcius, iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun dan ketinggian optimum kurang dari 800 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMBIBITAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah sebagai berikut: penampilan bernas/kusam, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg.&lt;br /&gt; - Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENGOLAHAN MEDIA TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak hingga tanah menjadi gembur.&lt;br /&gt;- Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm&lt;br /&gt;- Lakukan pengapuran jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dolomit sebanyak 1-2 ton/ha dan campurkan secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm&lt;br /&gt;- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m2(10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt; alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;TEKNIK PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.&lt;br /&gt;- Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai&lt;br /&gt; - Benih direndam POC NASA dosis 2 tutup/liter selama 0,5 jam lalu tiriskan&lt;br /&gt; - Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENYULAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari setelah tanam. Benih yang tidak tumbuh segera disulam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENYIANGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun. Penyiangan dengan cara mencabut rumput liar/membersihkan dengan alat kored.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMANGKASAN / PEREMPELAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun maupun ujung batang. Tanaman yang terlalu rimbun dapat menghambat pertumbuhan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMUPUKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Dosis pupuk makro sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="81"&gt;   &lt;col width="64"&gt;   &lt;col span="2" width="70"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr height="17"&gt;     &lt;td rowspan="2" height="34" width="81"&gt;&lt;div align="center"&gt;Waktu&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="204"&gt;&lt;div align="center"&gt;Dosis    Pupuk Makro (per ha)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="17"&gt;     &lt;td height="17"&gt;Urea (kg)&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;SP-36    (kg)&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;KCl    (kg)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="17"&gt;     &lt;td height="17"&gt;Dasar&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;50&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;75&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;25&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="17"&gt;     &lt;td height="17"&gt;Umur 45 hari&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;50&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;25&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;75&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="17"&gt;     &lt;td height="17"&gt;TOTAL&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;100&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;100&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;100&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Catatan : Atau sesuai rekomendasi setempat.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung dari jarak tanam&lt;br /&gt;POC NASA diberikan 1-2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4-8 tutup POC NASA/tangki). Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 M2 (10-20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3-4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan (dapat disiramkan dengan dosis + 2 tutup/10 liter air ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENGAIRAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;   a. Lalat kacang &lt;em&gt;(Ophiomya phaseoli Tryon)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; b. Kutu daun &lt;em&gt;(Aphis cracivora Koch)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan Natural BVR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; c. Ulat grayak &lt;em&gt;(Spodoptera litura F.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, Semprot Natural VITURA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; d. Penggerek biji &lt;em&gt;(Callosobruchus maculatus L)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; e. Ulat bunga&lt;em&gt; ( Maruca testualis)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; f. Penyakit Antraknose ( jamur &lt;em&gt;Colletotricum lindemuthianum&lt;/em&gt; )&lt;br /&gt;Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan Natural GLIO dan POC NASA dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; g. Penyakit  mozaik&lt;em&gt;  ( virus  Cowpea  Aphid  Borne Virus/CAMV). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; h. Penyakit   sapu   &lt;em&gt;(   virus   Cowpea   Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; i.  Layu bakteri &lt;em&gt;( Pseudomonas solanacearum )&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakan Natural GLIO pada awal tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PANEN DAN PASCA PENEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol&lt;br /&gt; - Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan&lt;br /&gt; - Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam.&lt;br /&gt; - Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu disortasi&lt;br /&gt; - Polong kacang panjang diikat dengan bobot maksimal 1 kg dan siap dipasarkan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-3649316044259442621?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/3649316044259442621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=3649316044259442621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3649316044259442621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3649316044259442621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-kacang-panjang.html' title='Budidaya KACANG PANJANG'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL32iVMdZI/AAAAAAAAANQ/rp48GZX618w/s72-c/lif-043+kcg+pjg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-9146675984086466744</id><published>2008-07-30T01:17:00.001-07:00</published><updated>2008-08-01T04:45:02.887-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kedelai'/><title type='text'>Budidaya KEDELAI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL3J3p-q1I/AAAAAAAAANI/pU_UuUIc3s0/s1600-h/lif-044+kedelai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL3J3p-q1I/AAAAAAAAANI/pU_UuUIc3s0/s400/lif-044+kedelai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229513866261474130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketergantungan terhadap kedelai impor sangat memprihatinkan, karena seharusnya kita mampu mencukupinya sendiri. Ini karena produktivitas rendah dan semakin meningkatnya kebutuhan kedelai. PT. Natural Nusantara berusaha membantu dalam peningkatan produksi secara kuantitas , kualitas dan kelestarian lingkungan sehingga kita bisa bersaing di era pasar bebas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;SYARAT TUMBUH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) tanah cukup baik, curah hujan 100-400 mm/bulan, suhu udara 230C - 300C, kelembaban 60% - 70%, pH tanah 5,8 - 7 dan ketinggian kurang dari 600 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENGOLAHAN TANAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Tanah dibajak, digaru dan  diratakan&lt;br /&gt; - Sisa-sisa gulma dibenamkan&lt;br /&gt; - Buat saluran air dengan jarak sekitar 3-4 m&lt;br /&gt; - Tanah dikeringanginkan tiga minggu baru ditanami&lt;br /&gt;- Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol (500 cc) POC NASA diencerkan dengan air secukupnya untuk setiap 1000 m² (10 botol/ha). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA, cara penggunaannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt; - Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Rendam benih dalam POC NASA dosis 2 cc / liter selama 0,5 jam dan dicampur Legin (Rhizobium ) untuk tanah yang belum pernah ditanami kedelai&lt;br /&gt; - Buat jarak tanam antar tugalan berukuran 30 x 20 cm, 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm&lt;br /&gt; - Buat lubang tugal sedalam 5 cm dan masukkan biji 2-3 per lubang&lt;br /&gt; - Tutup benih dengan tanah gembur dan tanpa dipadatkan&lt;br /&gt; - Waktu tanam yang baik  akhir musim hujan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENJARANGAN &amp;amp; PENYULAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari, benih yang tidak tumbuh diganti atau disulam dengan benih baru yang akan lebih baik jika dicampur Legin. Penyulaman sebaiknya sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENYIANGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan pertama umur 2-3 minggu, ke-2 pada saat tanaman selesai berbunga (sekitar 6 minggu setelah tanam). Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMBUBUNAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMUPUKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Contoh jenis dan dosis pupuk sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td rowspan="2" valign="top" width="112"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Waktu&lt;/strong&gt;     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="174"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Dosis Pupuk Makro (per ha)&lt;/strong&gt;     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="59"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Urea (kg)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="58"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;SP-36 (kg)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;KCl (kg)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="112"&gt;&lt;br /&gt;2 Minggu Setelah Tanam&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="59"&gt;&lt;div align="center"&gt;        50     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="58"&gt;&lt;div align="center"&gt;        40     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;div align="center"&gt;        20     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="112"&gt;&lt;br /&gt;6 Minggu Setelah Tanam&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="59"&gt;&lt;div align="center"&gt;        30&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="58"&gt;&lt;div align="center"&gt;        20     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;div align="center"&gt;        40     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="112"&gt;&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="59"&gt;&lt;div align="center"&gt;        80 kg     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="58"&gt;&lt;div align="center"&gt;        60 kg     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="56"&gt;&lt;div align="center"&gt;        60 kg&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt; POC NASA diberikan 2 minggu sekali semenjak tanaman berumur 2 minggu, dengan cara disemprotkan (4 - 8 tutup POC NASA/tangki).&lt;br /&gt;Kebutuhan total POC NASA untuk pemeliharaan 1-2 botol per 1000 m2 (10 - 20 botol/ha). Akan lebih bagus jika penggunaan POC NASA ditambahkan HORMONIK (3 - 4 tutup POC NASA + 1 tutup HORMONIK/tangki). Pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyemprotan, karena dapat mengganggu penyerbukan, akan lebih aman jika disiramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1. Aphis glycine&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: (1) Jangan tanam tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacang-kacangan; (2) buang bagian tanaman terserang dan bakar, (3) gunakan musuh alami (predator maupun parasit); (4) semprot Natural BVR atau PESTONA dilakukan pada permukaan daun bagian bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Kumbang daun tembukur (Phaedonia inclusa) &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian: penyemprotan PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;3. Ulat polong (Ettiela zinchenella)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian : (1) tanam tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;4. Kepik polong (Riptortis lincearis)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;5. Lalat kacang (Ophiomyia phaseoli)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : Saat benih ditanam, tanah diberi POC NASA, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan PESTONA. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;6. Kepik hijau (Nezara viridula)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan. Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;7. Ulat grayak (Spodoptera litura)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian : (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) beberapa Natural VITURA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;8. Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp.)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala : layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian : Varietas tahan layu, sanitasi kebun, dan pergiliran tanaman.&lt;br /&gt; Pengendalian : Pemberian Natural GLIO &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;9. Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala : daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian; tanam varietas tahan dan tebarkan Natural GLIO di awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;10. Anthracnose (Colletotrichum glycine )&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian : (1) perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat; (2) Pencegahan di awal dengan Natural GLIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;11.Penyakit karat (Cendawan Phakospora phachyrizi)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian: (1) cara menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit; (2) semprotkan Natural GLIO + gula pasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;12. Busuk batang (Cendawan Phytium Sp)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala : batang menguning kecoklat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendalian : (1) memperbaiki drainase lahan; (2) Tebarkan Natural GLIO di awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PANEN DAN PASCA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Lakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul.&lt;br /&gt;- Perlu diperhatikan, kedelai sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75 - 100 hari, sedangkan untuk benih umur 100 - 110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata.&lt;br /&gt; - Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur.&lt;br /&gt; - Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-9146675984086466744?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/9146675984086466744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=9146675984086466744' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/9146675984086466744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/9146675984086466744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-kedelai.html' title='Budidaya KEDELAI'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL3J3p-q1I/AAAAAAAAANI/pU_UuUIc3s0/s72-c/lif-044+kedelai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-2852521604082828331</id><published>2008-07-30T01:16:00.002-07:00</published><updated>2008-08-01T04:42:50.470-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kubis'/><title type='text'>Budidaya KUBIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL2ScfTy_I/AAAAAAAAANA/XSdubj5Mk6o/s1600-h/lif-047+kubis.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL2ScfTy_I/AAAAAAAAANA/XSdubj5Mk6o/s400/lif-047+kubis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229512914076158962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, tingkat produksi tanaman kubis baik secara kuantitas maupun kualitas masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena tanah sudah miskin unsur hara, pemupukan yang tidak berimbang, organisme pengganggu tanaman, cuaca dan iklim.&lt;br /&gt;Untuk itu, PT. Natural Nusantara sebagai perusahaan yang peduli terhadap permasalahan pertanian dan kelestarian lingkungan berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas serta memelihara kelestarian lingkungan (3 - K). Sehingga petani mampu bersaing di era pasar bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FASE PRA TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1.  Syarat tumbuh&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Tanaman dapat ditanam sepanjang tahun&lt;br /&gt;- Tumbuh dan berproduksi dengan baik pada ketinggian 800 m d.pl. ke atas, curah hujan hujan cukup dan temperatur udara 15o - 20o C.&lt;br /&gt;- Jenis tanah yang dikehendaki gembur, bertekstur ringan atau sarang serta pH 6 - 6,5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Pengelolaan Tanah dan Air&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Bersihkan gulma dan sisa-sisa tanaman untuk menekan serangan penyakit terbawa tanah seperti akar bengkak, busuk lunak, rebah semai, dll. dengan cara dicabut dan dikumpulkan lalu dibakar atau bisa dijadikan kompos&lt;br /&gt;- Jangan menanam tanaman kubis-kubisan secara terus menerus dan lakukan pergiliran tanaman&lt;br /&gt;- Gunakan pupuk organik (SUPER NASA), khususnya di musim kemarau untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.  Persiapan Lahan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Lahan dicangkul dan dibajak sedalam 20-30 cm&lt;br /&gt;- Berikan Dolomit atau CAPTAN kira-kira 2 ton/ha jika pH &lt;&gt;FASE PERSEMAIAN&lt;br /&gt;- Media persemaian terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang (kompos) halus dengan perbandingan 1:1 dan ditambah 100 gr (1 sachet)- - - Natural GLIO untuk 25 kg pupuk kandang&lt;br /&gt;- Benih direndam dalam air hangat + POC NASA  dosis 2 cc/lt air selama 0,5 - 1 jam lalu diangin-anginkan&lt;br /&gt;- Sebarkan benih secara merata dan teratur lalu ditutup daun pisang selama 3-4 hari&lt;br /&gt;- Semprotkan POC NASA seminggu sekali dengan dosis 3 tutup/tangki&lt;br /&gt;- Lakukan penyiraman setiap hari dengan gembor&lt;br /&gt;- Persemaian dibuka setiap pagi sampai jam 10.00 dan sore mulai pukul 15.00&lt;br /&gt;- Amati bibit kubis yang terserang penyakit tepung berbulu (Peronospora parasitica) atau ulat daun pada daun pertama, dipetik dan dibuang daun yang terserang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FASE TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1. Jarak tanam&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jarak tanam jarang 70 x 50 cm atau jarak tanam rapat 60 x 50 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Bibit&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bibit yang telah berumur 3 - 4 minggu memiliki 4 - 5 daun siap ditanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3. Pemupukan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pupuk dasar diberikan sehari sebelum tanam dengan dosis 250 kg/ha TSP, 50 kg/ha Urea, 175 kg/ha ZA dan 100 kg/ha KCl.&lt;br /&gt;Pupuk dasar dicampur secara merata lalu diberikan pada lubang tanam yang telah diberi pupuk kandang, kemudian ditutup kembali dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;4. Cara tanam&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Buat lubang tanam dengan tugal sesuai jarak tanam&lt;br /&gt;- Pilih bibit yang segar dan sehat&lt;br /&gt;- Tanam bibit pada lubang tanam&lt;br /&gt;- Bila bibit disemai pada bumbung daun pisang langsung ditanam bersama bumbungnya&lt;br /&gt;- Bila bibit disemai pada polybag plastik, keuarkan bibit dari polibag lalu baru ditanam&lt;br /&gt;- Bila disemai dalam bedengan ambil bibit beserta tanahnya sekitar 2-3 cm dari batang sedalam 5 cm dengan solet (sistem putaran)&lt;br /&gt;- Setelah ditanam, siram bibit dengan air sampai basah&lt;br /&gt;- Kubis dapat ditumpangsarikan dengan tomat dengan cara tanam : 2 baris kubis 1 baris tomat. Tomat ditanam 3 atau 4 minggu sebelum kubis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FASE PRA PEMBENTUKAN KROP (0 - 49 HARI )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Penyiraman dilakukan tiap hari pada pagi atau sore hari&lt;br /&gt;- Pemupukan susulan dilakukan pada umur 28 hari dengan dosis 50 kg/ha Urea, 175 kg/ha ZA dan 100 kg/ha KCl&lt;br /&gt;- Penyemprotan POC NASA 3 - 4 tutup/tangki ditambah HORMONIK 1-2 tutup/tangki dilakukan setiap 1  minggu sekali.&lt;br /&gt;- Penyiangan (penggemburan dan pembubunan tanah) dilakukan pada umur 2 dan 4 minggu&lt;br /&gt;- Perempelan cabang atau tunas-tunas samping dilakukan seawal mungkin supaya pembentukan bunga optimal&lt;br /&gt;- Hama yang menyerang pada fase ini antara lain Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.), Ulat daun kubis (Plutella xylostella L.), Ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis Zell.), Ulat krop bergaris (Hellula undalis F.)&lt;br /&gt;- Lakukan pengamatan tiap minggu sekali terhadap hama-hama tersebut mulai kubis umur 13 hari. Populasi tertinggi terjadi pada awal musim kemarau&lt;br /&gt;- Cara pengendalian; kumpulkan dan musnah secara mekanik, sanitasi lingkungan.&lt;br /&gt;- Tanaman muda yang mati karena penyakit rebah kecambah (Rhizoctonia solani Kuhn.) dicabut, kemudian disulam dengan tanaman baru yang sehat, tambahkan Natural GLIO pada lubang tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FASE PEMBENTUKAN CROP ( 50 - 90 HARI )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Penyiangan secara manual dengan tangan perlu dilakukan sampai kira-kira satu minggu sebelum panen&lt;br /&gt;- Lakukan pengamatan lebih intensif terhadap hama yang merusak berat pada fase ini yaitu; Ulat Daun Kubis (P. xylostella) dan Ulat krop kubis (C. binotalis), biasanya Pebruari Maret&lt;br /&gt;- Serangan hama menjelang panen tidak perlu dikendalikan (secara kimia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PANEN DAN PASCA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Kubis dipanen setelah berumur 81- 105 hari&lt;br /&gt;- Ciri-ciri kubis siap panen bila tepi daun krop terluar pada bagian atas krop sudah melengkung ke luar dan berwarna agak ungu, krop bagian dalam sudah padat.&lt;br /&gt;- Pada saat panen diikursertakan dua helai daun hijau untuk melindungi krop&lt;br /&gt;- Jangan sampai terjadi memar atau luka&lt;br /&gt;- Amati penyakit Busuk Lunak (Erwinia carotovora) dan Busuk Hitam (Xanthomonas camprestris)&lt;br /&gt;- Daun-daun kubis yang terinfeksi harus dibuang.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-2852521604082828331?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/2852521604082828331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=2852521604082828331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2852521604082828331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2852521604082828331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-kubis.html' title='Budidaya KUBIS'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL2ScfTy_I/AAAAAAAAANA/XSdubj5Mk6o/s72-c/lif-047+kubis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-1497014949050559093</id><published>2008-07-30T01:16:00.001-07:00</published><updated>2008-08-01T04:39:12.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lada'/><title type='text'>Budidaya LADA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL1yq9sMFI/AAAAAAAAAMw/phIGHh7EC8c/s1600-h/lif-010+lada.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL1yq9sMFI/AAAAAAAAAMw/phIGHh7EC8c/s400/lif-010+lada.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229512368205869138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman lada termasuk tanaman rempah yang banyak dikembangkan di Indonesia. PT. Natural Nusantara berupaya membantu meningkatkan produksi tersebut secara kuantitas, kualitas dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan(Aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;strong&gt;2.1. Iklim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Curah hujan 2.000-3.000 mm/th.&lt;br /&gt; - Cukup sinar matahari (10 jam sehari).&lt;br /&gt; - Suhu udara 200C - 34 0C.&lt;br /&gt; - Kelembaban udara 50% - 100% lengas nisbi dan optimal antara 60% - 80% RH.&lt;br /&gt;- Terlindung dari tiupan angin yang terlalu kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2.2. Media Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Subur dan kaya bahan organik&lt;br /&gt; - Tidak tergenang atau terlalu kering&lt;br /&gt; - pH tanah 5,5-7,0&lt;br /&gt; - Warna tanah merah sampai merah kuning seperti Podsolik, Lateritic, Latosol dan Utisol.&lt;br /&gt; - Kandungan humus tanah sedalam 1-2,5 m.&lt;br /&gt; - Kelerengan/kemiringan lahan maksimal ± 300.&lt;br /&gt; - Ketinggian tempat 300-1.100 m dpl. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt; 3.1. Pembibitan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Terjamin kemurnian jenis bibitnya&lt;br /&gt; - Berasal dari pohon induk yang sehat&lt;br /&gt; - Bebas dari hama dan penyakit&lt;br /&gt; - Berasal dari kebun induk produksi yang sudah berumur 10 bulan-3 tahun   (Kebutuhan bibit ± 2.000 bibit tanaman perhektar) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; a. Cangkul  1, pembalikan tanah sedalam 20-30 cm.&lt;br /&gt; b. Taburkan kapur pertanian dan diamkan 3-4 minggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dosis kapur pertanian :&lt;br /&gt;- Pasir dan Lempung berpasir: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha.&lt;br /&gt; - Lempung: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 1,7 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha.&lt;br /&gt; - Lempung Berdebu: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 2,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 3,2 ton/ha.&lt;br /&gt; - Lempung Liat: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 3,4 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 4,2 ton/ha.&lt;br /&gt; c. Cangkul  2,  haluskan dan ratakan tanah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Sistem penanaman adalah monokultur (jarak tanam 2m x 2m). Tetapi juga bisa ditanam dengan tanaman lain.&lt;br /&gt; - Lubang tanam dibuat limas ukuran atas 40 cm x 35 cm, bawah 40 cm x 15 cm dan kedalaman 50 cm.&lt;br /&gt; - Biarkan lubang tanam 10-15 hari barulah bibit ditanam.&lt;br /&gt;- Waktu penanaman sebaiknya musim penghujan atau peralihan dari musim kemarau kemusim hujan, pukul 6.30 pagi atau 16.30-18.00 sore.&lt;br /&gt;- Cara penanaman : menghadapkan bagian yang ditumbuhi akar lekat kebawah, sedangkan bagian belakang (yang tidak ditumbuhi akar lekat) menghadap keatas.&lt;br /&gt; - Taburkan pupuk kandang 0,75-100 gram/tanaman yang sudah dicampur NATURAL GLIO.&lt;br /&gt; - Tutup lubang tanam dengan tanah galian bagian atas yang sudah dicampur pupuk dasar :&lt;br /&gt; - NPK 20 gram/tanaman&lt;br /&gt; - Untuk tanah kurang subur ditambahkan 10 gram urea, 7 gram SP 36 dan 5 gram KCl per tanaman.&lt;br /&gt; - Segera setelah ditutup, disiram SUPERNASA :&lt;br /&gt; - Alternatif 1 : 0,5 sendok makan/ 5 lt air per tanaman.&lt;br /&gt;- Alternatif 2 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 20 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.&lt;br /&gt; - Pemberian SUPERNASA selanjutnya dapat diberikan setiap 3 - 4 bulan sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.4.1. Pengikatan Sulur Panjat&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Panjatkan pada tiang panjat menggunakan tali. Ikatkan dengan dipilin dan dilipat hingga mudah lepas bila sulur tumbuh besar dan akar lekatnya sudah melekat pada tiang panjat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.4.2. Penyiangan dan Pembumbunan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Penyiangan setiap 2-3 bulan sekali. Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.4.4. Perempalan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Perempalan atau pemangkasan dilakukan pada:&lt;br /&gt; Batang, dahan, ranting yang tidak produktif, atau terserang hama dan penyakit.&lt;br /&gt; Pucuk/batang, karena tidak memiliki dahan yang produktif&lt;br /&gt; Batang yang sudah tua agar meremajakan tanaman menjadi muda kembali.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.4.5. Pemupukan Susulan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Penyemprotan POC NASA (4-5 tutup) atau POC NASA (3- 4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 3 - 4 minggu sekali.&lt;br /&gt; Pupuk makro diberikan sebagai berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td rowspan="2" valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Umur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;         &lt;strong&gt;(bln)&lt;/strong&gt;     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="189"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Pupuk makro (gram/pohon)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Urea&lt;/strong&gt;     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="57"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;SP 36&lt;/strong&gt;     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;KCl&lt;/strong&gt;     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;        3-4     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;        35     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="57"&gt;&lt;div align="center"&gt;        15     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        20     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;        4-5&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;        35     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="57"&gt;&lt;div align="center"&gt;        20     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        25&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;        5-6&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;        35     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="57"&gt;&lt;div align="center"&gt;        25&lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        30     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;        6-17     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="84"&gt;&lt;div align="center"&gt;        35     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="57"&gt;&lt;div align="center"&gt;        30     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="48"&gt;&lt;div align="center"&gt;        35     &lt;br /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.4.6. Pengairan dan Penyiraman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada musim kemarau penyiraman sehari sekali di sore hari. Pada musim hujan tidak boleh tergenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.4.7. Pemberian Mulsa&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Usia 3-5 bulan, beri mulsa alami berupa dedaunan tanaman tahunan ataupun alang-alang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.4.8. Penggunaan Tajar ( Ajir)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya gunakan tajar mati dari bahan kayu. Pangkal tajar diruncingkan, bagian ujung dibuat cabang untuk menempatkan batang lada yang panjangnya telah melebihi tinggi tajar. Panjang tajar 2,5-3 m..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;br /&gt; 3.5.1. Hama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Hama Penggerek Batang &lt;em&gt;(Laphobaris Piperis)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ciri: berwarna hitam, ukuran 3-5 mm. Serangga dewasa lebih suka menyerang bunga, pucuk daun dan cabang-cabang muda. Akibat lain bila Nimfanya (serangga muda) berupa ulat akan menggerek batang dan cabang tanaman. Pengendalian: memotong cabang batang; penyemprotan PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Hama bunga&lt;br /&gt;Ciri: Serangga dewasa berwarna hitam, sayap seperti jala, terdapat tonjolan pada punggungnya, ukuran panjang tubuh 4,5 mm dan lebar 3 mm. Gejala: serangga dewasa/nimfanya menyerang bunga berakibat bunga rusak dan menimbulkan kegagalan pembuahan, siklus hidupnya sekitar 1 bulan. Pengendalian: penyemprotan PESTONA, serta dapat juga dilakukan pemotongan pada tandan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Hama buah&lt;br /&gt;Ciri: serangga berwarna hijau kecoklatan, nimfanya tidak bersayap, berwarna bening dan empat kali ganti kulit. Serangga dewasa atau nimfanya menyerang buah sehingga isi buah kosong. Telurnya biasa diletakkan pada permukaan daun atau pada tandan buah, siklus hidupnya sekitar 6 bulan. Pengendalian: musnahkan telur dipermukaan daun, cabang, dan yang ada pada tandan buah. Gunakan PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.5.2. Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Penyakit busuk pangkal batang (BPP)&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Phytopthora Palmivora Var Piperis. Gejala: awal serangan sulit diketahui. Bagian yang mulai terserang pada pangkal batang memperlihatkan garis-garis coklat kehitaman dibawah kulit batang. Daun berubah warna menjadi layu (berwarna kuning). Pencegahan : penanaman jenis lada tahan penyakit BPB. Pemberian Natural Glio sebelum dan sesudah tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyakit kuning&lt;br /&gt;Penyebab: tidak terpenuhinya berbagai persyaratan agronomis serta serangan cacing halus (Nematoda) Radhophalus similis yang mungkin berasosiasi dengan nematoda lain seperti Heterodera SP, M incognita dan Rotylenchus Similis. Gejala: menyerang akar tanaman lada, ditandai menguningnya daun lada, akar rambut mati, membusuk dan berwarna hitam. Cepat lambatnya gejala daun menguning tergantung berat ringannya infeksi dan kesuburan tanaman. Pengendalian: Pemberian pupuk kandang, pengapuran, pemupukan tepat dan seimbang, pemberian Natural Glio sebelum dan sesudah tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.6. Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.6.1. Ciri dan Umur Panen&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Panen pertama umur tiga tahun atau kurang. Ciri-ciri: tangkainya berubah agak kuning dan sudah ada buah yang masak (berwarna kuning atau merah).&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.6.2. Cara Panen&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Pemetikan dari buah bagian bawah hingga buah bagian atas,  dengan mematahkan persendian tangkai buah yang ada diketiak dahan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.6.3. Periode Panen&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Periode panen sesuai iklim setempat, jenis lada yang ditanam dan intensitas pemeliharaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-1497014949050559093?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/1497014949050559093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=1497014949050559093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1497014949050559093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1497014949050559093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-lada.html' title='Budidaya LADA'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL1yq9sMFI/AAAAAAAAAMw/phIGHh7EC8c/s72-c/lif-010+lada.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-1032477517732397781</id><published>2008-07-30T01:15:00.002-07:00</published><updated>2008-08-01T04:36:55.351-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='emas hijau'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='panili'/><title type='text'>Budidaya PANILI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL1OgxaR1I/AAAAAAAAAMo/ApmCEL26PK4/s1600-h/lif-005+panili.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL1OgxaR1I/AAAAAAAAAMo/ApmCEL26PK4/s400/lif-005+panili.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229511746994718546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman panili atau si Emas Hijau merupakan komoditi yang menjanjikan. Namun tidak semua panili berharga “emas”, hanya kualitas terbaiklah yang diberikan harga istimewa. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatan produksi panili secara Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian (aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Panili dapat hidup di iklim tropis, curah hujan 1000-3000 mm/tahun, cahaya matahari + 30%-50%, suhu udara optimal 200C-250C, kelembaban udara sekitar 60%-80%, ketinggian tempat 300-800 m dpl. Tanah gembur, ringan yaitu tipe tanah lempung berpasir (sandy loam) dan lempung berpasir kerikil (gravelly sandy loam), mudah menyerap air, pH tanah + 5,7 - 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBIBITAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Seleksi Bibit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Jenis panili bernilai ekonomi yaitu Vanilla planifolia Andrews, Vanilla tahitensis JW. Moore, Vanilla pompana&lt;br /&gt;- Syarat bibit generatif : tulen, punya sifat yang hampir sama dengan induknya; murni, biji tidak tercampur dengan yang berkualitas jelek; biji dalam kondisi segar dan sehat; bibit vegetatif : tanaman induk sehat dan cukup umur, sudah mengeluarkan sulur dahan yang kuat, tanaman induk belum atau jangan sampai berbuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Penyiapan Bibit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Bibit generatif berasal dari biji yang unggul&lt;br /&gt;- Bibit Vegetatif dengan stek, mempercepat perakaran stek dapat direndam HORMONIK (1-2 cc/liter) kemudian dibiarkan agak layu baru ditanam dan disiram POC NASA (2-3 ttp) + HORMONIK ( 1 ttp) per 10 liter air.&lt;br /&gt;- Kulture Jaringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Teknik Penyemaian Benih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bibit disemai dalam tanah berpasir supaya akar mudah tumbuh. Tempat penyemaian harus teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyiraman setiap hari, tidak boleh terlalu basah. Bibit yang jelek disingkirkan. Setiap seminggu sekali semprot dengan POC NASA (2-3 tutup) + HORMONIK ( 1 tutup) per tangki (14-17 liter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Pemindahan Bibit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemindahan bibit ke lapangan tergantung asal bibit, yaitu bibit stek sekitar umur 1-2 bulan, bibit biji waktunya  lama.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;PENGOLAHAN MEDIA TANAM&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Pengolahan lahan dikerjakan pada pertengahan musim kemarau supaya pohon pelindung dapat ditanam, cek kondisi tanah&lt;br /&gt;- Bersihkan lahan dari gulma dan  dibajak.&lt;br /&gt;- Buat jalur bedengan, lebar 80-120 cm dan lebar parit 30-50 cm.&lt;br /&gt;- Lakukan pengapuran bila kondisi tanah terlalu asam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Penanaman di tengah bedengan, pola tanam monokultur&lt;br /&gt;- Buat lubang tanam dekat tanaman penegak berukuran panjang, lebar dan dalam antara 20x15x10 cm, 25x20x12 cm dan 30x25x15 cm.&lt;br /&gt;- Tanam stek dengan cara memasukkan 3 ruas seluruhnya ke dalam lubang secara mendatar agar akar tumbuh cepat dan sempurna&lt;br /&gt;- Tutup dengan tanah galian yang dicampur dengan pupuk kandang&lt;br /&gt;- Stek bibit bagian atas yang tidak terbenam dalam tanah diikat pada pohon panjatan dengan ikatan longgar.&lt;br /&gt;- Waktu tanam stek bibit yang baik pada awal musim hujan. Sedangkan stek yang akan ditanam sebaiknya dibiarkan / dilayukan terlebih dahulu selama 4 - 7 hari dan pangkal stek bibit direndam dalam POC NASA / HORMONIK (1-2 cc/liter) + Natural GLIO untuk menghindari pembusukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;PEMELIHARAAN TANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Penyulaman &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lakukan pengecekan setelah umur 2-3 minggu setelah tanam, apabila ada stek yang tumbuh kurang baik, segera disulam.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Penyiangan dan Pembubunan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan dilakukan sebulan sekali sesudah penanaman sampai pertumbuhan panili tidak kerdil dan terlambat. Pembubunan bersamaan dengan penyiangan untuk menjaga bedengan tetap rapi dan tanah tetap gembur agar air mudah terserap.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Perempelan &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Perempelan bentuk, memotong 15 cm dari tanaman yang dilengkungkan dan sisakan 3 cabang terbaik untuk dipelihara agar terbentuk kerangka tanaman kuat dan seimbang&lt;br /&gt;- Perempelan produksi, memotong pucuk sepanjang 10-15 cm menjelang musim berbunga dan saat berbuah untuk merangsang pertumbuhan generatif terutama pertumbuhan bunga dan buah&lt;br /&gt;- Perempelan peremajaan, memotong cabang-cabang yang sudah pernah berbuah dan cabang-cabang yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4. Pemupukan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Tebar pupuk makro di sekitar pohon dan timbun dengan tanah karena sistem perakaran panili cukup dangkal. Kebutuhan pupuk makro per ha per tahun adalah Urea 8 kg, TSP 4 kg, KCl 14 kg, CaCO3 5 - 10 kg, MgSO4 H2O 2,5 - 5 kg/ha/tahun dan pupuk kandang 10-20 kg/pohon/tahun.&lt;br /&gt;- Pemupukan diberikan setahun sekali. Akan lebih baik jika dikocor dengan SUPER NASA dosis + 0,5 sdm / 5 lt air per pohon setiap 3 bulan sekali dan penyemprotan POC NASA dosis 4-5 tutup/tangki setiap 2 - 4 minggu sekali atau POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-4 minggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;5. Pengairan dan Penyiraman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanaman panili tidak tahan terhadap kekeringan sehingga pada musim kemarau perlu disiram secukupnya untuk merangsang pertumbuhan tanaman, perkembangan bunga serta buah.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;6. Pemberian Mulsa &amp;amp; Pendangiran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pemberian mulsa dapat dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan pendangiran. Bahan mulsa dari hasil pemangkasan pohon pelindung, tetapi bisa juga serbuk gergaji yang diletakkan di atas permukaan tanah dekat pohon panili.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;7. Perambatan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sistem pagar sulur-sulur, tanaman panili dibiarkan menjalar pada pagar yang telah dipasang secara horisontal. Pagar tempat menjalarnya panili dapat dibuat dari bambu yang diikatkan pada pohon yang satu dengan pohon yang lain.&lt;br /&gt;Sistem perambatan penunjang tunggal, tanaman panili dirambatkan lurus ke atas pada naungannya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;8. Pemangkasan Pohon Pelindung &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pohon pelindung dapat digunakan Glyricidia maculate, lamtoro dan dadap. Pemangkasan cabang dilakukan untuk mempertahankan agar tetap teduh, mempermudah sistem sirkulasi dan mengatur intensitas sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;9. Pembungaan dan Penyerbukan &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Panili berbunga setelah berumur 1,5-3 tahun, bunga yang muncul berupa dompolan dan akan mekar satu bunga secara bergantian. Mekarnya bunga hanya berlangsung 12 jam, yaitu mulai pukul 24:00 sampai menjelang tengah hari, sesudah itu bunga mulai layu dan mati. Oleh karena itu penyerbukan bunga dilakukan sekitar pukul 08:00 sampai 10:00. Penyerbukan buatan pada prinsipnya adalah mengangkat/memotong bibir yang membatasi kepala sari dan kepala putik, kemudian benang sari ditekan ke kepala putik untuk dilakukan penyerbukan. Seminggu setelah penyerbukan semprot dengan dosis POC NASA (3-4 tutup) dan HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 2-3 minggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGENDALIAN  HAMA  DAN  PENYAKIT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Hama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. Bekicot &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menyerang dan merusak batang, bunga dan buah. Aktifitasnya dilakukan pada malam hari. Pengendalian: secara manual dengan mengambil dan mengumpulkan bekicot satu persatu kemudian dibakar sekaligus dalam satu lubang.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Belalang pedang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Merusak/memakan daun muda dan batang panili. Pengendalian: menyemprotkan PESTONA atau Natural BVR&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Penggerek  batang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Larva hama ini merusak/menggerek batang tanaman panili yang menyebabkan tanaman panili lambat laun layu dan mati. Pengendalian penyemprotan PESTONA&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4. Ulat bulu jambul dan ulat geni&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Merusak bagian pucuk, daun, batang dan bunga. Pengendalian: penyemprotan PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;1. Busuk akar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: akar hitam, tanaman menjadi kecoklat-coklatan dan akhirnya mati; biasanya terjadi pada saat produksi tertinggi pertama kali tercapai. Pengendalian: menjaga kesuburan tanah dengan pemupukan, pemberian kapur secukupnya, dan mengatur kelembaban , pencegahan diawal dengan Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Busuk batang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Fusarium batatatis. Gejala: pada batang terjadi bercak-bercak berwarna hitam yang akan meluas dan melingkar dengan cepat. Batang terserang akan keriput, berwarna coklat dan akhirnya kering. Pengendalian: mengurangi kelembaban dan drainase yang baik, saat stek akan ditanam dicelup dalam POC NASA + Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Busuk buah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ditemukan pada buah panili muda. Gejala: muncul bila menyerang pangkal buah muda sehingga banyak buah yang berguguran dan bila menyerang tengah buah akan hitam, kering selanjutnya mati. Pengendalian: penyemprotan Natural GLIO + gula pasir dosis 1-2 sendok teh per 10 liter air.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4. Busuk pangkal batang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: Jamur Sclerotium sp. Gejala: pangkal batang tampak berwarna coklat dan kebasah-basahan, bagian tanaman yang diserang dan tanah sekitar terdapat misellium jamur berwarna putih seperti bulu dengan banyak sclerotium warna coklat. Pengendalian: gunakan bibit bebas busuk pangkal batang, penyemprotan Natural GLIO + gula pasir.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;5. Bercak coklat pada buah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: oleh cendawan Phytophthora sp. dan menyerang buah panili yang hampir masak. Gejala: bercak-bercak coklat tua dan akhirnya busuk. Pengendalian: (1) segera petik buah terserang kemudian membakarnya; (2) penyemprotan dengan Natural GLIO dosis 1-2 sendok/10 liter air.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;6. Bercak coklat pada batang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Nectria vanilla, zimm. Gejala: batang tampak bercak coklat yang lama-kelamaan menghitam dan melingkar ruas dan mati. Pengendalian: potong dan bakar batang yang terserang.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;7.  Antraknosa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Calospora vanillae, Mass. Gejala: batang, daun, buah berwarna coklat muda kekuningan tampak licin dan terlihat jelas bagian terserang dan tidak. Pengendalian: Potong dan bakar bagian terserang, atur kelembaban dan drainase.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;8. Karat merah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: Ganggang Cephaleuros heningsii, Schm. Gejala: bercak pada daun dan terus meluas hingga daun kering selanjutnya mati. Pengendalian: Singkirkan bagian terserang dan atur kelembaban kebun dengan pemangkasan pohon pelindung.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;9. Penyakit pascapanen&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab penyakit yang menyerang panili setelah dipanen : jamur Aspergillus, Penicillium, Rhizopus, sp dan Sclerotium, sp. Pengendalian: penanganan pasca panen yang baik.&lt;br /&gt;Catatan : Jika Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum dapat mengatasi, dapat digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dn tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dosis 1-2 tutup/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. PANEN DAN PASCA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Pemetikan pada umur 240 hari (8 bulan) akan menghasilkan panili kering dengan kadar vanillin yang tinggi, kadar abu terendah, rendemen tertinggi dan kadar air yang aman&lt;br /&gt;- Ciri-ciri panili siap dipanen yaitu warna berubah dari hijau tua mengkilap menjadi hijau muda suram dengan garis-garis kecil warna kuning yang lambat laun melebar sampai ujung buah&lt;br /&gt;- Musim panen antara bulan Mei sampai Juli, sekitar 2 - 3 bulan&lt;br /&gt;- Cara panen yang terbaik adalah memetik satu-persatu buah masak tanpa mengganggu buah lain dalam satu tandan yang masih mentah untuk menjaga mutu panili.&lt;br /&gt;- Buah dikumpulkan dalam keranjang bambu dan dijaga agar buah tidak terluka atau cacat dan sortir berdasar ukuran, bentuk, tingkat kemasakan dan buah yang cacat &gt;20 cm&lt;br /&gt;- Lakukan pelayuan untuk menghentikan proses respirasi yang terjadi dalam buah, mematikan sel-sel buah panili tanpa mengurangi aktifitas dan kadar enzim dalam buah. Proses pelayuan dengan menggunakan alat perebus yang diisi air ¾ bagian dengan suhu antara 65-950 C&lt;br /&gt;- Lakukan pemeraman dalam kotak khusus yang lengkap dengan tutup dan karung goni sebagai alasnya, utuk pembentukan aroma selama + 48 jam&lt;br /&gt;- Lakukan pengeringan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari, dioven dan diangin-anginkan untuk mengurangi kadar air hingga 25-30 %&lt;br /&gt;- Tempatkan buah panili kering dalam kotak yang dalamnya telah dilapisi kertas koran/karung plastik tipis dan simpan pada suhu kamar, siap dikirim dan dijual&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-1032477517732397781?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/1032477517732397781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=1032477517732397781' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1032477517732397781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1032477517732397781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-panili.html' title='Budidaya PANILI'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL1OgxaR1I/AAAAAAAAAMo/ApmCEL26PK4/s72-c/lif-005+panili.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-2758410853991291782</id><published>2008-07-30T01:15:00.001-07:00</published><updated>2008-08-01T04:32:11.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pepaya'/><title type='text'>Budidaya PEPAYA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL0CxMwU2I/AAAAAAAAAMI/XZxKWXT9qsE/s1600-h/lif-049+pepaya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL0CxMwU2I/AAAAAAAAAMI/XZxKWXT9qsE/s400/lif-049+pepaya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229510445734318946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman dapat tumbuh pada dataran rendah dan tinggi 700 - 1000 mdpl, curah hujan 1000 - 2000 mm/tahun, suhu udara optimum 22 - 26 derajat C dan kelembaban udara sekitar 40% dan angin yang tidak terlalu kencang sangat baik untuk penyerbukan. Tanah subur, gembur, mengandung humus dan harus banyak menahan air, pH tanah yang ideal adalah netral dengan pH 6 -7.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMBIBITAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1.  Persyaratan Bibit/Benih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Biji-biji yang digunakan sebagai bibit diambil dari buah-buah yang telah masak benar dan berasal dari pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk diambil biji-bijinya. Biji yang dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit yang menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat yang teduh.&lt;br /&gt;- Biji yang segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dari buah yang sudah terlalu masak/tua dan jangan dari pohon yang sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2.  Penyiapan Benih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan benih perhektar 60 gram (± 2000 tanaman). Benih direndam dalam larutan POC NASA 2 cc/liter selama 1-2 jam, ditiriskan dan ditebari Natural GLIO kemudian disemai dalam polybag ukuran 20 x 15 cm. Media yang digunakan merupakan campuran 2 ember tanah yang di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang yang sudah matang dan diayak ditambah 50 gram TSP dihaluskan ditambah 30 gram Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3.  Teknik Penyemaian Benih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Benih dimasukan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dengan tanah. Disiram setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat ketinggiannya 15-20 cm atau 45-60 hari bibit siap ditanam.&lt;br /&gt;- Biji-biji tersebut bisa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian dilakukan 2 atau 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan ke kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada persemaian biji-biji ditaburkan dalam larikan (barisan ) dengan jarak 5 - 10 cm. Biji tidak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedalam biji, yakni 1 cm. Dengan pemeliharaan yang baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam. Semprotkan POC NASA seminggu sekali dosis 2 tutup/tangki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;5.  Pemindahan Bibit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Bibit-bibit yang sudah dewasa, sekitar umur 2 - 3 bulan dapat dipindahkan pada permulaan musim hujan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENGOLAHAN MEDIA TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1.  Persiapan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Lahan dibersihkan dari rumput, semak dan kotoran lain, kemudian dicangkul/dibajak dan digemburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2.  Pembentukan Bedengan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Bentuk bedengan berukuran lebar 200 - 250 cm, tinggi 20 - 30 cm, panjang secukupnya, jarak antar bedengan 60 cm. &lt;br /&gt; - Buat lubang ukuran 50 x 50 x 40 cm di atas bedengan, dengan jarak tanam 2 x 2,5 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3.  Pengapuran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apabila tanah yang akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dari 5), setelah diberi pupuk yang matang, perlu ditambah ± 1 kg Dolomit dan biarkan 1-2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;4.  Pemupukan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebelum diberi pupuk, tanah yang akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu minggu, setelah itu tutup dengan tanah campuran 3 blek pupuk kandang yang telah matang atau dengan SUPERNASA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;TEKNIK PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1.  Pembuatan Lubang Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 40 cm, yang digali secara berbaris. Biarkan lubang-lubang kosong agar memperoleh cukup sinar matahari. - - Setelah itu lubang-lubang diisi dengan tanah yang telah dicampuri dengan pupuk kandang 2 - 3 blek. Jika pupuk kandang tidak tersedia dapat dipakai SUPERNASA dengan cara disiramkan kelubang tanam dosis 1 sendok makan/10 lt air sebelum tanam. Lubang - lubang yang ditutupi gundukan tanah yang cembung dibiarkan 2-3 hari hingga tanah mengendap. Setelah itu baru lubang-lubang siap ditanami. Lubang-lubang tersebut diatas dibuat 1-2 bulan penanaman.&lt;br /&gt;- Apabila biji ditanam langsung ke kebun, maka lubang - lubang pertanaman harus digali terlebih dahulu. Lubang-lubang pertanaman untuk biji-biji harus selesai ± 5 bulan sebelum musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2.  Cara Penanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tiap-tiap lubang diisi dengan 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan dapat dilihat tanaman yang jantan dan betina atau berkelamin dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMELIHARAAN TANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1.  Penjarangan dan Penyulaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai berbunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2.  Penyiangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan penyiangan (pembuangan rumput). Kapan dan berapa kali kebun tersebut harus disiangi tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3.  Pembubunan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan pendangiran tanah. Kapan dan berapa kali kebun tersebut harus didangiri tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;4.  Pemupukan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pohon pepaya memerlukan pupuk yang banyak, khususnya pupuk organik, memberikan zat-zat makanan yang diperlukan dan dapat menjaga kelembaban tanah.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Cara pemberian pupuk:&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50 gram TSP dan 25 gram KCl, dicampur dan ditanam melingkar.&lt;br /&gt; - Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dengan komposisi 75 gram ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, dan 40 gram KCl&lt;br /&gt; - Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dengan komposisi 75 gram ZA, 50 gram Urea, 75 gramTSP, 50 gram KCl&lt;br /&gt; - Umur 6 bulan dan seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dengan 100 gram ZA, 60 gram Urea, 75 gramTSP, dan 75 gram KCl&lt;br /&gt; - Siramkan SUPERNASA ke lubang tanam dengan dosis 1 sendok makan/10 liter air setiap 1-2 bulan sekali&lt;br /&gt; - Lakukan penyemprotan POC NASA dosis 3 tutup / tangki  setiap 1-2 minggu sekali setelah tanam sampai umur 2-3 bulan&lt;br /&gt; - Setelah umur 3 bulan semprot dengan POC NASA  3 - 4 tutup ditambah  HORMONIK dosis 1 - 2 tutup / tangki.&lt;br /&gt; - Penyemprotan hati - hati pada saat berbunga agar tidak kena bunga yang mekar atau lebih aman bisa disiramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;5. Pengairan dan Penyiraman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tidak tahan air yang tergenang. Maka pengairan dan pembuangan air harus diatur dengan seksama. Apalagi di daerah yang banyak turun hujan dan bertanah liat, maka harus dibuatkan parit-parit. Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;HAMA DAN PENYAKIT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kutu tanaman (Aphid sp., Tungau). Badan halus panjang 2 - 3 mm berwarna hijau, kuning atau hitam. Memiliki sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut dan kaki panjang. Kutu dewasa, ada yang bersayap dan tidak. Merusak tanaman dengan cara menghisap cairan dengan pencucuk penghisap yang panjang di bagian mulut.&lt;br /&gt; Pengendalian : semprot dengan Natural BVR atau PESTONA secara bergantian&lt;br /&gt;Penyakit yang sering merugikan tanaman pepaya adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur, virus mosaik, rebah semai, busuk buah, leher akar, pangkal batang dan nematoda.&lt;br /&gt;Penyakit mati bujang diisebabkan oleh jamur Phytophthora parasitica, P. palmivora dan Pythium aphanidermatum. Menyerang buah dan batang pepaya. Cara pencegahan: perawatan kebun yang baik, menjaga kebersihan, dan drainase serta sebarkan Natural GLIO ke lubang tanam, sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita.&lt;br /&gt;Nematoda. Apabila lahan telah ditanami pepaya, disarankan agar tidak menanam pepaya kembali, untuk mencegah timbulnya serangan nematoda. Tanaman yang terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu dan mati. Pengendalian : Siramkan PESTONA ke lubang tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PANEN DAN PASCA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1.  Ciri dan Umur Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman pepaya dapat dipanen setelah berumur 9-12 bulan. Buah pepaya dipetik harus pada waktu buah itu memberikan tanda-tanda kematangan: warna kulit buah mulai menguning. Tetapi masih banyak petani yang memetiknya pada waktu buah belum terlalu matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2.  Cara Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Panen dilakukan dengan berbagai macam cara, pada umumnya panen/pemetikan dilakukan dengan menggunakan "songgo" (berupa bambu yang pada ujungnya berbentuk setengah kerucut yang berguna untuk menjaga agar buah tersebut tidak jatuh pada saat dipetik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3.  Periode Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Panen dilakukan setiap 10 hari sekali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-2758410853991291782?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/2758410853991291782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=2758410853991291782' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2758410853991291782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2758410853991291782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-pepaya.html' title='Budidaya PEPAYA'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJL0CxMwU2I/AAAAAAAAAMI/XZxKWXT9qsE/s72-c/lif-049+pepaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-1497611824297551530</id><published>2008-07-30T01:14:00.000-07:00</published><updated>2008-08-01T04:24:57.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pisang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='banana'/><title type='text'>Budidaya PISANG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLySGL458I/AAAAAAAAAMA/YBJ23IhToMs/s1600-h/lif-055+pisang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLySGL458I/AAAAAAAAAMA/YBJ23IhToMs/s400/lif-055+pisang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229508510042613698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pisang adalah tanaman buah , sumber vitamin, mineral dan karbohidrat. Di Indonesia pisang yang ditanam baik dalam skala rumah tangga ataupun kebun pemeliharaannya kurang intensif. Sehingga, produksi pisang Indonesia rendah, dan tidak mampu bersaing di pasar internasional. Untuk itu PT. NATURAL NUSANTARA merasa terpanggil untuk membantu petani meningkatkan produksi secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (Aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;II. SYARAT TUMBUH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.1. Iklim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis.&lt;br /&gt;b. Kecepatan angin tidak terlalu tinggi.&lt;br /&gt;c. Curah hujan optimal adalah 1.520 - 3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.2. Media Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Sebaiknya pisang ditanam di tanah berhumus dengan pemupukan.&lt;br /&gt;b. Air harus selalu tersedia tetapi tidak menggenang.&lt;br /&gt;c. Pisang tidak hidup pada tanah yang mengandung garam 0,07%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.3.Ketinggian Tempat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon, nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.1. Pembibitan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Perbanyakan dengan cara vegetatif berupa tunas (anakan).&lt;br /&gt;- Tinggi anakan untuk bibit 1 - 1,5 m, lebar potongan umbi 15 - 20 cm.&lt;br /&gt;- Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat.&lt;br /&gt;- Bibit yang baik daun masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.2. Penyiapan Bibit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Tanaman untuk bibit ditanam dgn jarak tanam 2x2 m&lt;br /&gt;- Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7- 9. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.3. Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Setelah dipotong, bersihkan tanah yang menempel di akar.&lt;br /&gt;- Simpan bibit di tempat teduh 1 - 2 hari sebelum tanam.&lt;br /&gt;- Buang daun yang lebar.&lt;br /&gt;- Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam larutan POC NASA (1 - 2 tutup), HORMONIK (0,5 -1 tutup), Natural GLIO (1 - 2 sendok makan) dalam setiap 10 liter air, selama 10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.&lt;br /&gt;- Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda, rendam umbi bibit di dalam air panas beberapa menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.4. Pengolahan Media Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Lakukan pembasmian gulma, rumput atau semak-semak.&lt;br /&gt;- Gemburkan tanah yang masih padat&lt;br /&gt;- Buat sengkedan terutama pada tanah miring dan buat juga saluran pengeluaran air.&lt;br /&gt;- Dianjurkan menanam tanaman legum seperti lamtoro di batas sengkedan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.5. Teknik Penanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm  pada tanah gembur.&lt;br /&gt;- Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.&lt;br /&gt;- Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September - Oktober).&lt;br /&gt;- Siapkan campuran Natural GLIO dan pupuk kandang, caranya: Campur 100 gram Natural GLIO dengan 25 - 50 kg pupuk kandang, jaga kelembaban dengan memercikan air secukupnya, masukkan ke dalam karung, biarkan 1 - 2 minggu.&lt;br /&gt;- Pisahkan tanah galian bagian atas dan bagian bawah.&lt;br /&gt;- Tanah galian bagian atas dicampur Natural GLIO yang sudah dicampur pupuk kandang (0,5 - 1 kg per lubang tanam), tambahkan dolomit (0,5 - 1 kg/lubang tanam), pupuk kandang 15 - 20 kg/lubang tanam.&lt;br /&gt;- Masukkan bibit dengan posisi tegak, tutup terlebih dulu dengan tanah bagian atas yang sudah dicampur Natural GLIO, dolomit dan pupuk kandang, diikuti tanah galian bagian bawah. Catatan : pupuk kandang diberikan jika tersedia, jika tidak dapat diganti dengan SUPERNASA.&lt;br /&gt;- Siram dengan larutan POC NASA (1 - 2 tutup), HORMONIK (0,5 tutup) dalam setiap 5 liter air. Untuk mendapatkan hasil lebih baik, POC NASA dapat diganti dengan POP SUPERNASA. Cara penggunaan POP SUPERNASA: 1 (satu) botol POP SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 5 liter air diberi 5 tutup larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon. -Penyiraman dilakukan 2 - 3 bulan sekali.&lt;br /&gt;Data kebutuhan dan cara pemupukan, adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="85"&gt;   &lt;col width="74"&gt;   &lt;col width="234"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr height="17"&gt;     &lt;td height="17" width="85"&gt;&lt;div align="center"&gt;PUPUK&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="74"&gt;&lt;div align="center"&gt;JUMLAH&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="234"&gt;&lt;div align="center"&gt;KETERANGAN&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="34"&gt;     &lt;td height="34" width="85"&gt;UREA&lt;/td&gt;     &lt;td width="74"&gt;207    (kg/ha)&lt;/td&gt;     &lt;td width="234"&gt;Berikan    2x setahun, dalam larikan yang mengitari rumpun lalu ditutup tanah&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="34"&gt;     &lt;td height="34" width="85"&gt;SP-36&lt;/td&gt;     &lt;td width="74"&gt;138    (kg/ha)&lt;/td&gt;     &lt;td width="234"&gt;6    bulan setelah tanam ( 2x dalam satu tahun )&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="34"&gt;     &lt;td height="34" width="85"&gt;KCl&lt;/td&gt;     &lt;td width="74"&gt;608    (kg/ha)&lt;/td&gt;     &lt;td width="234"&gt;6    bulan setelah tanam ( 2x dalam satu tahun )&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="34"&gt;     &lt;td height="34" width="85"&gt;Pupuk Kandang&lt;/td&gt;     &lt;td width="74"&gt;&lt;div align="center"&gt;0,8-10    (kg/ha)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="234"&gt;Pupuk    dasar, campur dengan tanah galian bagian atas&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="34"&gt;     &lt;td height="34" width="85"&gt;Dolomit&lt;/td&gt;     &lt;td width="74"&gt;&lt;div align="center"&gt;200    (kg/ha)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="234"&gt;Pupuk    dasar, campur dengan tanah galian bagian atas&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="34"&gt;     &lt;td height="34" width="85"&gt;POC NASA&lt;/td&gt;     &lt;td width="74"&gt;&lt;div align="center"&gt;20    (botol/ha)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="234"&gt;Disiramkan    3 bulan sekali&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="34"&gt;     &lt;td height="34" width="85"&gt;SUPERNASA&lt;/td&gt;     &lt;td width="74"&gt;&lt;div align="center"&gt;10    (botol/ha)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="234"&gt;4    bulan sekali&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="34"&gt;     &lt;td height="34" width="85"&gt;HORMONIK&lt;/td&gt;     &lt;td width="74"&gt;&lt;div align="center"&gt;10    (botol/ha)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="234"&gt;Dicampur    POC NASA disiram 3 bulan sekali&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.6. Pemeliharaan Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Satu rumpun hanya 3 - 4 batang.&lt;br /&gt;- Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan).&lt;br /&gt;- Setelah 5 tahun rumpun dibongkar diganti tanaman baru.&lt;br /&gt;- Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan dan penimbunan dapuran dengan tanah.&lt;br /&gt;- Penyiangan dan penggemburan jangan terlalu dalam.&lt;br /&gt;- Pangkas daun kering.&lt;br /&gt;- Pengairan harus terjaga. Dengan disiram atau mengisi parit saluran air.&lt;br /&gt;- Pasang mulsa berupa daun kering ataupun basah. Tetapi mulsa tidak boleh dipasang terus menerus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.7. Pemeliharaan Buah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Potong jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir.&lt;br /&gt;- Setelah sisir pisang mengembang sempurna, tandan pisang dibungkus kantung plastik bening polietilen tebal 0,5 mm, diberi lubang diameter 1,25 cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Usahakan kantung menutupi 15 -45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah ujung buah dari sisir terbawah.&lt;br /&gt;- Batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan sedalam 30 cm ke dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.8. Hama dan Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;3.8.1. Hama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  a. Ulat daun (Erienota thrax.)&lt;br /&gt;Menyerang daun. Gejala: daun menggulung seperti selubung dan sobek hingga tulang daun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)&lt;br /&gt;Menyerang kelopak daun, batang. Gejala: lorong-lorong ke atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong. Pengendalian: sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis)&lt;br /&gt;Menyerang akar. Gejala : tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak. Pengendalian: gunakan bibit yang tahan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan dengan kadar lempung kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)&lt;br /&gt;Menyerang bunga dan buah. Gejala: pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.8.2. Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Penyakit darah&lt;br /&gt;Penyebab : Xanthomonas celebensis (bakteri). Menyerang jaringan tanaman bagian dalam. Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah. Pengendalian: Pemberian Natural GLIO sebelum tanam, dan membongkar dan membakar tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Panama&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Menyerang daun. Gejala : daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam, membongkar dan membakar tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Bintik daun&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Cercospora musae. Menyerang daun dengan gejala bintik sawo matang yang makin meluas. Pengendalian: : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Layu&lt;br /&gt;Penyebab : bakteri Bacillus sp. menyerang akar. Gejala: tanaman layu dan mati. Pengendalian : membongkar dan membakar tanaman yang sakit, Natural GLIO diawal tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Daun pucuk&lt;br /&gt;Penyebab : virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Menyerang daun pucuk. Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara berkelompok. Pengendalian: Mengendalikan kutu duan dengan Natural BVR, membongkar dan membakar tanaman yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.9. Panen&lt;br /&gt;- Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera. Buah 80 - 100 hari dengan siku-siku buah yang masih jelas sampai hampir bulat.&lt;br /&gt;- Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu memotong tandan.&lt;br /&gt;- Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah.&lt;br /&gt;- Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali.&lt;br /&gt;- Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3 - 10 hari sekali tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-1497611824297551530?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/1497611824297551530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=1497611824297551530' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1497611824297551530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1497611824297551530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-pisang.html' title='Budidaya PISANG'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLySGL458I/AAAAAAAAAMA/YBJ23IhToMs/s72-c/lif-055+pisang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-3025598585293878287</id><published>2008-07-30T01:13:00.002-07:00</published><updated>2008-08-01T04:18:54.164-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='strowberry'/><title type='text'>Budidaya STROWBERRY</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLw8A_dujI/AAAAAAAAALw/mJO3J680exY/s1600-h/lif-053+strowberry.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLw8A_dujI/AAAAAAAAALw/mJO3J680exY/s400/lif-053+strowberry.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229507031179573810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p valign="top" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Prospek agribisnis strowberry di Indonesia cukup cerah dilihat dari daya serap pasar dan permintaan dunia dari tahun ke tahun meningkat.&lt;br /&gt;Dengan semangat ramah lingkungan PT. Natural Nusantara berperan dalam meningkatkan Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian terhadap lingkungan pada budidaya strowberi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Lama penyinaran matahari 8 - 10 jam hari. Curah hujan berkisar 600 700 mm pertahun. Suhu udara optimum antara 17°C - 20°C dan suhu udara minimum antara 4°C - 5°C dengan kelembaban udara 80% - 90%.Ketinggian tempat yang ideal antara 1000-2000 m dpl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGOLAHAN LAHAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Sebelum lahan dibajak digenangi air lebih dahulu semalam. Keesokan harinya dilakukan pembajakan sedalam sekitar 30 cm, setelah itu tanah dilakukan pengeringan baru dihaluskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBENTUKAN BEDENGAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Bentuk bedengan dengan ukuran lebar 80-120 cm, tinggi 30 - 40 cm, jarak antar bedengan 60 cm, panjang menyesuaikan keadaan lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGAPURAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;  Berikan dolomit sekitar 100-200 kg per 1000 m2 sesuai kondisi lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMUPUKAN DASAR&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Taburkan pupuk UREA 20 kg + TSP 25 kg + KCl 10 kg dan Pupuk kandang 2-3 ton dalam 1000 m2. POC NASA disiramkan 30-60 tutup/1000 m2 ditambahkan air secukupnya. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, POC NASA diganti SUPERNASA caranya yaitu 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter sebagai larutan induk, kemudian ambil 50 liter air dan tambahkan 200 cc larutan induk tadi.Setelah itu siramkan ke bedengan secara merata. 1 botol SUPERNASA bisa untuk 1000-2000 m2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBERIAN NATURAL GLIO&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Untuk mencegah serangan penyakit karena jamur utamanya penyakit layu tebarkan Natural GLIO yang telah dicampur dengan pupuk kandang dan didiamkan selama seminggu. 1 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-30 kg pupuk kandang untuk luasan sekitar 1000 m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMASANGAN MULSA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;  Pemasangan mulsa plastik pada saat matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga dapat tepat menutup bedengan dengan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBUATAN LUBANG TANAM&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Diameter lubang ± 10 cm, dengan jarak lubang 30 - 50 cm. Model penanaman dapat berupa dua baris berhadap-hadapan membentuk segi empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CARA PENANAMAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Pindahkan bibit beserta medianya, sebaiknya bibit dikondisikan selama sebulan sebelum tanam di kebun,dan saat penanaman usahakan perakaran tidak rusak saat membuka polibag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENYULAMAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;  Penyulaman paling lambat 15-30 hari setelah tanam, pada sore hari dan segera disiram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENYIANGAN &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;   Penyiangan dilakukan pada gulma/ rumput liar yang menyaingi kehidupan tanaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMANGKASAN &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;   Dilakukan pada sulur yang kurang produktif, rimbun, serta pada bunga pertama untuk memperoleh buah yang prima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="style95"&gt;&lt;strong&gt;PEMUPUKAN SUSULAN &lt;br /&gt; &lt;/strong&gt; Pupuk diberikan pada umur 1,5 - 2 bulan setelah tanam dengan NPK (16-16-16) sebanyak 5 kg yang dilarutkan dalam 200 liter air, kemudian dikocorkan sebanyak 350-500 cc/ tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENGGUNAAN POC NASA + HORMONIK &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Semprotkan (3-4 tutup POC NASA) + (1-2 tutup HORMONIK) per-tangki 14 liter setelah 2 bulan dengan interval 7-10 hari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;H A M A&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; a. Kutu daun &lt;em&gt;(Chaetosiphon fragaefolii)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang : permukaan daun bagian bawah, kuncup bunga, pucuk atau batang muda. Gejala : pucuk atau daun keriput, keriting, kadang-kadang pembentukan daun atau buah terhambat. Pencegahan gunakan PENTANA + AERO 810 atau Natural BVR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; b. TUNGAU &lt;em&gt;(Tetranychus sp -Tarsonemus sp)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang: daun,tangkai, dan buah. Gejala :daun bercak kuning, coklat, keriting akhirnya daun rontok. Pencegahan PENTANA + AERO 810 atau NATURAL BVR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; c. Kumbang penggerek bunga &lt;em&gt;(Anthonomus rubi)&lt;/em&gt;, kumbang penggerek akar (Othiorhychus rugosostriatus), kumbang penggerek batang (O. Sulcatus)&lt;br /&gt;Gejala serangan : adanya bubuk berupa tepung pada bagian yang digereknya. Pencegahan semprotkan PESTONA atau PENTANA + AERO 810 secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENYAKIT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; a. Layu verticillium &lt;em&gt;(Verticillium dahliae)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang: mulai dari akar, daun, hingga tanaman. Gejala : daun yang terinfeksi mula-mula berwarna kuning hingga kecoklatan, serangan berat akan mengakibatkan kematian pada tanaman. Pengendalian : perbaikan drainase, sanitasi kebun, gunakan Natural GLIO pada awal tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; b. Busuk buah matang/Ripe Fruit Rot &lt;em&gt;(Colletotrichum fragariae Brook)&lt;/em&gt; Busuk Rhizopus/ Rhizopus spot &lt;em&gt;( Rhizopus stolonifer )&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang : buah. Gejala : RFR yang khas hanya pada buah yang masak saja dengan buah busuk disertai massa spora berwarna merah jambu. Pada RS, buah busuk lunak, berair, bila dipijit keluar cairan keruh.&lt;br /&gt; &lt;span class="style97"&gt;Pengendalian : musnahkan buah yang terinfeksi, perbaiki drainase kebun, pemulsaan, rotasi tanaman, gunakan Natural GLIO pada awal penanaman yang dicampur dengan pupuk kandang yang telah jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; c. Busuk akar &lt;em&gt;( Idriella lunata, Pythium ulmatum, Rhizoctonia solani)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang : akar tanaman. Gejala : Idriella menyebabkan ujung-ujung akar tanaman berwarna hitam dan busuk, sedangkanPhytium mengakibatkan batang batas akar di permukaan tanah busuk berwarna coklat hingga hitam. Sementara jamur Rhizoctonia mengakibatkan sistem perakaran busuk kebasah-basahan.&lt;br /&gt; &lt;span class="style97"&gt;Pengendalian : cabut dan musnahkan tanaman yang terserang berat, tambahkan kapur untuk tanah, lakukan rotasi tanaman, perbaikan drainase tanaman, berikan Natural GLIO pada awal penanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; d. Empulur merah &lt;em&gt;(Phytophtora fragrariae)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang : perakaran tanaman. Gejala : tanaman kerdil, daun tudak segar bahkan dapat layu, bila diamati akar dan pangkal batang yang terinfeksi pada empulurnya akan tampak berwarna merah.Penyakit ini mengakibatkan serangan hebat pada kondisi drainase jelek dan masam/pH rendah.&lt;br /&gt; &lt;span class="style97"&gt;Pengendalian : perbaiki drainase, pengapuran tanah, rotasi tanaman, gunakan bibit yang sehat dan hindari luka mekanis pada pemeliharaan, musnahkan tanaman yang terinfeksi berat, campurkan Natural GLIO pada awal penanaman.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Catatan : &lt;/strong&gt;Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman stroberi mulai berbunga pada umur 2 bulan setelah tanam. Namun pembuahan atau pembungaan pertama sebaiknya dibuang atau dipangkas karena belum bisa berproduksi secara optimum. Setelah tanaman berumur 4 bulan mulai diarahkan untuk lebih produktif berbunga dan berbuah.Panen dilakukan dengan dipetik atau digunting bagian tangkai buah beserta kelopaknya, dan dilakukan secara periodik dua kali seminggu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-3025598585293878287?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/3025598585293878287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=3025598585293878287' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3025598585293878287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/3025598585293878287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-strowberry.html' title='Budidaya STROWBERRY'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLw8A_dujI/AAAAAAAAALw/mJO3J680exY/s72-c/lif-053+strowberry.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-6724410853845969146</id><published>2008-07-30T01:13:00.001-07:00</published><updated>2008-08-01T04:02:48.298-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cabe'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cabai merah'/><title type='text'>Budidaya CABAI MERAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLs5f4Nu2I/AAAAAAAAALo/wVz3fxrPy3g/s1600-h/lif-017+cabai+merah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLs5f4Nu2I/AAAAAAAAALo/wVz3fxrPy3g/s400/lif-017+cabai+merah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229502589884545890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;A. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.&lt;br /&gt;PT. Natural Nusantara ( NASA ) berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ), sehingga petani dapat berkompetisi di era pasar bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;B. FASE PRATANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. Pengolahan Lahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Tebarkan pupuk kandang  dosis  0,5 -1 ton/ 1000 m2&lt;br /&gt;· Diluku kemudian digaru (biarkan  +  1 minggu)&lt;br /&gt;· Diberi Dolomit  sebanyak 0,25 ton / 1000 m2&lt;br /&gt;· Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar  80 cm&lt;br /&gt;· Siramkan SUPER NASA (1 bt) / NASA(1-2 bt)&lt;br /&gt; - Super Nasa : 1 btl dilarutkan dalam 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc  larutan  induk.&lt;br /&gt; Atau 1 gembor  ( + 10 liter ) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA dan siramkan ke bedengan  +  5-10  m.&lt;br /&gt; - NASA : 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 2-4 tutup NASA dan siramkan ke bedengan  sepanjang  + 5 - 10 meter.&lt;br /&gt;· Campurkan GLIO 100 - 200 gr ( 1 - 2 bungkus ) dengan 50 - 100 kg pupuk kandang, biarkan 1 minggu dan sebarkan ke bedengan.&lt;br /&gt;· Bedengan ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam  60 cm  x  70 cm  pola  zig  zag  ( biarkan  +  1 - 2  minggu ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2. Benih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Kebutuhan per 1000 m2  1 - 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan  Natural  CS-20,  CB-30&lt;br /&gt;· Biji  direndam  dengan   POC  NASA  dosis  0,5 - 1  tutup / liter  air  hangat  kemudian  diperam  semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt; C. FASE PERSEMAIAN ( 0-30 HARI)&lt;br /&gt; 1. Persiapan Persemaian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; · Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan  atap  plastik  atau  rumbia.&lt;br /&gt;· Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama + 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2. Penyemaian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag,  lalu  ditutup  selapis  tanah  +  pupuk kandang matang yang telah disaring&lt;br /&gt;· Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10, 17  HSS&lt;br /&gt;· Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3. Pengamatan Hama &amp;amp; Penyakit&lt;br /&gt; a. Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. &amp;amp; Rhizoctonia sp. Cara pengendalian: tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.&lt;br /&gt;· Embun bulu, ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.&lt;br /&gt;· Kelompok Virus, gejalanya pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu. Cara mengatasi; bibit terserang dicabut dan dibakar, semprot vektor virus dengan BVR atau PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;b. H a m a&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah atau lipatan&lt;br /&gt;pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.&lt;br /&gt;· Hama Thrip parvispinus, gejala serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA untuk mengurangi penyebaran.&lt;br /&gt;· Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;D. FASE TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. Pemilihan Bibit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Pilih  bibit   seragam, sehat, kuat dan tumbuh  mulus&lt;br /&gt;· Bibit  memiliki  5-6  helai  daun (umur 21 - 30 hari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2. Cara Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik ditunda.&lt;br /&gt;· Plastik polibag dilepas&lt;br /&gt;· Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA  3-4 tutup/ tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3. Pengamatan Hama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon ), aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat yang ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dengan PESTONA atau VIREXI&lt;br /&gt;· Ulat Grayak ( Spodoptera litura &amp;amp; S. exigua ),&lt;br /&gt;Ciri ulat yang baru menetas / masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut/badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian. Semprot dengan VITURA, VIREXI atau PESTONA.&lt;br /&gt;· Bekicot/siput. Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) dan buang ke luar areal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;E. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; 1. Penyiraman dapat dilakukan dengan pengocoran tiap tanaman  atau penggenangan (dilep)  jika dirasa kering.&lt;br /&gt;2. Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran merupakan perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl : NASA = (250 : 250 : 250) gr dalam 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 - 4 minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dengan perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl : NASA = (500 : 250 : 250) gr dalam 50 liter air, dengan dosis 500 cc/lubang.&lt;br /&gt; Kebutuhan  total  pupuk makro  1000 m2 : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="80"&gt;   &lt;col width="79"&gt;   &lt;col width="86"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr height="47"&gt;     &lt;td height="47" width="80"&gt;&lt;div align="center"&gt;Jenis    Pupuk&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="79"&gt;&lt;div align="center"&gt;1 - 4 minggu ( kg    )&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="86"&gt;&lt;div align="center"&gt;5 - 12 minggu (    kg )&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td height="20"&gt;&lt;div align="center"&gt;Urea&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;56&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td height="20"&gt;&lt;div align="center"&gt;SP-36&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;28&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td height="20"&gt;&lt;div align="center"&gt;KCl&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;28&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan : &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Umur 1 - 4 mg 4 kali aplikasi (± 7 tong/ aplikasi)&lt;br /&gt; - Umur 5-12 mg  8 kali aplikasi  (± 14 tong/aplikasi)&lt;br /&gt;3. Penyemprotan POC NASA ke tanaman dengan dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 dan 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.&lt;br /&gt; 4. Perempelan, sisakan 2-3 cabang  utama / produksi mulai umur 15 - 30 hr.&lt;br /&gt; 5. Pengamatan Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;·  Spodoptera litura/ Ulat grayak  Lihat depan.&lt;br /&gt;· Kutu - kutuan ( Aphis, Thrips, Tungau ), lihat  fase persemaian.&lt;br /&gt;· Penyakit Layu, disebabkan beberapa jamur antara lain Fusarium, Phytium dan Rhizoctonia. Gejala serangan tanaman layu secara tiba-tiba, mengering dan gugur daun. Tanaman layu dimusnahkan dan untuk mengurangi penyebaran, sebarkan GLIO&lt;br /&gt;· Penyakit Bercak Daun, Cercospora capsici. Jamur ini menyerang pada musim hujan diawali pada daun tua bagian bawah. Gejala serangan berupa bercak dalam berbagai ukuran dengan bagian tengah berwarna abu-abu atau putih, kadang bagian tengah ini sobek atau berlubang. Daun menguning sebelum waktunya dan gugur, tinggal buah dan ranting saja. Akibatnya buah menjadi rusak karena terbakar sinar matahari. Pengamatan pada daun tua.&lt;br /&gt;· Lalat Buah (Dacus dorsalis), Gejala serangan buah yang telah berisi belatung akan menjadi keropos karena isinya dimakan, buah sering gugur muda atau berubah bentuknya. Lubang buah memungkinkan bakteri pembusuk mudah masuk sehingga buah busuk basah. Sebagai vektor Antraknose. Pengamatan ditujukan pada buah cabai busuk, kumpulkan dan musnahkan. Lalat buah dipantau dengan perangkap berbahan aktif Metil Eugenol 40 buah / ha&lt;br /&gt;· Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides), gejala serangan mula-mula bercak atau totol-totol pada buah yang membusuk melebar dan berkembang menjadi warna orange, abu-abu atau hitam. Bagian tengah bercak terlihat garis-garis melingkar penuh titik spora berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan seluruh bagian buah mengering. Pengamatan dilakukan pada buah merah dan hijau tua. Buah terserang dikumpulkan dan dimusnahkan pada waktu panen dipisahkan. Serangan berat sebari dengan GLIO di bawah tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;F. FASE PANEN DAN PASCA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. Pemanenan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; · Panen pertama sekitar umur 60-75 hari&lt;br /&gt;· Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya&lt;br /&gt;· Setelah pemetikan ke-3 disemprot dengan POC NASA + Hormonik dan dipupuk dengan perbandingan seperti diatas, dosis 500 cc/ph&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2. Cara panen :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;· Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)&lt;br /&gt;· Pemanenan yang baik pagi hari setelah embun kering&lt;br /&gt;· Penyortiran dilakukan sejak di lahan&lt;br /&gt;· Simpan ditempat yang teduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengamatan Hama &amp;amp; Penyakit&lt;br /&gt;· Kumpulkan dan musnahkan buah yang busuk / rusak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-6724410853845969146?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/6724410853845969146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=6724410853845969146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6724410853845969146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6724410853845969146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-cabai-merah.html' title='Budidaya CABAI MERAH'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLs5f4Nu2I/AAAAAAAAALo/wVz3fxrPy3g/s72-c/lif-017+cabai+merah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-6070114130848269812</id><published>2008-07-30T01:12:00.001-07:00</published><updated>2008-08-01T03:56:54.567-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bawang merah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='allium cepa'/><title type='text'>Budidaya BAWANG MERAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLrxYX3kgI/AAAAAAAAALg/0uuA5kXdW0s/s1600-h/lif-018+bawang+merah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLrxYX3kgI/AAAAAAAAALg/0uuA5kXdW0s/s400/lif-018+bawang+merah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229501350919246338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Bawang merah (Allium cepa) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Agar sukses budidaya bawang merah kita dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko) di lapangan. Diantaranya cara budidaya, serangan hama dan penyakit, kekurangan unsur mikro, dll yang menyebabkan produksi menurun. Memperhatikan hal tersebut, PT. NATURAL NUSANTARA berupaya membantu penyelesaian permasalahan tersebut. Salah satunya dengan peningkatan produksi bawang merah secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K - 3 ), sehingga petani dapat berkarya dan berkompetisi di era perdagangan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;A. PRA TANAM &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;1. Syarat Tumbuh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bawang merah dapat tumbuh pada tanah sawah atau tegalan, tekstur sedang sampai liat. Jenis tanah Alluvial, Glei Humus atau Latosol, pH 5.6 - 6.5, ketinggian 0-400 mdpl, kelembaban 50-70 %, suhu 25-320 C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2. Pengolahan Tanah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Pupuk kandang disebarkan di lahan dengan dosis 0,5-1 ton/ 1000 m2&lt;br /&gt; Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)&lt;br /&gt; Dibuat bedengan dengan lebar 120 -180 cm&lt;br /&gt; Diantara bedengan pertanaman dibuat saluran air (canal) dengan lebar 40-50 cm dan kedalaman 50 cm.&lt;br /&gt;Apabila pH tanah kurang dari 5,6 diberi Dolomit dosis + 1,5 ton/ha disebarkan di atas bedengan dan diaduk rata dengan tanah lalu biarkan 2 minggu.&lt;br /&gt;Untuk mencegah serangan penyakit layu taburkan GLIO 100 gr (1 bungkus GLIO) dicampur 25-50 kg pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu lalu taburkan merata di atas bedengan. '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3. Pupuk Dasar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Berikan pupuk : 2-4 kg Urea + 7-15 kg ZA + 15-25 kg SP-36  secara merata diatas bedengan dan diaduk rata dengan tanah.&lt;br /&gt; Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di bedengan. &lt;br /&gt;   Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 10 botol/1000 m2 dengan cara :&lt;br /&gt;- alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt; - alternatif  2 : setiap 1 gembor  volume 10  lt  diberi 1 sendok peres makan Super Nasa untuk menyiram 5-10 meter bedengan.&lt;br /&gt; Biarkan selama 5 - 7 hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;4. Pemilihan Bibit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Ukuran umbi bibit yang optimal adalah 3-4 gram/umbi.&lt;br /&gt; - Umbi bibit yang baik yang telah disimpan 2-3 bulan dan umbi masih dalam ikatan (umbi masih ada daunnya)&lt;br /&gt;- Umbi bibit harus sehat, ditandai dengan bentuk umbi yang kompak (tidak keropos), kulit umbi tidak luka (tidak terkelupas atau berkilau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;strong&gt;B. FASE TANAM&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. Jarak Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Pada Musim Kemarau, 15 x 15 cm, varietas Ilocos, Tadayung atau Bangkok&lt;br /&gt; Pada Musim Hujan  20 x 15 cm varietas Tiron &lt;br /&gt;     &lt;strong&gt;2. Cara Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Umbi bibit direndam dulu dalam larutan NASA + air ( dosis 1 tutup/lt air )&lt;br /&gt; Taburkan GLIO secara merata pada umbi bibit yg telah direndam NASA&lt;br /&gt; Simpan selama 2 hari sebelum tanam&lt;br /&gt;Pada saat tanam, seluruh bagian umbi bibit yang telah siap tanam dibenamkan ke dalam permukaan tanah. Untuk tiap lubang ditanam satu buah umbi bibit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;strong&gt;C.  AWAL PERTUMBUHAN ( 0 - 10 HST )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. Pengamatan Hama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Waspadai hama Ulat Bawang ( Spodoptera exigua atau S. litura), telur diletakkan pada pangkal dan ujung daun bawang merah secara berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang putih seperti kapas.&lt;br /&gt;   Kelompok telur yang ditemukan pada rumpun tanaman hendaknya diambil dan dimusnahkan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dengan VIREXI atau VITURA . Biasanya pada bawang lebih sering terserang ulat grayak jenis Spodoptera exigua dengan ciri terdapat garis hitam di perut /kalung hitam di leher, dikendalikan dengan VIREXI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulat tanah . Ulat ini berwarna coklat-hitam. Pada bagian pucuk /titik tumbuhnya dan tangkai kelihatan rebah karena dipotong pangkalnya. Kumpulan ulat pada senja/malam hari. Jaga kebersihan dari sisa-sisa tanaman atau rerumputan yang jadi sarangnya. Semprot dengan PESTONA.&lt;br /&gt;Penyakit yang harus diwaspadai pada awal pertumbuhan adalah penyakit layu Fusarium. Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan menguningnya daun bawang, selanjutnya tanaman layu dengan cepat (Jawa : ngoler). Tanaman yang terserang dicabut lalu dibuang atau dibakar di tempat yang jauh. Preventif kendalikan dengan GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2. Penyiangan dan Pembumbunan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 HST dan dilakukan secara mekanik untuk membuang gulma atau tumbuhan liar yang kemungkinan dijadikan inang hama ulat bawang. Pada saat penyiangan dilakukan pengambilan telur ulat bawang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan pendangiran, yaitu tanah di sekitar tanaman didangir dan dibumbun agar perakaran bawang merah selalu tertutup tanah. Selain itu bedengan yang rusak atau longsor perlu dirapikan kembali dengan cara memperkuat tepi-tepi selokan dengan lumpur dari dasar saluran (di Brebes disebut melem).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3. Pemupukan pemeliharaan/susulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dosis pemupukan bervariasi tergantung jenis dan kondisi tanah setempat. Jika kelebihan Urea/ZA dapat mengakibatkan leher umbi tebal dan umbinya kecil-kecil, tapi jika kurang, pertumbuhan tanaman terhambat dan daunnya menguning pucat. Kekurangan KCl juga dapat menyebabkan ujung daun mengering dan umbinya kecil.&lt;br /&gt;     &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Pemupukan    dilakukan   2    kali &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; ( dosis   per  1000  m2 )   :&lt;br /&gt; - 2 minggu : 5-9 kg Urea+10-20 kg ZA+10-14 kg KCl&lt;br /&gt; - 4 minggu : 3-7 kg Urea+  7-15 kg ZA+12-17 kg KCl&lt;br /&gt;Campur secara merata ketiga jenis pupuk tersebut dan aplikasikan di sekitar rumpun atau garitan tanaman. Pada saat pemberian jangan sampai terkena tanaman supaya daun tidak terbakar dan terganggu pertumbuhannya.&lt;br /&gt;Atau jika dipergunakan Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg/ 1000 m2 diberikan pada umur ± 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;4. Pengairan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada awal pertumbuhan dilakukan penyiraman dua kali, yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman pagi hari usahakan sepagi mungkin di saat daun bawang masih kelihatan basah untuk mengurangi serangan penyakit. Penyiraman sore hari dihentikan jika persentase tanaman tumbuh telah mencapai lebih 90 %&lt;br /&gt; Air salinitas tinggi kurang baik bagi pertumbuhan bawang merah&lt;br /&gt; Tinggi permukaan air pada saluran ( canal ) dipertahankan setinggi 20 cm dari permukaan bedengan pertanaman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;strong&gt;D. FASE  VEGETATIF ( 11- 35 HST )&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. Pengamatan Hama dan Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Hama Ulat bawang, S. litura dan S. exigua&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Thrips, mulai menyerang umur 30 HST karena kelembaban di sekitar tanaman relatif tinggi dengan suhu rata-rata diatas normal. Daun bawang yang terserang warnanya putih berkilat seperti perak Serangan berat terjadi pada suhu udara diatas normal dengan kelembaban diatas 70%. Jika ditemukan serangan, penyiraman dilakukan pada siang hari, amati predator kumbang macan. Populasi diatas ambang ekonomi kendalikan dengan BVR atau PESTONA.&lt;br /&gt;     &lt;em&gt;Penyakit Bercak Ungu atau Trotol,&lt;/em&gt; disebabkan oleh jamur Alternaria porii melalui umbi atau percikan air dari tanah. Gejala serangan ditandai terdapatnya bintik lingkaran konsentris berwarna ungu atau putih-kelabu di daun dan di tepi daun kuning serta mongering ujung-ujungnya. Serangan pada umbi sehabis panen mengakibatkan umbi busuk sampai berair dengan warna kuning hingga merah kecoklatan. Jika ada hujan rintik-rintik segera dilakukan penyiraman. Preventif dengan penebaran GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Penyakit Antraknose atau Otomotis, &lt;/em&gt;disebabkan oleh jamur Colletotricum gloesporiodes. Gejala serangan adalah ditandai terbentuknya bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan yang akan menyebabkan patahnya daun secara serentak (istilah Brebes: otomatis). Jika ada gejala, tanaman terserang segera dicabut dibakar dan dimusnahkan. Untuk jamur yang ada didalam tanah kendalikan dengan GLIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Penyakit oleh virus.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Gejalanya pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke segala arah dan terkulai serta anakannya sedikit. Usahakan memakai bibit bebas virus dan pergiliran tanaman selain golongan bawang-bawangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Busuk umbi oleh bakteri.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; - Umbi yang terserang jadi busuk dan berbau. Biasa menyerang setelah dipanen. Usahakan tempat yang kering.&lt;br /&gt; - Busuk umbi/ leher batang oleh jamur.&lt;br /&gt; - Bagian yang terserang jadi lunak, melekuk dan berwarna kelabu. Jaga agar tanah tidak terlalu becek (atur drainase). &lt;br /&gt;- Untuk pencegahan hama-penyakit usahakan pergiliran tanaman dengan jenis tanaman lain (bukan golongan Bawang-bawangan. PESTISIDA Kimia digunakan sebagai alternatif terakhir untuk mengatasi serangan hama-penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2. Pengelolaan Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Penyiangan   kedua   dilakukan   pada    umur&lt;br /&gt; 30-35 HST dilanjutkan pendagiran, pembumbunan dan perbaikan bedengan yang rusak. &lt;br /&gt;   - Penyemprotan POC NASA dengan dosis 4-5 tutup/tangki tiap 7-10 hari sekali mulai 7 hari setelah tanam hingga hari ke 50-55. Mulai hari ke 35 penyemprotan ditambah HORMONIK dengan dosis 1-2 tutup/ tangki (dicampurkan dengan NASA).&lt;br /&gt;- Pengairan, penyiraman 1x per hari pada pagi hari, jika ada serangan Thrips dan ada hujan rintik-rintik penyiraman dilakukan siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;strong&gt;E. PEMBENTUKAN UMBI  ( 36 - 50HST )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada fase pengamatan HPT sama seperti fase Vegetatif, yang perlu diperhatikan adalah pengairannya. Butuh air yang banyak pada musim kemarau sehingga perlu dilakukan penyiraman sehari dua kali yaitu pagi dan sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;strong&gt;F. PEMATANGAN UMBI ( 51- 65 HST )&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Pada fase ini tidak begitu banyak air sehingga penyiraman hanya dilakukan sehari sekali yaitu pada sore hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;strong&gt;G. PANEN DAN PACA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &gt; 60-90 % daun telah rebah, dataran rendah pemanenan pada umur 55-70 hari, dataran tinggi umur 70 - 90 hari.&lt;br /&gt; &gt; Panen dilakukan pada pagi hari yang cerah dan tanah tidak becek&lt;br /&gt; &gt; Pemanenan dengan pencabutan batang dan daun-daunnya. Selanjutnya 5-10 rumpun diikat menjadi satu ikatan (Jawa : dipocong)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2. Pasca Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Penjemuran dengan alas anyaman bambu (Jawa : gedeg). Penjemuran pertama selama 5-7 hari dengan bagian daun menghadap ke atas, tujuannya mengeringkan daun. Penjemuran kedua selama2-3 hari dengan umbi menghadap ke atas, tujuannya untuk mengeringkan bagian umbi dan sekaligus dilakukan pembersihan umbi dari sisa kotoran atau kulit terkelupas dan tanah yang terbawa dari lapangan. Kadar air 89 85 % baru disimpan di gudang.&lt;br /&gt;- Penyimpanan, ikatan bawang merah digantungkan pada rak-rak bambu. Aerasi diatur dengan baik, suhu gudang 26-290C kelembaban 70-80%, sanitasi gudang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-6070114130848269812?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/6070114130848269812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=6070114130848269812' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6070114130848269812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6070114130848269812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-bawang-merah.html' title='Budidaya BAWANG MERAH'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLrxYX3kgI/AAAAAAAAALg/0uuA5kXdW0s/s72-c/lif-018+bawang+merah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-2709673843557345991</id><published>2008-07-30T01:11:00.002-07:00</published><updated>2008-08-01T03:58:57.531-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mentimun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='timun'/><title type='text'>Budidaya MENTIMUN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLq79N-rbI/AAAAAAAAALY/Zmw5zHqMTu8/s1600-h/lif-050+mentimun.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLq79N-rbI/AAAAAAAAALY/Zmw5zHqMTu8/s400/lif-050+mentimun.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229500433096945074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Produksi mentimun di Indonesia masih sangat rendah padahal potensinya masih bisa ditingkatkan. Untuk itu PT. Natural Nusantara berupaya turut membantu meningkatkan produksi secara Kualitas, Kuantitas dan Kelestarian (K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;2.1. Iklim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1 - 26,7)°C dan tidak banyak hujan. Ketinggian optimum 1.000 - 1.200 mdpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.2. Media Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  &lt;strong&gt;3.1. Pembibitan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Siapkan Natural GLIO dan campurkan dengan pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu.&lt;br /&gt;b. Siapkan tanah halus dan pukan dapat diganti SUPERNASA / POC NASA yang telah dicampur Natural GLIO (tanah : pukan = 7:3) dan masukkan polybag.&lt;br /&gt;c.  Rendam benih dalam larutan POC NASA dan air hangat (2cc/l) selama 30 menit.&lt;br /&gt;d. Peram selama 12 jam. Setiap benih yang berkecambah dipindahkan ke polibag sedalam 0,5-1 cm.&lt;br /&gt;e. Polybag dinaungi plastik bening dan bibit disiram dua kali sehari.&lt;br /&gt;f.  Semprotkan POC NASA (2cc/l air) pada 7 hss.&lt;br /&gt;g. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4 helai, bibit dipindahkan ke kebun.&lt;br /&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;a. Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan.&lt;br /&gt;b. Berikan kalsit/dolomit (pH tanah &lt;6&gt;3.3. Penanaman&lt;br /&gt;- Siram bibit dalam polibag dengan air&lt;br /&gt;- Keluarkan bibit bersama medianya dari polibag.&lt;br /&gt;- Tanamkan bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar batang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik.&lt;br /&gt;- Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan).&lt;br /&gt;- Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman.&lt;br /&gt;- Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.&lt;br /&gt;- Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.5. Pemupukan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="323"&gt;   &lt;!--DWLayoutTable--&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td rowspan="2" valign="top" width="113"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Waktu&lt;/strong&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" height="21" valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Pupuk (kg)&lt;/strong&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td height="21" valign="top" width="47"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;TSP&lt;/strong&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="47"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Urea&lt;/strong&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="47"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;KCL&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="57"&gt;&lt;div align="center"&gt;            &lt;strong&gt;Pukan&lt;/strong&gt;    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td height="21" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;Pupuk Dasar&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        150    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        150    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        150    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td rowspan="5" valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        20.000&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td height="21" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;3-5 hst&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        100&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        150    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        100    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td height="21" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;10 hst&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        250    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        300    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        100    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td height="21" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;Setelah    berbunga&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        250&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        250    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td height="21" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;Setelah    Panen I&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        100    &lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt;&lt;div align="center"&gt;        100&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td height="249" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;POC NASA +&lt;br /&gt;      Hormonik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mulai umur&lt;br /&gt;  2–10    minggu)&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top"&gt; &lt;strong&gt;&lt;u&gt;Disemprotkan ke daun&lt;/u&gt; :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Alternatif    1&lt;/strong&gt;: 8 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 3 – 4 tutup &lt;strong&gt;POC NASA&lt;/strong&gt; + 1 tutup &lt;strong&gt;Hormonik&lt;/strong&gt; per tangki&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;      &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Alternatif    2&lt;/strong&gt;: 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 - 8 tutup &lt;strong&gt;POC NASA&lt;/strong&gt; + 1 tutup &lt;strong&gt;Hormonik&lt;/strong&gt; per tangki&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td height="2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.6. Hama dan Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.6.1. Hama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a.  Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).&lt;br /&gt;Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala : merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat, daun tinggal tulangnya. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)&lt;br /&gt;Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Lalat buah (Dacus cucurbitae Coq.)&lt;br /&gt;Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk bertelur, Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk. Pengendalian : Natural METILAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kutu daun (Aphis gossypii Clover)&lt;br /&gt;Kutu berukuran 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Gejala: menyerang pucuk tanaman sehingga daun keriput, kerititing dan menggulung. Kutu ini juga penyebar virus. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.6.2. Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Busuk daun (Downy mildew)&lt;br /&gt;Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun pada kelembaban udara tinggi, temperatur 16 - 22°C dan berembun atau berkabut. Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat dan busuk. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyakit tepung (Powdery mildew )&lt;br /&gt;Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di musim kemarau dengan kelemaban tinggi. Gejala : permukaan daun dan batang muda ditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Antraknose&lt;br /&gt;Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. Gejala: bercak-bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Bercak daun bersudut&lt;br /&gt;Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat musim hujan. Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan berlubang. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Virus&lt;br /&gt;Penyebab : Cucumber Mosaic Virus, CMV, Potato virus mosaic, PVM; Tobacco Etch Virus, TEV; otato Bushy Stunt Virus (TBSV); Serangga vektor adalah kutu daun Myzus persicae Sulz dan Aphis gossypii Glov. Gejala : daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda, daun berkerut, tepi daun menggulung, tanaman kerdil. Pengendalian: dengan mengendalikan serangga vektor dengan Natural BVR atau PESTONA, mengurangi kerusakan mekanis, mencabut tanaman sakit dan rotasi dengan famili bukan Cucurbitaceae.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Kudis (Scab)&lt;br /&gt;Penyebab : cendawan Cladosporium cucumerinum Ell.et Arth. Terjadi pada buah mentimun muda. Gejala : ada bercak basah yang mengeluarkan cairam yang jika mengering akan seperti karet; bila menyerang buah tua, terbentuk kudis yang bergabus. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Busuk buah&lt;br /&gt;Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.; (2) Phytopthora sp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. Carotovora. Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan. Gejala : (1) Phytium aphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan, buah pecah; (2) Phytopthora: bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan berwarna coklat dan berkerut; (3) Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur, buah mudah pecah; (4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk. Pengendalian: dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang hati-hati, penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara 5 - 7 derajat C. Dan pemberian Natural GLIO sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.7. Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.7.1. Ciri dan Umur Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buah mentimun muda lokal untuk sayuran, asinan atau acar umumnya dipetik 2-3 bulan setelah tanam, mentimun hibrida dipanen 42 hari setelah tanam Mentimun Suri dipanen setelah matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.7.2. Cara Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buah dipanen di pagi hari sebelum jam 9.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan pisau tajam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;3.7.3.Periode Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mentimun sayur dipanen 5 - 10 hari sekali tergantung dari varitas dan ukuran/umur buah yang dikehendaki.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-2709673843557345991?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/2709673843557345991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=2709673843557345991' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2709673843557345991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2709673843557345991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-mentimun.html' title='Budidaya MENTIMUN'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLq79N-rbI/AAAAAAAAALY/Zmw5zHqMTu8/s72-c/lif-050+mentimun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-2640020220012454522</id><published>2008-07-30T01:11:00.001-07:00</published><updated>2008-08-01T03:45:50.034-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tebu'/><title type='text'>Budidaya TEBU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLpP3MQVwI/AAAAAAAAALI/dwc-PaBNkL4/s1600-h/lif-052+tebu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLpP3MQVwI/AAAAAAAAALI/dwc-PaBNkL4/s400/lif-052+tebu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229498576053229314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pemerintah sedang menggalakkan penanaman tebu untuk mengatasi rendahnya produksi gula di Indonesia. Usaha pemerintah sangatlah wajar dan tidak berlebihan mengingat dulu Indonesia pernah mengalami masa kejayaan sebagai pengekspor gula sebelum perang. Bisakah masa keemasan ini terulang kembali?&lt;br /&gt;Untuk itu PT. Natural Nusantara berusaha ikut serta mengembalikan masa kejayaan melalui peningkatan produksi tebu baik secara kuantitas, kualitas dan kelestarian (aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SYARAT TUMBUH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanah yang cocok adalah bersifat kering-kering basah, yaitu curah hujan kurang dari 2000 mm per tahun. Tanah tidak terlalu masam, pH diatas 6,4. Ketinggian kurang dari 500 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JENIS - JENIS TEBU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Jenis tebu yang sering ditanam POY 3016, P.S. 30, P.S. 41, P.S. 38, P.S. 36, P.S. 8, B.Z. 132, B.Z. 62, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBUKAAN KEBUN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Sebaiknya pembukaan dan penanaman dimulai dari petak yang paling jauh dari jalan utama atau lori pabrik&lt;br /&gt;Ukuran got standar ; Got keliling/mujur lebar 60 cm; dalam 70 cm, Got malang/palang lebar 50 cm; dalam 60 cm. Buangan tanah got diletakkan di sebelah kiri got. Apabila got diperdalam lagi setelah tanam, maka tanah buangannya diletakkan di sebelah kanan got supaya masih ada jalan mengontrol tanaman.&lt;br /&gt;Juringan/cemplongan (lubang tanam) baru dapat dibuat setelah got - got malang mencapai kedalaman 60 cm dan tanah galian got sudah diratakan. Ukuran standar juringan adalah lebar 50 cm dan dalam 30 cm untuk tanah basah, 25 cm untuk tanah kering. Pembuatan juringan harus dilakukan dua kali, yaitu stek pertama dan stek kedua serta rapi.&lt;br /&gt;Jalan kontrol dibuat sepanjang got mujur dengan lebar + 1 m. Setiap 5 bak dibuat jalan kontrol sepanjang got malang dengan lebar + 80 cm. Pada juring nomor 28, guludan diratakan untuk jalan kontrol (jalan tikus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TURUN TANAH/KEBRUK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yaitu mengembalikan tanah stek kedua ke dalam juringan untuk membuat kasuran/bantalan/dasar tanah. Tebalnya tergantung keadaan, bila tanahnya masih basah + 10 cm. di musim kemarau terik tebal + 15 - 20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERSIAPAN TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Lakukan seleksi bibit di luar kebun&lt;br /&gt; - Bibit stek harus ditanam berhimpitan agar mendapatkan jumlah anakan semaksimal mungkin. Bibit stek + 70.000 per ha.&lt;br /&gt;- Sebelum ditanam, permukaan potongan direndam dahulu dengan POC NASA dosis 2 tutup + Natural GLIO dosis 5 gr per 10 liter air.&lt;br /&gt; - Sebelum tanam, juringan harus diari untuk membasahi kasuran, sehingga kasuran hancur dan halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CARA TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. Bibit Bagal/debbeltop/generasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanah kasuran harus diratakan dahulu, kemudian tanah digaris dengan alat yang runcing dengan kedalaman + 5-10 cm. Bibit dimasukkan ke dalam bekas garisan dengan mata bibit menghadap ke samping. Selanjutnya bibit ditimbun dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Bibit Rayungan (bibit yang telah tumbuh di kebun bibit&lt;/strong&gt;), jika bermata (tunas) satu: batang bibit terpendam dan tunasnya menghadap ke samping dan sedikit miring, + 45 derajat. Jika bibit rayungan bermata dua; batang bibit terpendam dan tunas menghadap ke samping dengan kedalaman + 1 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebaiknya, bibit bagal (stek) dan rayungan ditanam secara terpisah di dalam petak-petak tersendiri supaya pertumbuhan tanaman merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;WAKTU TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan masaknya tebu dengan rendemen tinggi tepat dengan timing masa giling di pabrik gula. Waktu yang tepat pada bulan Mei, Juni dan Juli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENYIRAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyiraman tidak boleh berlebihan supaya tidak merusak struktur tanah. Setelah satu hari tidak ada hujan, harus segera dilakukan penyiraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENYULAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; 1. Sulam sisipan, dikerjakan 5 - 7 hari setelah tanam, yaitu untuk tanaman rayungan bermata satu.&lt;br /&gt; 2. Sulaman ke - 1, dikerjakan pada umur 3 minggu dan berdaun 3 - 4 helai. Bibit dari rayungan bermata dua atau pembibitan.&lt;br /&gt; 3. Penyulaman yang berasal dari ros/pucukan tebu dilakukan ketika tanaman berumur + 1 bulan&lt;br /&gt;4. Penyulaman ke-2 harus selesai sebelum pembubunan, bersama sama dengan pemberian air ke - 2 atau rabuk ke-2 yaitu umur 1,5 bulan&lt;br /&gt; 5. Penyulaman ekstra bila perlu, yaitu sebelum bumbun ke -2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBUMBUNAN TANAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&gt; Pembumbunan ke-1 dilakukan pada umur 3-4 minggu, yaitu berdaun 3 - 4 helai. Pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan rumput-rumputan, membalik guludan dan menghancurkan tanah (jugar) lalu tambahkan tanah ke tanaman sehingga tertimbun tanah.&lt;br /&gt;&gt; Pembumbunan ke - 2 dilakukan jika anakan tebu sudah lengkap dan cukup besar + 20 cm, sehingga tidak dikuatirkan rusak atau patah sewaktu ditimbun tanah atau + 2 bulan.&lt;br /&gt;&gt; Pembumbunan ke-3 atau bacar dilakukan pada umur 3 bulan, semua got harus diperdalam ; got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GARPU MUKA GULUD&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penggarpuan harus dikerjakan sampai ke pinggir got, sehingga air dapat mengalir. Biasanya dikerjakan pada bulan Oktober/November ketika tebu mengalami kekeringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KLENTEK &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Yaitu melepaskan daun kering, harus dilakukan 3 kali, yaitu sebelum gulud akhir, umur 7 bulan dan 4 minggu sebelum tebang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TEBU ROBOH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Batang tebu yang roboh atau miring perlu diikat, baik silang dua maupun silang empat. Ros - ros tebu, yang terdiri dari satu deretan tanaman, disatukan dengan rumpun - rumpun dari deretan tanaman di sisinya, sehingga berbentuk menyilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMUPUKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; 1. Sebelum tanam diberi TSP 1 kuintal/ha&lt;br /&gt; 2. Siramkan pupuk SUPER NASA yang telah dicampur air secara merata di atas juringan dosis ± 1 - 2 botol/1000 m² dengan cara :&lt;br /&gt;Alternatif 1 : 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram juringan.&lt;br /&gt; Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPERNASA untuk menyiram 5 - 10 meter juringan.&lt;br /&gt; 3. Saat umur 25 hari setelah tanam berikan pupuk ZA sebanyak 0,5-1 kw/ha. Pemupukan ditaburkan di samping kanan rumpun tebu&lt;br /&gt;4. Umur 1,5 bulan setelah tanam berikan pupuk ZA sebanyak 0,5 - 1 kw/ha dan KCl sebanyak 1-2 kw/ha. Pemupukan ditaburkan di sebelah kiri rumpun tebu.&lt;br /&gt;5. Untuk mendapatkan rendemen dan produksi tebu tinggi, semprot POC NASA dosis 4 - 6 tutup dicampur HORMONIK 1 - 2 tutup per-tangki pada umur 1 dan 3 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HAMA DAN PENYAKIT &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;1. Hama Penggerek Pucuk dan batang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Biasanya menyerang mulai umur 3 - 5 bulan. Kendalikan dengan musuh alami Tricogramma sp dan lalat Jatiroto, semprot PESTONA / Natural BVR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;2. Hama Tikus&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kendalikan dengan gropyokan, musuh alami yaitu : ular, anjing atau burung hantu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3. Penyakit Fusarium Pokkahbung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab jamur Gibbrella moniliformis. Tandanya daun klorosis, pelepah daun tidak sempurna dan pertumbuhan terhambat, ruas-ruas bengkok dan sedikit gepeng serta terjadi pembusukan dari daun ke batang. Penyemprotan dengan 2 sendok makan Natural GLIO + 2 sendok makan gula pasir dalam tangki semprot 14 atau 17 liter pada daun-daun muda setiap minggu, pengembusan tepung kapur tembaga ( 1 : 4 : 5 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;4. Penyakit Dongkelan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab jamur Marasnius sacchari, yang bias mempengaruhi berat dan rendemen tebu. Gejala, tanaman tua sakit tiba-tiba, daun mengering dari luar ke dalam. Pengendalian dengan cara penjemuran dan pengeringan tanah, harus dijaga, sebarkan Natural GLIO sejak awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;5. Penyakit Nanas&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Disebabkan jamur Ceratocytis paradoxa. Menyerang bibit yang telah dipotong. Pada tapak (potongan) pangkas, terdapat warna merah yang bercampur dengan warna hitam dan menyebarkan bau seperti nanas. Bibit tebu direndam dengan POC NASA dan Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;6. Penyakit Blendok&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Disebabkan oleh Bakteri Xanthomonas albilincans Mula-mula muncul pada umur 1,5 - 2 bulan setelah tanam. Daun-daun klorotis akan mengering, biasanya pada pucuk daun dan umumnya daun-daun akan melipat sepanjang garis-garis tadi. Jika daun terserang hebat, seluruh daun bergaris-garis hijau dan putih. Rendam bibit dengan air panas dan POC NASA selama 50 menit kemudian dijemur sinar matahari. Gunakan Natural GLIO sejak awal sebelum tanam untuk melokalisir serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;RENDEMEN TEBU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Proses kemasakan tebu merupakan proses yang berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada ruas yang yang bersangkutan. Tebu yang sudah mencapai umur masak, keadaan kadar gula di sepanjang batang seragam, kecuali beberapa ruas di bagian pucuk dan pangkal batang.&lt;br /&gt;Usahakan agar tebu ditebang saat rendemen pada posisi optimal yaitu sekitar bulan Agustus atau tergantung jenis tebu. Tebu yang berumur 10 bulan akan mengandung saccharose 10 %, sedang yang berumur 12 bulan bisa mencapai 13 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TEBU KEPRASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; - Yaitu menumbuhkan kembali bekas tebu yang telah ditebang, baik bekas tebu giling atau tebu bibitan (KBD).&lt;br /&gt;- Kebun yang akan dikepras harus dibersihkan dari kotoran bekas tebangan yang lalu. Sebelum mengepras , sebaiknya tanah yang terlalu kering di airi dulu. Kepras petak - petak tebu secara berurutan. Setelah dikepras siramkan SUPER NASA (dosis sama seperti di atas). Lima hari atau seminggu setelah dikepras, tanaman diairi dan dilakukan penggarapan (jugaran) sebagai bumbun ke-1 dan pembersihan rumput - rumput.&lt;br /&gt;- Lakukan penyemprotan POC NASA dan HORMONIK pada umur 1,2 dan 3 bulan dengan dosis seperti di atas.Pemeliharaan selanjutnya sama dengan tanam tebu pertama.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-2640020220012454522?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/2640020220012454522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=2640020220012454522' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2640020220012454522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2640020220012454522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-tebu.html' title='Budidaya TEBU'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SJLpP3MQVwI/AAAAAAAAALI/dwc-PaBNkL4/s72-c/lif-052+tebu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-4531947847743674489</id><published>2008-07-30T01:08:00.000-07:00</published><updated>2008-08-01T03:36:27.980-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='albizzia falcata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sengon'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paraserianthes falcataria'/><title type='text'>Budidaya SENGON</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.4  (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Tanam Sengon 2500 pohon / ha dengan Produk NASA&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;Persiapan tanam jika bibit sudah jadi.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;1. Waktu Tanam : awal musim penghujan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;2. Persiapan bibit (bibit beli jadi / diluar pembenihan sendiri)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;a. Bibit berumur diatas 3 bulan, disiapkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;b. Disemprot 2 minggu sekali, selama 1 bulan pertama:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	dosis 4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik per tangki (16-18liter).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;3. Persiapan Lahan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;a. Pengajiran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-	Ajir dibuat dari bambu tinggi 50 - 100 cm, lebar 1 – 1,5 cm&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-	Pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;-	Untuk meluruskan ajir gunakan tali (2m) sehingga diperoleh jarak tanam yang sama (2x2) meter.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;b. Pembuatan lobang tanam.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	2500 lobang tanam dibuat masing-masing dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm tepat pada ajir yang sudah terpasang.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;c. Pemberian pupuk dasar&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	Pupuk diberikan pada dasar lubang, secukupnya, didiamkan 1minggu baru bibit ditanam diatasnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	Dosis campuran pupuk dasar per 10 lubang (diencerkan dalam 10 liter air) :&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	- Super NASA : 1 sendok makan (diperes/diratakan) sekitar 3-4gram.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	- POC NASA : 4 tutup botol&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	- Hormonik : 1 tutup botol&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	Jadi 1 lubang = 1 liter campuran.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	Setelah 1 lubang disiram 1 liter campuran, tutup tanah sedikit.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	d. Pemberian pupuk lanjutan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;		Dosis 1 tanaman = 1 liter campuran diatas dapat diberikan 2-3kali dalam setahun.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;		2 tahun pertama setiap 3-4 bulan, tanaman disemprot:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;		dosis 4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik per tangki (16-18liter).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;4. Perawatan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	a. Penyulaman : jika ada tanaman yang mati.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	b. Pemotongan cabang (diatas 10 cm dari batang pohon), jika batang utama bercabang dua dipilih cabang yang gemuk, yg kurus dipotong.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;5. Pengendali Hama Organik NASA (PESTONA)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	Merupakan pilihan jika ada tanda2 serangan hama tanaman baru disemprotkan,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;	dosis 8 tutup per tangki (16-18 liter).&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-4531947847743674489?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/4531947847743674489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=4531947847743674489' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/4531947847743674489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/4531947847743674489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-sengon.html' title='Budidaya SENGON'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-7896867537837973133</id><published>2008-07-26T01:06:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T01:08:18.938-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jeruk'/><title type='text'>Budidaya JERUK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrbRSrZF1I/AAAAAAAAALA/gmQVfW8uZ7s/s1600-h/lif-015+jeruk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrbRSrZF1I/AAAAAAAAALA/gmQVfW8uZ7s/s400/lif-015+jeruk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227231407634978642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Prospek agribisnis jeruk di Indonesia cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Melalui program peningkatan kualitas sumberdaya petani jeruk serta didukung dengan hasil inovasi teknologi pemupukan dan hormon alami, pengelolaan hama dan penyakit terpadu, serta sistem budidaya lainnya yang semuanya didasarkan pada semangat ramah lingkungan akan meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi jeruk dengan tetap menjaga Kelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perlu 6-9 bulan basah (musim hujan), curah hujan 1000-2000 mm/th merata sepanjang tahun, perlu air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus. Temperatur optimal antara 25-30 °C dan kelembaban optimum sekitar 70-80%. Kecepatan angin lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Ketinggian optimum antara 1-1200 m dpl. Jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari. Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok, derajat keasaman tanah (pH tanah) adalah 5,5-6,5 . Air tanah optimal pada kedalaman 150-200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. PEDOMAN TEKNIS   BUDIDAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;em&gt;3.1. Pembibitan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;   &lt;em&gt;3.1.1. Cara generatif&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Biji diambil dari buah dengan memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang. Tanah persemaian diolah sedalam 30-40 cm dan dibuat petakan berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2. Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram larutan POC NASA + 1-2 cc/lt air. Persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1) atau cukup dengan menggunakan tanah biasa disiram POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per 10-15 liter air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.1.2. Cara Vegetatif&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Metode dengan cara penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (understam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange. Setelah penyambungan tunas pucuk atau penempelan mata tempel, segera disemprot menggunakan POC NASA (3-4 tutup/tangki ) + HORMONIK (1 tutup/tangki ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.1.2.1. Pengolahan Media Tanam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat dilihat pada data berikut ini: (a) Keprok dan Siem jarak tanam 5 x 5 m; (b) Manis : jarak tanam 7 x 7 m; (c) Sitrun (Citroen) : jarak tanam 6 x 7 m; (d) Nipis : jarak tanam 4 x 4 m; (e) Grape fruit : jarak tanam 8 x 8 m; (f) Besar : jarak tanam (10-12) x (10-12) m.&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat 2 minggu sebelum tanam. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas. Tanah berasal dari lapisan atas dicampur dengan 1-2 kg pupuk kandang dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan.&lt;br /&gt;Pengembangbiakan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari + 1 minggu dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.1.2.2. Teknik Penanaman&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan: (a) Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan; (b) Pengurangan akar; (c) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.&lt;br /&gt;Setelah bibit ditanam, siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata dengan dosis ± 1 tutup POC NASA per liter air setiap pohon. Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 (satu) botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap&lt;br /&gt; 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi disiramkan setiap pohon.&lt;br /&gt;Beri mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitar bibit. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang. Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IV. PEMELIHARAAN TANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;4.1. Penyulaman&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;4.2. Penyiangan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;4.3. Pembubunan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;4.4. Pemangkasan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya. Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;4.5. Pemupukan Susulan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" rowspan="2" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;Umur&lt;br /&gt;     (tahun)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" colspan="3" valign="top" width="330"&gt;&lt;p&gt;Dosis Pupuk Makro (gr/pohon)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;Urea&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;TSP&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;KCl&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;1&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;80&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;170&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;170&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;2&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;160&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;325&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;250&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;3&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;250&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;500&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;325&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;4&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;325&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;170&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;425&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;5&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;400&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;210&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;500&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;6&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;500&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;250&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;600&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;7&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;600&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;300&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;700&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;8&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;700&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;325&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;780&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;9&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;780&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;390&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;850&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;10&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="108"&gt;&lt;p&gt;850&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="102"&gt;&lt;p&gt;425&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;p&gt;900&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;&gt;10&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" colspan="3" valign="top" width="330"&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya dilakukan analisis tanah&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="390"&gt;&lt;p align="center"&gt;Dosis POC NASA mulai awal tanam :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;0-3&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="330"&gt;&lt;br /&gt;2-3 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang    setiap 4-5 bulan sekali   (sesekali bisa disemprot ke daun)&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;&gt;3&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="330"&gt;&lt;br /&gt;3-4 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang    setiap 3-4 bulan sekali   (sesekali bisa disemprot ke daun)&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dosis 1 botol untuk + 200 pohon. Cara lihat pada Teknik Penanaman (Point 3.1.2.2.)&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;4.6. Penggunaan Hormonik&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hormonik dapat diberikan terutama setelah tanaman berumur 2 tahun, atau diberikan sejak awal lebih bagus. Caranya melalui penyiraman atau penyemprotan bersama dengan POC NASA (3-5 tutup POC NASA ditambah 1 tutup Hormonik).&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;4.7.Pengairan dan Penyiraman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyiraman jangan berlebih. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;4.8. Penjarangan Buah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan, bobot buah serta kualitas buah. Buah yang dibuang meliputi buah sakit, tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama dan sisakan hanya 2-3 buah.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;V. Hama dan Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;5.1. Hama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;a. Kutu loncat (Diaphorina citri.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian diserang : tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda. Gejala: tunas keriting, tanaman mati. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR. Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, buang bagian yang terserang.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;b. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian diserang : tunas muda dan bunga. Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;c. Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian diserang : daun muda. Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok. Pengendalian: semprotkan dengan PESTONA. Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;d. Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian diserang : tangkai, daun dan buah. Gejala: bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun. Pengendalian: semprotkan PESTONA atau Natural BVR.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;e. Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian diserang : buah. Gejala: lubang gerekan buah keluar getah. Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi, disemprot PESTONA pada buah berumur 2-5 minggu.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;f. Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian diserang : tunas, daun muda dan pentil. Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis. Pengendalian: semprotkan PESTONA&lt;br /&gt; &lt;em&gt;g. Thrips (Scirtotfrips citri.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian diserang : tangkai dan daun muda. Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang disertai nekrotis. Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan PESTONA atau Natural BVR.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;h. Kutu dompolon (Planococcus citri.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian diserang : tangkai buah. Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur. Pengendalian: gunakan PESTONA. atau Natural BVR. Cegah datangnya semut sebagai vektor kutu.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;i. Lalat buah (Dacus sp.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Bagian diserang : buah yang hampir masak. Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah. Pengendalian: gunakan Perangkap lalat Buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5.2. Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;a. CVPD&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang. Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye. Pengendalian: gunakan bibit tanaman bebas CVPD. Lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan Pestona atau Natural BVR untuk mengendalikan vektor.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;b. Blendok&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian diserang : batang atau cabang. Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas. Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi. Bekas potongan diolesi POC NASA + Hormonik + Natural GLIO. POC NASA dan Hormonik bukan berfungsi mengendalikan Blendok, namun dapat meningkatkan daya tahan terhadap serangan penyakit.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;c. Embun tepung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Oidium tingitanium. Bagian diserang : daun dan tangkai muda. Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;d. Kudis&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian diserang : daun, tangkai atau buah. Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye. Pengendalian: pemangkasan teratur, gunakan Natural GLIO pada awal tanam.&lt;br /&gt; &lt;em&gt;e. Busuk buah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian diserang : buah. Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit. Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, gunakan Natural GLIO awal tanam&lt;br /&gt; &lt;em&gt;f. Busuk akar dan pangkal batang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Phyrophthora nicotianae. Bagian diserang : akar, pangkal batang serta daun di bagian ujung. Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering. Pengendalian: pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah. gunakan Natural GLIO pada awal tanam&lt;br /&gt; &lt;em&gt;g. Buah gugur prematur&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang: buah dan bunga. Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam&lt;br /&gt; &lt;em&gt;h. Jamur upas&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian diserang : batang. Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas. Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan diolesi fungisida yang mengandung tembaga atau belerang, kemudian potong cabang yang terinfeksi.&lt;br /&gt;Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VI. Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Buah jeruk dipanen saat masak optimal berumur + 28-36 minggu, tergantung jenis/varietasnya. Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-7896867537837973133?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/7896867537837973133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=7896867537837973133' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7896867537837973133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7896867537837973133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-jeruk.html' title='Budidaya JERUK'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrbRSrZF1I/AAAAAAAAALA/gmQVfW8uZ7s/s72-c/lif-015+jeruk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-2298913842667306384</id><published>2008-07-26T01:03:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T01:05:53.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelapa'/><title type='text'>Budidaya KELAPA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIraqubNZrI/AAAAAAAAAK4/6CkhD0dwCh4/s1600-h/lif-045+kelapa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIraqubNZrI/AAAAAAAAAK4/6CkhD0dwCh4/s400/lif-045+kelapa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227230745068398258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurunnya minat petani untuk membudidayakan komoditi kelapa sebenarnya merugikan secara nasional, karena tanaman kelapa mempunyai kesesuaian syarat tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia. PT. Natural Nusantara berupaya memberikan pedoman teknis budidaya kelapa dengan aspek K- 3 yaitu kuantitas, kualitas dan kelestarian lingkungan , sehingga mampu meningkatkan taraf penghasilan petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Tanah yang ideal untuk penanaman kelapa adalah tanah berpasir , berabu gunung, dan tanah berliat. dengan pH tanah 5,2 hingga 8 dan mempunyai struktur remah sehingga perakaran dapat berkembang dengan baik.&lt;br /&gt; - Sinar matahari banyak minimal 120 jam perbulan , jika kurang dari itu produksi buah akan rendah. &lt;br /&gt; - Suhu yang paling cocok adalah 27ºC dengan variasi rata-rata 5-7 º C, suhu kurang dari 20º C tanaman kurang produktif. &lt;br /&gt;- Curah hujan yang baik 1300-2300 mm/th. Kekeringan panjang menyebabkan produksi berkurang 50% , sedangkan kelembapan tinggi menyebabkan serangan penyakit jamur.&lt;br /&gt; - Angin yang terlalu kencang terkadang merugikan tanaman yang terlalu tinggi terutama varietas dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENGOLAHAN LAHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan tanah yang diperlukan adalah pembuatan lobang tanam dengan ukuran 0,9m x 0,9m x 0,9m dengan penambahan pupuk kandang dan humus. Jarak tanam yang baik untuk jenis dalam yaitu 9 x 10 m dan jenis genjah 6 x 6 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMBIBITAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Pilih buah yang bagus dan tua, rendam dengan larutan air + HORMONIK dengan dosis 1 tutup per l0 liter air selama 2 minggu, kemudian semaikan bibit di bedengan dan kedalaman sama dengan buah kelapa , timbun buah kelapa dengan letak horizontal dengan tebal timbunan 2/3 buah. Jarak antar bibit 25cm x 25 cm dan bibit akan berkecambah setelah 12-16 minggu, jika lebih dari 5 bulan tidak berkecambah dianggap mati/ bibit jelek. Rawat bibit di bedengan hingga umur 30 minggu atau berdaun 3 lembar. Lakukan penyiraman bila tanah kurang air.&lt;br /&gt;- Bibit dipelihara dengan pemberian pupuk POC NASA hingga umur bibit kurang lebih 9 bulan dengan dosis 1-2 cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali. Jangan mengabaikan tindakan preventif perlindungan tanaman dari gangguan ternak atau dengan memasang pagar kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Lakukan pemupukan sesuai dengan rekomendasi atau dengan mengacu pada tabel pemupukan berikut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="68"&gt;   &lt;col span="2" width="75"&gt;   &lt;col width="82"&gt;   &lt;col width="75"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" rowspan="2" height="77" width="68"&gt;Umur Bibit (bulan)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" colspan="4" width="307"&gt;Kebutuhan    Pupuk (gr/tanman)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="57"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="57" width="75"&gt;N (Urea/ZA)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="75"&gt;P (TSP)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="82"&gt;K    (KCl/MOP)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="75"&gt;Mg  (Kies)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;1&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5/10&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;50&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;75&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;2&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5/10&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;75&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;125&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;150&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;3&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5/10&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;150&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;4&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;10/15&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;400&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;400&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;10/15&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;300&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;600&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;6&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;10/15&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;400&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;800&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;750&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;7&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;15/20&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1000&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1000&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;8&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;15/20&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;600&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1250&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2000&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;9&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;15/20&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;700&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2500&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Pospat diberikan 2 minggu sebelum pupuk lain dan dicampur rata dengan tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih baik pembibitan diselingi / ditambah SUPERNASA 1-2 kali selang waktu 3-4 bulan sekali dengan dosis 1 botol untuk ± 400 bibit. 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap bibit.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENANAMAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; &lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="108"&gt;   &lt;col span="6" width="61"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" rowspan="2" height="40" width="108"&gt;Umur    Tanaman&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" colspan="6" width="366"&gt;Dosis    Pupuk (gr/pokok)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20" width="61"&gt;Urea&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="61"&gt;(TSP)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="61"&gt;RP&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="61"&gt;KCl&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="61"&gt;Kies&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="61"&gt;Borak&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;Saat tanam&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;1 bln setelah tanam&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;2 tahun&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;- apl I&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;- apl II&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;3 tahun&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;- apl I&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;- apl II&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;350&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;4 tahun&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;- apl I&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;- apl II&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;5 tahun&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt; &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;- apl I&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: left;" height="20"&gt;- apl II&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September - Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret - April)&lt;br /&gt; - Kocorkan atau siram SUPERNASA dosis 1 sendok makan per 10 lt air per pohon setiap 3-6 bulan sekali&lt;br /&gt; - Penyemprotan POC NASA 3 - 4 tutup + HORMONIK 1-2 tutup per tangki setiap 2-4 minggu sekali &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;1. Golongan Coleoptera&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hama golongan ini yang paling banyak menyerang adalah Oryctes rhinoceros . Cara mengendalikan dengan membuat trap/ jebakan berupa kotak-kotak yang diisi sampah dan secara preventif dikendalikan dengan pemberian Natural BVR atau jika sudah menjadi uret dengan PESTONA, atau dengan menggunakan musuh alaminya yaitu tikus, tupai, ayam , bebek , dan burung hantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;2. Golongan Lepidoptera&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Species yang sering menyerang adalah Tiratabha rufivena yang larvarnya memakan bunga kelapa, dan Acritocera negligens yang mengebor tangkai bunga yang belum membuka dan memakan isinya. Pengendaliannya dengan menggunakan PENTANA + AERO 810 ataupun Natural BVR sifatnya yang cepat berpindah maka pengendaliannya harus secara merata untuk pencegahan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;3. Golongan Hemiptera&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jenis yang menghisap cairan daun sehingga daun mati adalah jenis homoptera (Gareng pong= Jawa). Jenis lain yang menghisap cairan buah adalah Heteroptera, sehingga buah menjadi rontok sebelum matang. Pencegahan dengan PENTANA+AERO 810 dan PESTONA secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;4. Penyakit yang juga mungkin menyerang adalah:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Busuk tunas atau pucuk yang disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora dan penyakit Lingkar merah pada daun yang disebabkan cacing / belut tanah Rhadinaphelencus cocophilus. Kedua macam penyakit ini hanya dengan eradikasi atau pemusnahan tanaman yang terkena serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PEMANENAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Untuk kelapa jenis dalam, umur berbuah setelah 8-10 tahun, dan umur bisa mencapai 60 - 100 tahun dengan produksi yang diharapkan adalah kopra. Untuk kelapa jenis genjah berbuah setelah umur 3 - 4 tahun dan berbuah maksimal pada saat umur 9 - 10 tahun, dan bisa mencapai umur 30 - 40 tahun kurang bagus untuk kopra karena daging buahnya yang lunak.&lt;br /&gt;- Panen buah kelapa dilakukan menurut kebutuhannya. Jika kelapa yang diinginkan dalam keadaan kelapa masih muda kira-kira umur buah 7 -8 bulan dari bunganya. Jika ingin mengambil buah tua untuk santan atau kopra dipanen di saat umur sudah mencapai 12-14 bulan dari berbunga atau jika sudah tidak lagi terdengar suara air di dalam buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;PASCA PENEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan buah kelapa yang tua pada akhir-akhir ini mulai mengarah pada pemanfaatan minyak kelapa murni atau virgin coconut oil yang mampu meningkatkan nilai jual dari produk kelapa, ataupun masih dalam bentuk nira ( legen =Jawa) untuk keperluan industri gula kelapa, nata de coco, asam cuka, produk minuman dan substrat,serta alkohol yang juga mampu meningkatkan nilai jual dari produk kelapa.&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;- Gula kelapa :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;kandungan sukrosa yang dominan di antara kandungan bahan kimia non air lainnya menjadikan nira sebagai sumber gula yang sangat potensil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;- Nata de coco :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adalah bahan olahan nira kelapa berbentuk gel, tekstur kenyal seperti kolang kaling, yang proses fermentasinya dibantu oleh mikrorganisme Acetobacter xylium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;- Asam cuka :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; dikenal sebagai penegas rasa, warna dan juga sebagai bahan pengawet karena membatasi pertumbuhan bakteri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;- Produk  minuman:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt; Dapat dibuat minuman segar non alcohol maupun alkohol dalam kadar rendah(tuak) ataupun dalam kadar tinggi (arak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;strong&gt;- Substrat :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yaitu bahan nutrient yang dipergunakan untuk menumbuhkan mikroba. Substrat ini sangat diperlukan bagi pekerjaan di lab bioteknologi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-2298913842667306384?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/2298913842667306384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=2298913842667306384' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2298913842667306384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2298913842667306384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-kelapa.html' title='Budidaya KELAPA'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIraqubNZrI/AAAAAAAAAK4/6CkhD0dwCh4/s72-c/lif-045+kelapa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-1745543580792198915</id><published>2008-07-26T00:59:00.001-07:00</published><updated>2008-07-26T01:02:44.862-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='coklat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kakao'/><title type='text'>Budidaya KAKAO/COKLAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrZg5WXSXI/AAAAAAAAAKw/t0HnzKmzPJk/s1600-h/lif-013+Kakao.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrZg5WXSXI/AAAAAAAAAKw/t0HnzKmzPJk/s400/lif-013+Kakao.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227229476690545010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman Kakao merupakan tanaman perkebunaan berprospek menjanjikan. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah.&lt;br /&gt;PT. Natural Nusantara berusaha membantu petani kakao agar mampu meningkatkan produktivitasnya agar dapat bersaing di era globalisasi dengan program peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas, berdasarkan konsep kelestarian lingkungan (Aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Persiapan Lahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Bersihkan alang-alang dan gulma lainnya&lt;br /&gt;- Gunakan tanaman penutup tanah (cover crop) terutama jenis polong-polongan seperti Peuraria javanica, Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides &amp;amp; C. caeraleum untuk mencegah pertumbuhan gulma terutama jenis rumputan&lt;br /&gt;- Gunakan juga tanaman pelindung seperti Lamtoro, Gleresidae dan Albazia, tanaman ini ditanam setahun sebelum penanaman kakao dan pada tahun ketiga jumlah dikurangi hingga tinggal 1 pohon pelindung untuk 3 pohon kakao (1:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Pembibitan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Biji kakao untuk benih diambil dari buah bagian tengah yang masak dan sehat dari tanaman yang telah cukup umur&lt;br /&gt;- Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok&lt;br /&gt;- Karena biji kakao tidak punya masa istirahat (dormancy), maka harus segera dikecambahkan&lt;br /&gt;- Pengecambahan dengan karung goni dalam ruangan, dilakukan penyiraman 3 kali sehari&lt;br /&gt;- Siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan&lt;br /&gt;- Campurkan tanah dengan pupuk kandang (1 : 1), masukkan dalam polibag&lt;br /&gt;- Sebelum kecambah dimasukkan tambahkan 1 gram pupuk TSP / SP-36 ke dalam tiap-tiap polibag&lt;br /&gt;- Benih dapat digunakan untuk bibit jika 2-3 hari berkecambah lebih 50%&lt;br /&gt;- Jarak antar polibag 20 x 20 cm lebar barisan 100 cm&lt;br /&gt;- Tinggi naungan buatan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga sinar masuk tidak terlalu banyak&lt;br /&gt;- Penyiraman bibit dilakukan 1-2 kali sehari&lt;br /&gt;- Penyiangan gulma melihat keadaan areal pembibitan&lt;br /&gt;- Pemupukan dengan N P K ( 2 : 1 : 2 ) dosis sesuai dengan umur bibit, umur 1 bulan : 1 gr/bibit, 2 bulan ; 2 gr/bibit, 3 bulan : 3 gr/bibit, 4 bulan : 4 gr/bibit. Pemupukan dengan cara ditugal&lt;br /&gt;- Siramkan POC NASA dengan dosis 0,5 - 1 tutup/pohon diencerkan dengan air secukupnya atau semprotkan dengan dosis 4 tutup/tangki setiap 2-4 minggu sekali&lt;br /&gt;- Penjarangan atap naungan mulai umur 3 bulan dihilangkan 50% sampai umur 4 bulan&lt;br /&gt;- Amati hama &amp;amp; penyakit pada pembibitan, antara lain ; rayap, kepik daun, ulat jengkal, ulat punggung putih, dan ulat api. Jika terserang hama tersebut semprot dengan PESTONA dosis 6-8 tutup/tangki atau Natural BVR dosis 30 gr/tangki. Jika ada serangan penyakit jamur Phytopthora dan Cortisium sebarkan Natural GLIO yang sudah dicampur pupuk kandang selama + 1 minggu pada masing-masing pohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Penanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Pengajiran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Ajir dibuat dari bambu tinggi 80 - 100 cm&lt;br /&gt;- Pasang ajir induk sebagai patokan dalam pengajiran selanjutnya&lt;br /&gt;- Untuk meluruskan ajir gunakan tali sehingga diperoleh jarak tanam yang sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Lubang Tanam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 60 cm pada akhir musim hujan&lt;br /&gt;- Berikan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah (1:1) ditambah pupuk TSP 1-5 gram per lubang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Tanam Bibit&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Pada saat bibit kakao ditanam pohon naungan harus sudah tumbuh baik dan naungan sementara sudah berumur 1 tahun&lt;br /&gt;- Penanaman kakao dengan system tumpang sari tidak perlu naungan, misalnya tumpang sari dengan pohon kelapa&lt;br /&gt;- Bibit dipindahkan ke lapangan sesuai dengan jenisnya, untuk kakao Mulia ditanam setelah bibit umur 6 bulan, Kakao Lindak umur 4-5 bulan&lt;br /&gt;- Penanaman saat hujan sudah cukup dan persiapan naungan harus sempurna. Saat pemindahan sebaiknya bibit kakao tidak tengah membentuk daun muda (flush)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Pemeliharaan Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;a. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) sebanyak 2-5 liter/pohon&lt;br /&gt;b.Dibuat lubang pupuk disekitar tanaman dengan cara dikoak. Pupuk dimasukkan dalam lubang pupuk kemudian ditutup kembali. Dosis pupuk lihat dalam tabel di samping ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel  Pemupukan  Tanaman  Coklat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;table style="width: 351px; height: 939px;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" rowspan="2" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;UMUR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;(bulan)&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" colspan="4" valign="top" width="276"&gt;            &lt;strong&gt;Dosis pupuk    Makro (per ha)&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;Urea&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;(kg)&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;TSP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;(kg)&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;MOP/ KCl (kg)&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;Kieserite    (MgSO4)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;(kg)&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;18&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;45&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;22&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;45&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;28&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;160&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;250&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;250&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;32&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;160&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;200&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;250&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;36&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;140&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;250&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;250&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;80&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;42&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;140&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="48"&gt;&lt;br /&gt;200&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;br /&gt;250&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="120"&gt;&lt;br /&gt;80&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;Dst&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" colspan="4" valign="top" width="276"&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan analisa tanah&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="276"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dosis POC    NASA mulai awal tanam  :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;0 – 24&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="276"&gt;&lt;br /&gt;2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan    sekitar pangkal batang&lt;br /&gt;    setiap 4 - 5 bulan sekali&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;&gt; 24&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="276"&gt;&lt;br /&gt;3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan    sekitar pangkal batang&lt;br /&gt;    setiap 3 – 4 bulan sekali ( sesekali bisa juga    disemprotkan ke tanaman )&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="276"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dosis POC    NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak  dari awal memakai POC NASA :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="55"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="4" valign="top" width="276"&gt; - Tahap 1 : Aplikasikan 3 – 4 kali berturut-turut    dengan interval 1-2 bln, Dosis 3-4 tutup/ pohon&lt;br /&gt;    - Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali, Dosis 3-4 tutup/ pohon&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Akan lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Pengendalian Hama &amp;amp; Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Ulat  Kilan &lt;em&gt;( Hyposidea  infixaria;  Famili  :  Geometridae )&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; menyerang pada umur 2-4 bulan. Serangan berat mengakibatkan daun muda tinggal urat daunnya saja. Pengendalian dengan PESTONA dosis 5 - 10 cc / liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. Ulat Jaran / Kuda &lt;em&gt;( Dasychira inclusa, Familia : Limanthriidae )&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, ada bulu-bulu gatal pada bagian dorsalnya menyerupai bentuk bulu (rambut) pada leher kuda, terdapat pada marke 4 dan 5 berwarna putih atau hitam, sedang ulatnya coklat atau coklat kehitam-hitaman. Pengendalian dengan musuh alami predator Apanteles mendosa dan Carcelia spp, semprot PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c. Parasa lepida dan Ploneta diducta &lt;em&gt;(Ulat Srengenge)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; serangan dilakukan silih berganti karena kedua species ini agak berbeda siklus hidup maupun cara meletakkan kokonnya, sehingga masa berkembangnya akan saling bergantian. Serangan tertinggi pada daun muda, kuncup yang merupakan pusat kehidupan dan bunga yang masih muda. Siklus hidup Ploneta diducta 1 bulan, Parasa lepida lebih panjang dari pada Ploneta diducta. Pengendalian dengan PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;d. Kutu - kutuan &lt;em&gt;( Pseudococcus  lilacinus )&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, kutu berwarna putih. Simbiosis dengan semut hitam. Gejala serangan : infeksi pada pangkal buah di tempat yang terlindung, selanjutnya perusakan ke bagian buah yang masih kecil, buah terhambat dan akhirnya mengering lalu mati. Pengendalian : tanaman terserang dipangkas lalu dibakar, dengan musuh alami predator; Scymus sp, Semut hitam, parasit Coccophagus pseudococci Natural BVR 30 gr/ 10 liter air atau PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;e. &lt;em&gt;Helopeltis antonii&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, menusukkan ovipositor untuk meletakkan telurnya ke dalam buah yang masih muda, jika tidak ada buah muda hama menyerang tunas dan pucuk daun muda. Serangga dewasa berwarna hitam, sedang dadanya merah, bagian menyerupai tanduk tampak lurus. Ciri serangan, kulit buah ada bercak-bercak hitam dan kering, pertumbuhan buah terhambat, buah kaku dan sangat keras serta jelek bentuknya dan buah kecil kering lalu mati. Pengendalian dilakukan dengan PESTONA dosis 5-10 cc / lt (pada buah terserang), hari pertama semprot stadia imago, hari ke-7 dilakukan ulangan pada telurnya dan pada hari ke-17 dilakukan terhadap nimfa yang masih hidup, sehingga pengendalian benar-benar efektif, sanitasi lahan, pembuangan buah terserang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;f. Cacao Mot ( Ngengat Buah ), &lt;em&gt;Acrocercops cranerella (Famili ; Lithocolletidae)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; Buah muda terserang hebat, warna kuning pucat, biji dalam buah tidak dapat mengembang dan lengket. Pengendalian : sanitasi lingkungan kebun, menyelubungi buah coklat dengan kantong plastik yang bagian bawahnya tetap terbuka (kondomisasi), pelepasan musuh alami semut hitam dan jamur antagonis Beauveria bassiana ( BVR) dengan cara disemprotkan, semprot dengan PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;g. Penyakit Busuk Buah (&lt;em&gt;Phytopthora  palmivora)&lt;/em&gt;,&lt;/strong&gt; gejala serangan dari ujung buah atau pangkal buah nampak kecoklatan pada buah yang telah besar dan buah kecil akan langsung mati. Pengendalian : membuang buah terserang dan dibakar, pemangkasan teratur, semprot dengan Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;h. Jamur Upas &lt;em&gt;( Upasia  salmonicolor ),&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; menyerang batang dan cabang. Pengendalian : kerok dan olesi batang atau cabang terserang dengan Natural GLIO+HORMONIK, pemangkasan teratur, serangan berlanjut dipotong lalu dibakar.&lt;br /&gt;Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Pemangkasan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Pemangkasan ditujukan pada pembentukan cabang yang seimbang dan pertumbuhan vegetatif yang baik. Pohon pelindung juga dilakukan pemangkasan agar percabangan dan daunnya tumbuh tinggi dan baik. Pemangkasan ada beberapa macam yaitu :&lt;br /&gt;- Pangkas Bentuk, dilakukan umur 1 tahun setelah muncul cabang primer (jorquet) atau sampai umur 2 tahun dengan meninggalkan 3 cabang primer yang baik dan letaknya simetris.&lt;br /&gt;- Pangkas Pemeliharaan, bertujuan mengurangi pertumbuhan vegetatif yang berlebihan dengan cara menghilangkan tunas air (wiwilan) pada batang pokok atau cabangnya.&lt;br /&gt;- Pangkas Produksi, bertujuan agar sinar dapat masuk tetapi tidak secara langsung sehingga bunga dapat terbentuk. Pangkas ini tergantung keadaan dan musim, sehingga ada pangkas berat pada musim hujan dan pangkas ringan pada musim kemarau.&lt;br /&gt;Pangkas Restorasi, memotong bagian tanaman yang rusak dan memelihara tunas air atau dapat dilakukan dengan side budding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat petik persiapkan rorak-rorak dan koordinasi pemetikan. Pemetikan dilakukan terhadap buah yang masak tetapi jangan terlalu masak. Potong tangkai buah dengan menyisakan 1/3 bagian tangkai buah. Pemetikan sampai pangkal buah akan merusak bantalan bunga sehingga pembentukan bunga terganggu dan jika hal ini dilakukan terus menerus, maka produksi buah akan menurun. Buah yang dipetik umur 5,5 - 6 bulan dari berbunga, warna kuning atau merah. Buah yang telah dipetik dimasukkan dalam karung dan dikumpulkan dekat rorak. Pemetikan dilakukan pada pagi hari dan pemecahan siang hari. Pemecahan buah dengan memukulkan pada batu hingga pecah. Kemudian biji dikeluarkan dan dimasukkan dalam karung, sedang kulit dimasukkan dalam rorak yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Pengolahan Hasil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Fermentasi, tahap awal pengolahan biji kakao. Bertujuan mempermudah menghilangkan pulp, menghilangkan daya tumbuh biji, merubah warna biji dan mendapatkan aroma dan cita rasa yang enak.&lt;br /&gt;Pengeringan, biji kakao yang telah difermentasi dikeringkan agar tidak terserang jamur dengan sinar matahari langsung (7-9 hari) atau dengan kompor pemanas suhu 60-700C (60-100 jam). Kadar air yang baik kurang dari 6 %.&lt;br /&gt;Sortasi, untuk mendapatkan ukuran tertentu dari biji kakao sesuai permintaan. Syarat mutu biji kakao adalah tidak terfermentasi maksimal 3 %, kadar air maksimal 7%, serangan hama penyakit maksimal 3 % dan bebas kotoran.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-1745543580792198915?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/1745543580792198915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=1745543580792198915' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1745543580792198915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/1745543580792198915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-kakaocoklat.html' title='Budidaya KAKAO/COKLAT'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrZg5WXSXI/AAAAAAAAAKw/t0HnzKmzPJk/s72-c/lif-013+Kakao.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-6281142604956133267</id><published>2008-07-26T00:55:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T00:58:30.754-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cengkeh'/><title type='text'>Budidaya CENGKEH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrYvJjeY7I/AAAAAAAAAKo/BcZKAQ13IUg/s1600-h/lif-039+cengkeh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrYvJjeY7I/AAAAAAAAAKo/BcZKAQ13IUg/s400/lif-039+cengkeh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227228622047044530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Cengkeh merupakan salah satu komoditas pertanian yang tinggi nilai ekonominya. Baik sebagai rempah-rempah, bahan campuran rokok kretek atau bahan dalam pembuatan minyak atsiri, namun bila faktor penanaman dan pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka produksi dan kualitasnya akan menjadi rendah.&lt;br /&gt;PT. NATURAL NUSANTARA berusaha berperan dalam peningkatan produksi secara K-3 yaitu Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;   - Tanaman tumbuh optimal pada 300 - 600 dpal dengan suhu 22°-30°C, curah hujan yang dikehendaki 1500  4500 mm/tahun&lt;br /&gt;- Tanah gembur dengan dalam solum minimum 2 m, tidak berpadas dengan pH optimal 5,5 - 6,5. Tanah jenis latosol, andosoldan podsolik merah baik untuk dijadikan perkebunan cengkih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. PEMBIBITAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; - Buat bedengan untuk naungan dengan lebar 1- 1,2 m dan panjang sesuai kebutuhan dengan arah membujur ke utara selatan. Kanan kiri bedengan dibuat parit sedalam 20 cm dan lebar 50 cm. Diatas bedengan dibuat naungan setinggi 1,8 m dibagian timur dan 1,2 m dibagian selatan, intensitas cahaya 75%.&lt;br /&gt;- Benih dibenamkan pada media di polybag ukuran 15 cm x 20 cm (untuk bibit yang akan dipindahkan pada umur 1 tahun) atau ukuran 20 cm x 25 cm (untuk bibit yang akan dipindahkan pada umur 2 tahun) yang bagian bawahnya telah dilubangi 2,5 mm dengan jarak 2 x 2 cm. Media yang digunakan pasir halus, tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1, dan berikan Natural GLIO per 20 25 kg pupuk kandang yang telah jadi dan diperam selama ± 2 minggu. Dan sebelum bibit ditanam siram tanah dengan POC NASA 5 ml/lt air atau 0,5 tutup per liter air. -Kemudian susun polybag pada persemaian yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;- Penyiraman dilakukan dua kali dalam sehari. Penyiangan dilakukan 2-3 kali dalam sebulan disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Intensitas naungan perlahan-lahan dikurangi secara bertahap hingga tinggal 40% saat bibit dipindahkan ke lapang.&lt;br /&gt;- Pemupukan dengan NPK dilakukan dengan dosis 10 gr/pohon/tahun atau dengan Urea, SP-36 dan KCl dengan dosis masing-masing 3,5 gr/bibit/tahun . Pupuk tersebut diberikan tiap 3 bulan sekali sedangkan untuk yang didalam polibag diberikan sebanyak 1,5 bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt; Akan lebih baik pembibitan diselingi/ditambah SUPERNASA interval 4 bulan sekali dengan dosis 1 botol untuk ± 400 bibit. 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap bibit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IV. PENGAJIRAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Pengajiran dilakukan pada blok tanaman untuk memudahkan penanaman dengan jarak tanam 8 x 8 m dengan pola bujursangkar atau empatpersegi panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;V. PENANAMAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt; Cangkul tanah yang telah diberi ajir dengan ukuran lubang tanam 75 x 75 x 75 cm. Lakukan penanaman pada awal musim hujan. Berikanlah pupuk kandang 25 - 50 kg yang telah dicampur dengan 1 pak Natural GLIO dan 1,5 - 2 kg dolomit, campur hingga rata. Masukan 5-10 kg campuran tersebut per lubang tanam. Masukkan bibit dan gumpalan tanahnya kedalam lubang hingga batas leher akar. Beri peneduh buatan setingggi 30 cm dengan intensitas 50%. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis 2-3 ml/liter air per bibit atau semprot POC NASA dosis 2 tutup/ tangki. Hasil akan lebih bagus dengan menggunakan SUPERNASA dengan cara : 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) dijadikan larutan induk. Kemudian dalam 1 liter air ditambahkan 10 ml larutan induk kemudian diberikan untuk setiap pohonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VI. PEMELIHARAAN TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;   Pengaturan peneduh dilakukan antara 4-6 bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VII. PEMUPUKAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col span="5" width="64"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" rowspan="2" height="40" width="64"&gt;UMUR&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" colspan="4" width="256"&gt;PUPUK    MAKRO&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;Urea&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;TSP&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;KCl&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;Dolomit&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;0,5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;50&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;25&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;35&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;50&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;1&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;50&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;75&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;2&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;150&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;75&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;125&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;150&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;3&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;100&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;150&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;4&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;400&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;400&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;750&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;300&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;600&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;6&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1000&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;400&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;800&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;750&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;7&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1000&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1000&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;8&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;600&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1250&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2000&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;9&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2600&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;700&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2500&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;10&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3000&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;800&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1750&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2900&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;11&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;900&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2000&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3300&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;12&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3500&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;900&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2250&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3800&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- Bila diberikan dua periode pemberian pupuk pertama dilakukan awal musim hujan (September-Oktober) dan kedua pada akhir musim hujan (Maret-April).&lt;br /&gt;- Siramkan SUPERNASA atau POWER NUTRITION dosis 1 sendok makan per 10 lt air per pohon setiap 3-6 bulan sekali&lt;br /&gt;- Semprotkan POC NASA dosis 3 - 4 tutup + HORMONIK dosis 1-2 tutup pertangki setiap 1-2 bulan sekali hingga umur 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VIII. PENGENDALIAN HAMA dan PENYAKIT&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;A. Kutu daun &lt;em&gt;( Coccus viridis )&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang : ranting muda, daun muda. Gejala : Pertumbuhan yang dihisapnya akan terhenti misal ranting mengering, daun dan bunga kering dan rontok. Pencegahan gunakan PENTANA + AERO 810 atau Natural BVR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Penggerek ranting/batang &lt;em&gt;(Xyleborus sp )&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang : ranting/batang. Gejala : Liang gerekan berupa lubang kecil, serangan hebat menyebabkan ranting / batang menjadi rapuh dan mudah patah.Pengendalian : Pangkas ranting/batang yang terserang, pencegahan gunakan PESTONA atau Natural BVR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Kepik Helopeltis &lt;em&gt;( Helopeltis sp )&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang : pucuk atau daun muda. Gejala : Biasanya pucuk akan mati dan daun muda berguguran.Pencegahan : Semprotkan Natural BVR atau PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Penyakit mati bujang &lt;em&gt;( bakteri Xylemlimited bacterium ).&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang terserang : perakaran, ranting-ranting muda. Gejala : matinya ranting pada ujung-ujung tanaman.Gugurnya daun diikuti dengan matinya ranting secara bersamaan. Pengendalian : pengaturan drainase yang baik, penggemburan tanah, pencegahan kocorkan POC NASA + HORMONIK + NATURAL GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E. Penyakit busuk akar &lt;em&gt;(Pytium rhizoctonia dan Phytopthora ).&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang diserang : perakaran. Gejala : pada pembibitan tanaman mati secara tiba-tiba, pada tanaman dewasa daun mengering mulai dari ranting bagian bawah. Pengendalian : bila serangan telah ganas maka tanaman yang terserang dibongkar dan dimusnahkan, lubang bekas tanaman berikan tepung belerang 200 gr secara merata, isolasi tanaman atau daerah yang terserang dengan membuat saluran isolasi, perbaiki drainase, gunakan Natural GLIO pada awal penanaman untuk pencegahan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Catatan :&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IX. PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cengkih dapat mulai dipanen mulai umur tanaman 4,5 - 6,5 tahun, untuk memperoleh mutu yang baik bunga cengkih dipetik saat matang petik, yaitu saat kepala bunga kelihatan sudah penuh tetapi belum membuka. Matang petik setiap tanaman umumnya tidak serempak dan pemetikan dapat diulangi setiap 10-14 hari selama 3-4 bulan. Bunga cengkih dipetik per tandan tepat diatas buku daun terakhir. Bunga yang telah dipetik lalu dimasukkan ke dalam keranjang/karung kecil dan dibawa ke tempat pengolahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;X. PENANGANAN PASCA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;  - Sortasi buah. Lakukan pemisahan bunga dari tangkainya dan tempatkan pada tempat yang berbeda.&lt;br /&gt;- Pemeraman. Pemeraman dilakukan selama 1 hari ini dilakukan untuk memperbaiki warna cengkih menjadi coklat mengkilat.&lt;br /&gt;- Pengeringan. Pengeringan dapat dilakukan dengan mesin pengering yang menggunakan kayu bakar atau bahan bakar minyak.Dapat juga dikeringkan dengan cara alami yaitu pengeringan dengan matahari pada lantai beton agar kadar air menjadi 12-14%, dan dapat disimpan dan aman dari jamur.&lt;br /&gt;- Sortasi. Pada tahap ini cengkih dipisahkan dari kotoran dengan cara ditampi. Kemudian cengkih yang sudah bersih dimasukan pada karung dan dijahit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-6281142604956133267?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/6281142604956133267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=6281142604956133267' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6281142604956133267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/6281142604956133267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-cengkeh.html' title='Budidaya CENGKEH'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrYvJjeY7I/AAAAAAAAAKo/BcZKAQ13IUg/s72-c/lif-039+cengkeh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-2237206778660036381</id><published>2008-07-26T00:42:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T00:55:04.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kopi'/><title type='text'>Budidaya KOPI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrVtkHBjwI/AAAAAAAAAKg/TUothQy6eJU/s1600-h/lif-046+Kopi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrVtkHBjwI/AAAAAAAAAKg/TUothQy6eJU/s400/lif-046+Kopi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227225296280850178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tanaman Kopi merupakan tanaman yang sangat familiar di lahan pekarangan penduduk pedesaan di Indonesia. Jika potensi dahsyat ini bisa kita manfaatkan tidaklah sulit untuk menjadikan komoditi ini menjadi andalan di sektor perkebunan. Hanya butuh sedikit sentuhan teknis budidaya yang&lt;br /&gt;tepat, niscaya harapan kita optimis menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;PT. Natural Nusantara berusaha mewujudkan harapan bersama tersebut dengan paket panduan teknis dan produk tanpa melupakan Aspek K-3 yaitu kuantitas, kualitas dan kelestarian yang kini menjadi salah satu syarat persaingan di era globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. PERSIAPAN LAHAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Untuk tanah pegunungan/miring buat teras.&lt;br /&gt;- Kurangi/tambah pohon pelindung yang cepat tumbuh kira-kira 1:4 hingga 1: 8 dari  jumlah tanaman kopi.&lt;br /&gt;- Siapkan pupuk kandang matang sebanyak 25-50 kg, sebarkan Natural GLIO, diamkan satu minggu dan buat lobang tanam 60 x 60, atau 75 x 75 cm dengan jarak tanam 2,5x2,5 hingga 2,75 x 2,75 m minimal 2 bulan sebelum tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. PEMBIBITAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Siapkan biji yang berkualitas  dari pohon yang telah diketahui produksinya biasanya dari penangkar benih terpercaya.&lt;br /&gt;- Buat kotak atau bumbunan tanah untuk persemaian dengan tebal lapisan pasir sekitar 5 cm.&lt;br /&gt;- Buat pelindung dengan pelepah atau paranet dengan pengurangan bertahap jika bibit telah tumbuh&lt;br /&gt;- Siram bibitan dengan rutin dengan melihat kebasahan tanah&lt;br /&gt;- Bibit akan berkecambah kurang lebih 1 bulan, pilih bibit yang sehat dan lakukan pemindahan ke polibag dengan hati2 agar akar tidak putus pada umur bibit 2 -3 bulan sejak awal pembibitan&lt;br /&gt;- Tambahkan pupuk NPK  sebagai pupuk dasar (lihat tabel) hingga umur 12  bulan&lt;br /&gt;- Siramkan SUPERNASA dosis 1 sendok makan per 10 liter air, ambil 250 ml per pohon dari larutan tersebut&lt;br /&gt;- Setelah bibit umur 4 bulan semprotkan 2 tutup POC NASA per tangki sebulan sekali  hingga umur bibit 7-9 bulan dan siap tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tabel  Dosis Pupuk Untuk Bibit Kopi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="68"&gt;   &lt;col span="3" width="61"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr height="28"&gt;     &lt;td rowspan="2" height="48" width="68"&gt;&lt;div align="center"&gt;Umur    (bln)&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" width="183"&gt;&lt;div align="center"&gt;gr/m2&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td height="20" width="61"&gt;&lt;div align="center"&gt;Urea&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="61"&gt;&lt;div align="center"&gt;SP-36&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td width="61"&gt;&lt;div align="center"&gt;KCl&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td height="20"&gt;&lt;div align="center"&gt;3&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;10&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td height="20"&gt;&lt;div align="center"&gt;5&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;20&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;10&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;10&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td height="20"&gt;&lt;div align="center"&gt;7&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;30&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;15&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;15&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td height="20"&gt;&lt;div align="center"&gt;9&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;40&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;20&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;20&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td height="20"&gt;&lt;div align="center"&gt;12&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;50&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;25&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;25&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan : &lt;/strong&gt;Jenis dan dosis pupuk bisa sesuai dengan anjuran dinas pertanian setempat. Perhatikan kelembapan tanah agar bibit tidak terkena serangan karat daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IV. PENANAMAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Masukkan pupuk kandang dengan campuran tanah bagian atas saat penanaman bibit.&lt;br /&gt;- Usahakan saat tanam sudah memasuki musim hujan.&lt;br /&gt;- Lakukan penyiraman tanah setelah tanam&lt;br /&gt;- Hindarkan resiko kematian tanaman baru dari gangguan ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;V. PENYULAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Lakukan penyulaman segera jika tanaman mati atau gejala pertumbuhannya tidak normal.&lt;br /&gt;- Penyulaman dilakukan awal musim hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VI. PENYIRAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lakukan penyiraman jika tanah kering atau musim kemarau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VII. PEMUPUKAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Pemupukan NPK diberikan dua kali setahun, yaitu awal dan akhir musim hujan.&lt;br /&gt;- Setelah pemupukan sebaiknya disiram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jenis dan Dosis Pupuk Makro sesuai table.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="68"&gt;   &lt;col span="3" width="89"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr height="28"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" rowspan="2" height="48" width="68"&gt;Tahun&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" colspan="3" width="267"&gt;gr/pohon/tahun&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20" width="89"&gt;Urea&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="89"&gt;SP-36&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" width="89"&gt;KCl&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;1&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 25&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 25&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 20&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;2&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 50&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 50&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 40&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;3&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 75&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 70&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 40&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;4&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 100&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 90&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 40&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;5 - 10&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 150&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 130&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 60&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;&gt; 10&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 200&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 175&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 x 80&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Catatan : &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Jenis dan Dosis pupuk sesuai dengan jenis tanah atau rekomendasi  dinas pertaniam setempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemupukan dibuat lubang kecil mengelilingi tanaman sejauh ¾ lebar tajuk, pupuk dimasukan dan ditutup tanah.&lt;br /&gt;Akan lebih baik ditambah pupuk organik SUPERNASA dosis 1 botol untuk ± 200 tanaman . 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon atau siram atau kocorkan SUPERNASA 1 sendok makan per 10 liter air setiap 3-6 bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Semprotkan POC NASA 3-4 tutup + HORMONIK 1-2 tutup per tangki setiap 1 bulan sekali&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VIII. PEMANGKASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lakukan pemangkasan rutin setelah berakhirnya masa panen (pangkas berat) untuk mengatur bentuk pertumbuhan, mengurangi cabang tunas air (wiwilan), mengurangi penguapan dan bertujuan agar terbentuk bunga, serta perbaikan bagian tanaman yang rusak.&lt;br /&gt;Pemangkasan pada awal atau akhir musim hujan setelah pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IX. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. H A M A&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Bubuk buah kopi &lt;em&gt;(Stephanoderes hampei)&lt;/em&gt; serangan di penyimpanan buah maupun saat masih di kebun . Pencegahan dengan PESTONA atau BVR secara bergantian&lt;br /&gt;2. Penggerek cabang coklat dan hitam &lt;em&gt;(Cylobarus morigerus dan Compactus )&lt;/em&gt; menyerang ranting dan cabang. Pencegahan dengan PESTONA.&lt;br /&gt;3. Kutu dompolan &lt;em&gt;(Pseudococcus citri) &lt;/em&gt;menyerang kuncup bunga, buah muda, ranting dan daun muda, pencegahan gunakan PESTONA, BVR atau PENTANA.+ AERO 810 secara bergantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. PENYAKIT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Penyakit karat daun disebabkan oleh &lt;em&gt;Hemileia vastatrix &lt;/em&gt;, preventif semprotkan Natural GLIO&lt;br /&gt;2. Penyakit Jamur Upas disebabkan oleh &lt;em&gt;Corticium salmonicolor &lt;/em&gt;: Kurangi kelembaban , kerok dan preventif oleskan batang/ranting dengan Natural GLIO + POC NASA&lt;br /&gt;3. Penyakit akar hitam penyebab &lt;em&gt;Rosellina bunodes&lt;/em&gt; dan&lt;em&gt; R. arcuata.&lt;/em&gt; Ditandai dengan daun kuning, layu, menggantung dan gugur. preventif dengan Natural GLIO&lt;br /&gt;4. Penyakit akar coklat  penyebabnya : &lt;em&gt;Fomes lamaoensis atau Phellinus lamaoensis&lt;/em&gt; preventif dengan Natural GLIO&lt;br /&gt;5. Penyakit bercak coklat pada daun oleh &lt;em&gt;Cercospora cafeicola Berk et Cooke&lt;/em&gt; pencegahan dengan Natural GLIO&lt;br /&gt;6. Penyakit mati ujung pada ranting.Penyebabnya &lt;em&gt;Rhizoctonia&lt;/em&gt; .Preventif gunakan Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Catatan : &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;X. P A N E N&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kopi akan berproduksi mulai umur 2,5 tahun jika dirawat dengan baik dan buah telah menunjukkan warna merah yang meliputi sebagian besar tanaman, dan dilakukan bertahap sesuai dengan masa kemasakan buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;XI. PENGOLAHAN HASIL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Agar dipersiapkan terlebih dahulu tempat penjemuran, pengupasan kulit dan juga penyimpanan hasil panen agar tidak rusak akibat hama pasca panen. Buah panenan harus segera diproses maksimal 20 jam setelah petik untuk mendapatkan hasil yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Penyebab Kerusakan Kopi Beras :&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;1. Biji keriput : asal buah masih muda&lt;br /&gt;2. Biji berlubang :kopi terserang bubuk&lt;br /&gt;3. Biji kemerahan : Kurang bersih mencucinya&lt;br /&gt;4. Biji pecah : mesin pengupas kurang sempurna, berasal dari buah yang terserang bubuk, pada saat pengupasan dengan mesin kopi terlalu kering.&lt;br /&gt;5. Biji pecah diikuti oleh perubahan warna: mesin penguap dan pemisah kulit dengan biji kurang sempurna, fermentasi pada pengolahan basah kurang sempurna.&lt;br /&gt;6. Biji belang : pengeringan tidak sempurna, terlalu  lama disimpan , suhu penyimpanan terlalu lembab.&lt;br /&gt;7. Biji Pucat : terlalu lama disimpan di tempat  lembab&lt;br /&gt;8. Biji berkulit ari : Pengeringan tidak sempurna  atau terlalu lama, pada pengeringan buatan suhu awal terlalu rendah.&lt;br /&gt;9. Biji berwarna kelabu hitam : pada    pengeringan buatan suhunya terlalu tinggi.&lt;br /&gt;10. Noda-noda cokelat hitam : pada pengeringan buatan, kopi tidak sering diaduk/dibolak-balik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-2237206778660036381?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/2237206778660036381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=2237206778660036381' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2237206778660036381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/2237206778660036381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-kopi.html' title='Budidaya KOPI'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrVtkHBjwI/AAAAAAAAAKg/TUothQy6eJU/s72-c/lif-046+Kopi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-973244401595615418</id><published>2008-07-26T00:36:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T00:41:55.306-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tembakau'/><title type='text'>Budidaya TEMBAKAU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrUOeRLRHI/AAAAAAAAAKY/AcBk4AXQi1s/s1600-h/lif-002+Tembakau.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrUOeRLRHI/AAAAAAAAAKY/AcBk4AXQi1s/s400/lif-002+Tembakau.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227223662625244274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tembakau adalah komoditi yang cukup banyak dibudidayakan petani. Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal PT. Natural Nusantara berusaha membantu meningkatkan produksi secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( Aspek K-3 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman tembakau, curah hujan rata-rata 2000 mm/tahun, Suhu udara yang cocok antara 21-32 derajat C, pH antara 5-6. Tanah gembur, remah, mudah mengikat air, memiliki tata air dan udara yang baik sehingga dapat meningkatkan drainase, ketinggian antara 200-3.000 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBIBITAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Jumlah benih + 8-10 gram/ha, tergantung jarak tanam.&lt;br /&gt;- Biji utuh, tidak terserang penyakit dan  tidak keriput&lt;br /&gt;- Media semai = campuran tanah (50%) + pupuk kandang matang yang telah dicampur dengan Natural GLIO (50%). Dosis pupuk untuk setiap meter persegi media semai adalah 70 gram DS dan 35 gram ZA dan isikan pada polybag&lt;br /&gt;- Bedeng persemaian diberi naungan berupa daun-daunan, tinggi atap 1 m sisi Timur dan 60 cm sisi Barat.&lt;br /&gt;- Benih direndam dalam  POC NASA 5 cc per gelas air hangat selama 1-2 jam lalu dikeringanginkan.&lt;br /&gt;- Kecambahkan pada baki/tampah yang diberi alas kertas merang atau kain yang dibasahi hingga agak lembab. Tiga hari kemudian benih sudah menampakkan akarnya yang ditandai dengan bintik putih. Pada stadium ini benih baru dapat disemaikan.&lt;br /&gt;- Siram media semai sampai agak basah/lembab, masukan benih pada lubang sedalam 0,5 cm dan tutup tanah tipis-tipis.&lt;br /&gt;- Semprot POC NASA (2-3 tutup/tangki) selama pembibitan berumur 30 dan 45 hari.&lt;br /&gt;- Bibit sudah dapat dipindahtanamkan ke kebun apabila berumur 35-55 hari setelah semai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGOLAHAN MEDIA TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Lahan disebari pupuk kandang dosis 10-20 ton/ha lalu dibajak dan dibiarkan + 1 minggu&lt;br /&gt;- Buat bedengan lebar  40 cm dan tinggi 40 cm. Jarak antar bedeng 90-100 cm dengan arah membujur antara timur dan barat.&lt;br /&gt;- Lakukan pengapuran jika tanah masam&lt;br /&gt;- Siram SUPERNASA dengan dosis : 10 - 15 botol/ha&lt;br /&gt;- Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.&lt;br /&gt;Alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.&lt;br /&gt;Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet dicampur pupuk kandang matang 25-50 kg secara merata ke bedengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBUATAN LUBANG TANAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apabila diinginkan daun yang tipis dan halus maka jarak tanam harus rapat, sekitar 90 x 70 cm. Tembakau Madura ditanam dengan jarak 60 x 50 cm yang penanamannya dilakukan dalam dua baris tanaman setiap gulud. Jenis tembakau rakyat/rajangan umumnya ditanam dengan jarak tanam 90 x 90 cm dan penanamannya dilakukan satu baris tanaman setiap gulud, dan jarak antar gulud 90 cm atau 120 x 50 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CARA PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Basahi dan sobek  polibag lalu benamkan bibit sedalam leher akar&lt;br /&gt;Waktu tanam pada pagi hari atau sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENYULAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyulaman dilakukan  1- 3 minggu setelah tanam, bibit  kurang baik  dicabut dan diganti dengan bibit baru yang berumur sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENYIANGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan dapat dilakukan bersamaan dengan pembumbunan yaitu setiap 3 minggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMUPUKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dosis  tergantung jenis tanah dan varietas&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" rowspan="2" width="130"&gt; &lt;strong&gt;Waktu Pemupukan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td colspan="3" valign="top" width="180"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;Dosis Pupuk Makro (kg/ha)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="66"&gt; Urea/ZA&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; SP - 36&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; KCl&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="130"&gt;Saat Tanam&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="66"&gt; -&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; 300&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; -&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="130"&gt;Umur 7 HST&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="66"&gt; 300&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; -&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; 150&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="130"&gt;Umur 28 HST&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="66"&gt; 300&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; -&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; 150&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td valign="top" width="130"&gt;TOTAL&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="66"&gt; 600&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; 300&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="57"&gt; 300&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Ket : HST = hari setelah tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyemprotan POC NASA dosis 4-5 tutup / tangki atau lebih bagus POC NASA (3-4 tutup) dicampur HORMONIK (1-2 tutup) per tangki setiap 1- 2 minggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pengairan diberikan 7 HST = 1-2 lt air/tanaman, umur 7-25 HST = 3-4 lt/tanaman, umur 25-30 HST = 4 lt/tanaman. Pada umur 45 HST = 5 lt/tanaman setiap 3 hari. Pada umur 65 HST penyiraman dihentikan, kecuali bila cuaca sangat kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMANGKASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pangkas tunas ketiak daun dan bunga  setiap  3 hari sekali&lt;br /&gt;Pangkas pucuk tanaman saat bunga mekar dengan 3-4 lembar daun di bawah bunga&lt;br /&gt;PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HAMA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Ulat  Grayak  ( Spodoptera  litura &lt;/em&gt;) Gejala : berupa lubang-lubang tidak beraturan dan berwarna putih pada luka bekas gigitan. Pengendalian: Pangkas dan bakar sarang telur dan ulat, penggenangan sesaat pada pagi/sore hari , semprot Natural VITURA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Ulat   Tanah  ( Agrotis  ypsilon ) &lt;/em&gt;Gejala : daun terserang berlubang-lubang terutama daun muda sehingga tangkai daun rebah. Pengendalian: pangkas daun sarang telur/ulat, penggenangan sesaat, semprot PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Ulat penggerek pucuk ( Heliothis sp. )&lt;/em&gt; Gejala: daun pucuk tanaman terserang berlubang-lubang dan habis. Pengendalian: kumpulkan dan musnah telur / ulat, sanitasi kebun, semprot PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;d. Nematoda  (  Meloydogyne  sp. )&lt;/em&gt; Gejala : bagian akar tanaman tampak bisul-bisul bulat, tanaman kerdil, layu, daun berguguran dan akhirnya mati. Pengendalian: sanitasi kebun, pemberian GLIO diawal tanam, PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;e. Kutu - kutuan ( Aphis Sp,  Thrips  sp,  Bemisia  sp.)&lt;/em&gt; pembawa penyakit yang disebabkan virus. Pengendalian:  predator Koksinelid,  Natural BVR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;f. Hama lainnya Gangsir (Gryllus mitratus )&lt;/em&gt;, jangkrik (Brachytrypes portentosus), orong-orong (Gryllotalpa africana), semut geni (Solenopsis geminata), belalang banci (Engytarus tenuis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Hangus  batang ( damping off  )&lt;/em&gt; Penyebab : jamur Rhizoctonia solani. Gejala: batang tanaman yang terinfeksi akan mengering dan berwarna coklat sampai hitam seperti terbakar. Pengendalian : cabut tanaman yang terserang dan bakar, pencegahan awal dengan Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Lanas&lt;/em&gt; Penyebab : Phytophora parasitica var. nicotinae. Gejala: timbul bercak-bercak pada daun berwarna kelabu yang akan meluas, pada batang, terserang akan lemas dan menggantung lalu layu dan mati. Pengendalian: cabut tanaman yang terserang dan bakar, semprotkan Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Patik   daun&lt;/em&gt; Penyebab : jamur Cercospora nicotianae. Gejala: di atas daun terdapat bercak bulat putih hingga coklat, bagian daun yang terserang menjadi rapuh dan mudah robek. Pengendalian: desinfeksi bibit, renggangkan jarak tanam, olah tanah intensif, gunakan air bersih, bongkar dan bakar tanaman terserang, semprot Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;d. Bercak   coklat &lt;/em&gt;Penyebab : jamur Alternaria longipes. Gejala: timbul bercak-bercak coklat, selain tanaman dewasa penyakit ini juga menyerang tanaman di persemaian. Jamur juga menyerang batang dan biji. Pengendalian: mencabut dan membakar tanaman yang terserang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;e. Busuk    daun &lt;/em&gt;Penyebab : bakteri Sclerotium rolfsii. Gejala: mirip dengan lanas namun daun membusuk, akarnya bila diteliti diselubungi oleh massa cendawan. Pengendalian: cabut dan bakar tanaman terserang, semprot Natural GLIO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;f. Penyakit Virus&lt;/em&gt; Penyebab: virus mozaik (Tobacco Virus Mozaic, (TVM), Kerupuk (Krul), Pseudomozaik, Marmer, Mozaik ketimu (Cucumber Mozaic Virus). Gejala: pertumbuhan tanaman menjadi lambat. Pengendalian: menjaga sanitasi kebun, tanaman yang terinfeksi di cabut dan dibakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, dapat digunakan pestisida kimia sesuai anjuran. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml ( ½ tutup) pertangki &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PANEN DAN PASCA PENEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemetikan daun tembakau yang baik adalah jika daun-daunnya telah cukup umur dan telah berwarna hijau kekuning-kuningan.Untuk golongan tembakau cerutu maka pemungutan daun yang baik pada tingkat tepat masak/hampir masak hal tersebut di tandai dengan warna keabu-abuan. Sedangkan untuk golongan sigaret pada tingkat kemasakan tepat masak/masak sekali, apabila pasar menginginkan krosok yang halus maka pemetikan dilakukan tepat masak. Sedangkan bila menginginkan krosok yang kasar pemetikan diperpanjang 5-10 hari dari tingkat kemasakan tepat masak.&lt;br /&gt;Daun dipetik mulai dari daun terbawah ke atas. Waktu yang baik untuk pemetikan adalah pada sore/pagi hari pada saat hari cerah. Pemetikan dapat dilakukan berselang 3-5 hari, dengan jumlah daun satu kali petik antara 2-4 helai tiap tanaman. Untuk setiap tanaman dapat dilakukan pemetikan sebanyak 5 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sortir daun berdasarkan kualitas warna daun yaitu:&lt;br /&gt;a) Trash (apkiran): warna daun hitam&lt;br /&gt;b) Slick (licin/mulus): warna daun kuning muda&lt;br /&gt;c) Less slick (kurang liciin): warna daun kuning (seperti warna buah jeruk lemon)&lt;br /&gt;d) More  grany  side ( sedikit  kasar ) : warna  daun  antara kuning-oranye.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-973244401595615418?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/973244401595615418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=973244401595615418' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/973244401595615418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/973244401595615418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-tanaman-tembakau.html' title='Budidaya TEMBAKAU'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrUOeRLRHI/AAAAAAAAAKY/AcBk4AXQi1s/s72-c/lif-002+Tembakau.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-7475058472088793792</id><published>2008-07-26T00:28:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T00:40:47.531-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pagar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepyar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jatropha curcas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jarak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ricinus communis'/><title type='text'>Budidaya JARAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrSqEUTo5I/AAAAAAAAAKQ/kfXlXdkEp2M/s1600-h/lif-042+jarak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrSqEUTo5I/AAAAAAAAAKQ/kfXlXdkEp2M/s400/lif-042+jarak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227221937672135570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman Jarak di Indonesia dapat tumbuh dengan baik karena kesesuaian iklim dan tanah, sehingga tumbuh bisa merata sebagai gulma. Namun karena hasil dari tanaman ini bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis, maka tanaman ini kini mulai di budidayakan.&lt;br /&gt;PT. Natural Nusantara mencoba memberikan bantuan teknis budidaya tanaman ini sehingga mampu berproduksi sesuai dengan harapan yang diinginkan tanpa meninggalkan standar kuantitas, kualitas, dan kelestarian lingkungan (Aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Syarat tumbuh tanaman jarak membutuhkan  air 350-500 ml air sepanjang pertumbuhannya.&lt;br /&gt;Disamping faktor air, tanaman jarak ini membutuhkan syarat temperatur 20º-30ºC sepanjang hidupnya, serta ketinggian tempat yang optimal adalah 0-800 m dpl. Keluarnya biji akan sangat berkurang atau minim jika suhu mencapai 40ºC atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERSIAPAN LAHAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan lahan yang akan digunakan untuk budidaya tanaman jarak ini biasanya memilih tanah yang kurang produktif ataupun kurang pengairan, dan ini biasanya di daerah marginal / kritis, karena tanaman jarak ini tidaklah terlalu membutuhkan syarat-syarat khusus, seperti halnya tanaman perdu lainnya. Pengolahan tanah yang standar adalah pembuatan lubang tanam dengan ukuran 30 cm x 30cm x 30cm dan jarak tanam antar barisan 2-4 meter dan jarak dalam barisan 1-2 meter tergantung varietas yang dipilih. Persiapan tanah yang bisa juga dilakukan adalah membersihkan dari gangguan gulma, terutama akar-akar ilalang yang menghasilkan alelopati / senyawa penghambat tumbuh tanaman lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBIBITAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Biji jarak dapat ditanam 2-3 butir biji perlubang langsung di lahan kemudian pilih tanaman yang terbaik pertumbuhannya untuk dibudidayakan. Pemeliharaan tanaman muda dilakukan dengan menyemprot dengan POC NASA dosis 2-3 tutup per tangki seminggu sekali pada pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MACAM-MACAM JENIS JARAK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak sekali jenis jarak yang dapat tumbuh di tanah air kita antara lain :&lt;br /&gt;&lt;em&gt;A. Jarak Kepyar/Jepang ( Ricinus communis).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jenis ini laku di pasaran dunia yang dikenal dengan nama castor oil plant. Jenis ini berbuah sekali dalam setahun (semusim), dengan ciri buah muda berwarna hijau dan berubah coklat setelah tua. Buahnya berduri lemah seperti rambutan. Bijinya mengandung Glycoprotein yang bersifat racun dan orang sering menyebutnya Ricin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;B . Jarak Pagar/Cina (Jatropha curcas )&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Jenis ini berbuah terus menerus (tahunan). Jenis jarak ini yang dianjurkan ditanam, yaitu:&lt;br /&gt;- Asembagus 22 : kandungan minyak 55-57%&lt;br /&gt;- Asembagus 60 : kandungan minyak 48-52%&lt;br /&gt;- Asembagus 81 : kandungan minyak 51-54%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi biji jarak terdiri dari 20% kulit dan 80% biji (daging), mengandung 40-60% minyak. Kandungan minyak mentahnya 32-48% dan sisanya adalah ampas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMELIHARAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang penting diperhatikan adalah tanaman jarak ini mempunyai sifat kurang suka air sehingga kelebihan air (terendam) justru akan merugikan pertumbuhan tanaman, namun jika panas terik berlangsung hingga 3-4 bulan penyiraman perlu sesekali dilakukan untuk menghindari kematian akibat kekeringan.&lt;br /&gt;Lakukan penyiangan gulma jika tanaman mulai terganggu baik pertumbuhan bagian atas dalam persaingan terhadap cahaya maupun perakaran yaitu penyerapan hara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMUPUKAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertumbuhan yang baik berikan pupuk dasar yaitu pupuk kandang di samping pupuk anorganik pada saat tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;     &lt;col span="2" width="82"&gt;     &lt;col width="144"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr height="43"&gt;       &lt;td height="43" width="82"&gt;&lt;div align="center"&gt;Jenis    Pupuk&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td style="text-align: center;" width="82"&gt;Dosis (kg/ha)&lt;/td&gt;       &lt;td width="144"&gt;&lt;div align="center"&gt;Waktu Pemupukan&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr height="24"&gt;       &lt;td height="24"&gt;&lt;div align="center"&gt;Urea&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;50&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;Saat tanam&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr height="24"&gt;       &lt;td height="24"&gt;&lt;div align="center"&gt;SP-36&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;75&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;Saat tanam&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr height="24"&gt;       &lt;td height="24"&gt;&lt;div align="center"&gt;KCl&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;50&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;2 minggu setelah    tanam&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr height="24"&gt;       &lt;td height="24"&gt;&lt;div align="center"&gt;Urea&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;100&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td&gt;&lt;div align="center"&gt;1 bulan setelah tanam&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan : tidak berlaku mutlak/bervariasi untuk masing - masing daerah.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih baik ditambah SUPERNASA atau POWER NUTRITION dosis 1 botol untuk ± 200 tanaman . Satu botol SUPERNASA atau POWER NUTRITION diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman perpohon.&lt;br /&gt;Penyemprotan dengan POC NASA dosis 3-4 tutup + HORMONIK dosis 1 tutup per tangki setiap 1 bulan sekali dianjurkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanaman jarak sebenarnya jarang diserang hama ataupun penyakit, namun bisa jadi terserang jika saja kondisi lahan kurang bersih ataupun ada semak yang dapat menjadi inang sementara bagi hama-hama tertentu. Pengendalian hama terpadu yaitu dengan menjaga kebersihan lahan merupakan tindakan preventif yang paling mudah dilakukan sebelum hama menjadi tak terkendali dan merugikan.&lt;br /&gt;Hama yang kadang menyerang tanaman jarak adalah sejenis kutu putih. Tanaman jarak sering tumbuh liar sehingga kutu putih sering menjadikannya inang sementara. Untuk pencegahannya gunakan PESTONA dan PENTANA + AERO 810 secara bergantian.&lt;br /&gt;Disamping kutu putih , jarak juga mungkin diserang ulat yang menyerang daun, yang bisa dicegah dengan PESTONA dan PENTANA + AERO 810 Lakukan penyemprotan dengan PESTONA dan PENTANA + AERO 810 secara bergantian untuk pencegahan , satu minggu sekali disemprotkan merata di atas dan di bawah helai daun .&lt;br /&gt;Sebagai pencegahan terhadap penyakit yang disebabkan jamur, sebaiknya sebelum tanam disebarkan 1 pak Natural GLIO ditambah 25-30 kg pupuk kandang dan didiamkan seminggu.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan : Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai alternatif terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan AERO 810 dosis 0,5 tutup botol per tangki&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MASA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masa berbunga terjadi setelah tanaman berumur sekitar 60-70 hari dan buah mulai dapat dipanen setelah umur tanaman sekitar 100-110 hari, yang biasanya jatuh dimusim panas yaitu bulan Agustus hingga Oktober. Buah yang terlambat panen akan melenting dan berhamburan sehingga disarankan panen harus benar-benar tepat waktu. Produksi yang dapat dicapai sekitar 1-3 ton/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMANFAATAN HASIL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Jepang minyak jarak diolah menjadi minyak pelumas persenjataan yang handal, karena sangat kental, Berat jenisnya ± 0,96 dan sangat sukar untuk dilarutkan, sehingga mudah dibedakan dari minyak lain. Sebagian besar produksinya dipergunakan sebagai minyak lumas untuk mesin yang berputar cepat; salah satu keuntungan dari minyak jarak ini adalah bahwa dia tidak menetes, tidak meninggalkan sisa bakar dan tidak larut dalam bensin; sifat-sifat yang besar artinya dalam keperluan penerbangan dan telah memberinya tempat yang tetap disamping minyak- minyak mineral yang telah mendesaknya walaupun daya pelumasnya yang cukup besar&lt;br /&gt;Selain itu biji Jarak ricinus kaya akan enzyme lipase yang dapat menguraikan lemak dan minyak menjadi asam-asam lemak yang bebas dan glycerin. Asam lemak tersebut dapat dipergunakan oleh pabrik lilin, dan setelah dinetralisir dengan soda atau kalium karbonat (potas), menghasilkan sabun keras atau lunak.&lt;br /&gt;Di perusahaan-perusahaan batik, minyak jarak berperan juga dalam pewarnaan kain katun yang akan diberi warna dengan mengkudu.&lt;br /&gt;Bahkan akhir-akhir ini dengan peningkatan harga BBM dimulai penanaman tanaman jarak besar-besaran untuk alternatif lain dari bahan bakar minyak yang dipadukan dengan paket reboisasi lahan kritis sehingga bisa berpengaruh positif bagi perekonomian dan juga kelestarian lahan di seluruh nusantara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-7475058472088793792?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/7475058472088793792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=7475058472088793792' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7475058472088793792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7475058472088793792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-tanaman-jarak.html' title='Budidaya JARAK'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIrSqEUTo5I/AAAAAAAAAKQ/kfXlXdkEp2M/s72-c/lif-042+jarak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-4031684977465213281</id><published>2008-07-18T04:18:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T00:52:44.943-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelapa sawit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='minyak sawit'/><title type='text'>Budidaya KELAPA SAWIT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIB86ZXwEpI/AAAAAAAAAKI/rvUh7B9NxdQ/s1600-h/lif-004.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIB86ZXwEpI/AAAAAAAAAKI/rvUh7B9NxdQ/s400/lif-004.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224312910434538130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi. PT. Natural Nusantara berusaha berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.1. Iklim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.2. Media Tanam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;em&gt;3.1.1. Penyemaian&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kecambah dimasukkan polibag 12x23 atau 15x23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.&lt;br /&gt;Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40x50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90x90 cm.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.1.2. Pemeliharaan Pembibitan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyiraman dilakukan dua kali sehari. Penyiangan 2-3 kali sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Bibit tidak normal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Seleksi dilakukan pada umur 4 dan 9 bulan.&lt;br /&gt;Pemupukan pada saat pembibitan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="97"&gt;   &lt;col width="262"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr align="center" height="20"&gt;     &lt;td colspan="2" height="20" width="359"&gt;Pupuk    Makro&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="60"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="60"&gt;&gt; 15-15-6-4&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: left;" width="262"&gt;Minggu    ke 2 &amp;amp; 3 (2 gram); minggu ke 4 &amp;amp; 5 (4gr); minggu ke 6 &amp;amp; 8 (6gr);    minggu ke 10 &amp;amp; 12 (8gr)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="80"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="80"&gt;&gt;    12-12-17-2&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: left;" width="262"&gt;Mingu ke 14, 15, 16 &amp;amp; 20 (8 gr); Minggu ke 22, 24, 26 &amp;amp; 28 (12gr), minggu ke 30, 32, 34 &amp;amp; 36 (17gr), minggu ke 38 &amp;amp; 40 (20gr).&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="40"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="40"&gt;&gt;    12-12-17-2&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: left;" width="262"&gt;Minggu    ke 19 &amp;amp; 21 (4gr); minggu ke 23 &amp;amp; 25 (6gr); minggu ke 27, 29 &amp;amp; 31    (8gr)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="40"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="40"&gt;&gt; POC NASA&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: left;" width="262"&gt;Mulai    minggu ke 1 – 40 (1-2cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali).&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Catatan : Akan Lebih baik pembibitan diselingi/ditambah SUPER NASA 1-3 kali dengan dosis 1 botol untuk + 400 bibit. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.2. Teknik Penanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.2.1. Penentuan Pola Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.2.2. Pembuatan Lubang Tanam&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50x40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 m. Areal berbukit, dibuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.2.3. Cara Penanaman&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penanaman pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.3. Pemeliharaan Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.3.1. Penyulaman dan Penjarangan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.3.2. Penyiangan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanah di sekitar pohon  harus bersih dari gulma.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.3.3. Pemupukan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Anjuran pemupukan sebagai berikut :&lt;br /&gt;Pupuk Makro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Urea &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: left;" valign="top" width="210"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp;amp; 36 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;225 kg/ha&lt;br /&gt;    1000 kg/ha&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TSP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: left;" valign="top" width="210"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp;amp; 36 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 48 &amp;amp; 60 &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;115 kg/ha&lt;br /&gt;    750 kg/ha&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MOP/KCl&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: left;" valign="top" width="210"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp;amp; 36 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;200 kg/ha&lt;br /&gt;    1200 kg/ha&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kieserite&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: left;" valign="top" width="210"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp;amp; 36 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;75 kg/ha&lt;br /&gt;    600 kg/ha&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="78"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Borax&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: left;" valign="top" width="210"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 &amp;amp; 36 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="84"&gt;20 kg/ha&lt;br /&gt;    40 kg/ha&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;NB. : Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September - Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret- April). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;POC NASA&lt;br /&gt;a. Dosis POC NASA mulai awal tanam  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;0-36    bln&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="312"&gt;2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar    pangkal batang, setiap 4 - 5 bulan sekali&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;     &lt;td style="text-align: center;" valign="top" width="60"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&gt;36    bln&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top" width="312"&gt;3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar    pangkal batang, setiap 3 – 4 bulan   sekali&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;b. Dosis POC NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak  dari awal memakai POC NASA&lt;br /&gt;Tahap 1 : Aplikasikan 3 - 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4 tutup/ pohon&lt;br /&gt;Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon&lt;br /&gt;Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman. Cara lihat Teknik Penanaman (Point 3.2.3.)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.3.4. Pemangkasan Daun&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:&lt;br /&gt;a. Pemangkasan pasir&lt;br /&gt;Membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.&lt;br /&gt;b. Pemangkasan produksi&lt;br /&gt;Memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen  umur 20-28 bulan.&lt;br /&gt;c. Pemangkasan pemeliharaan&lt;br /&gt;Membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.3.5. Kastrasi Bunga&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.3.6. Penyerbukan Buatan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah, dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau  serangga.&lt;br /&gt;a. Penyerbukan oleh manusia&lt;br /&gt;Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir. Cara penyerbukan:&lt;br /&gt;1. Bak seludang bunga.&lt;br /&gt;2. Campurkan serbuk sari dengan talk murni ( 1:2 ). Serbuk sari diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer.&lt;br /&gt;b. Penyerbukan oleh Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit&lt;br /&gt;Serangga penyerbuk Elaeidobius camerunicus tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif. Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat sampai 30%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.4. Hama dan Penyakit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.4.1. Hama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;a. Hama Tungau&lt;br /&gt;Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural BVR.&lt;br /&gt;b. Ulat Setora&lt;br /&gt;Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.&lt;br /&gt;3.4.2. Penyakit&lt;br /&gt;a. Root Blast&lt;br /&gt;Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.&lt;br /&gt;b. Garis Kuning&lt;br /&gt;Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO semenjak awal.&lt;br /&gt;c. Dry Basal Rot&lt;br /&gt;Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.&lt;br /&gt;Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.5. Panen&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3.5.1. Umur Panen&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-4031684977465213281?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/4031684977465213281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=4031684977465213281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/4031684977465213281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/4031684977465213281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-kelapa-sawit.html' title='Budidaya KELAPA SAWIT'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIB86ZXwEpI/AAAAAAAAAKI/rvUh7B9NxdQ/s72-c/lif-004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-7390487539173729195</id><published>2008-07-18T03:37:00.000-07:00</published><updated>2008-07-26T00:49:25.120-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='analisis ekonomis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budidaya padi'/><title type='text'>Budidaya PADI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIB4BYx-gMI/AAAAAAAAAKA/N-AOTCte5dU/s1600-h/lif-006.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIB4BYx-gMI/AAAAAAAAAKA/N-AOTCte5dU/s400/lif-006.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224307532977045698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Produksi gabah padi di Indonesia rata-rata 4 - 5 ton/ha. PT. NATURAL NUSANTARA berupaya membantu tercapainya ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi padi berdasarkan asas kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SYARAT TUMBUH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Padi  dapat  tumbuh  pada  ketinggian  0-1500  mdpl  dengan  temperatur 19-270C , memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 - 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A.Benih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan jarak tanam 25 x 25 cm per 1000 m2 sawah membutuhkan 1,5-3 kg. Jumlah ideal benih yang disebarkan sekitar 50-60 gr/m2. Perbandingan luas tanah untuk pembenihan dengan lahan tanam adalah 3 : 100, atau 1000 m2 sawah : 3,5 m2 pembibitan&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B.Perendaman Benih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benih direndam POC NASA dan air, dosis 2 cc/lt air selama 6-12 jam. tiriskan dan masukkan karung goni, benih padi yang mengambang dibuang. Selanjutnya diperam menggunakan daun pisang atau dipendam di dalam tanah selama 1 - 2 malam hingga benih berkecambah serentak.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C.Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Persemaian diairi dengan berangsur sampai setinggi 3 - 5 cm. Setelah bibit berumur 7-10 hari dan 14-18 hari, dilakukan penyemprotan POC NASA dengan dosis 2 tutup/tangki.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D. Pemindahan benih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bibit yang siap dipindahtanamkan ke sawah berumur 21-40 hari, berdaun 5-7 helai, batang bawah besar dan kuat, pertumbuhan seragam, tidak terserang hama dan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F. Pemupukan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemupukan seperti pada tabel berikut, dosis pupuk sesuai dengan hasil panen yang diinginkan. Semua pupuk makro dicampur dan disebarkan merata ke lahan sesuai dosis.&lt;br /&gt;Khusus penggunaan Hormonik bisa dicampurkan dengan POC NASA kemudian disemprotkan (3-4 tutup NASA + 1 tutup HORMONIK /tangki). Hasil akan bervariasi tergantung jenis varietas, kondisi dan jenis tanah, serangan hama dan penyakit serta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TABEL PENGGUNAAN POC NASA DAN SUPERNASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="156"&gt;   &lt;col width="117"&gt;   &lt;col width="108"&gt;   &lt;col span="3" width="93"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr style="font-weight: bold;" align="center" height="21"&gt;     &lt;td colspan="6" height="21" width="660"&gt;Waktu Aplikasi&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr style="font-weight: bold;" height="21"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="21"&gt;Jenis Pupuk&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;Olah Tanah(kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;14 hari (kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;30 hari (kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;45 hari (kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;60 hari (kg)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;Urea&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;36,5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;9&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;9&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;9&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;9&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;ZA&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3,5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;SP-36&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;6,5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1,5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1,5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1,5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1,5&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;KCl &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;20&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;Dolomit&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;13&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;3&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;SPR NASA&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 botol (siram)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;2 botol (siram)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="17"&gt;     &lt;td height="17"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="18"&gt;     &lt;td colspan="6" height="18"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Catatan&lt;/span&gt; : Dosis    produksi padi 1,2 – 1,7 ton/ 1000 M2  Gabah Kering Panen&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;col width="156"&gt;   &lt;col width="117"&gt;   &lt;col span="3" width="146"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr style="font-weight: bold;" align="center" height="21"&gt;     &lt;td colspan="5" height="21" width="711"&gt;Waktu Aplikasi&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="21"&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;" height="21"&gt;Jenis Pupuk&lt;/td&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;OlahTanah(kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;10–14 hari (kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;25–28 hari (kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;42–45 hari (kg)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;Urea&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;12&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;6&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;6&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;6&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;SP-36&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;10&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;50&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;KCl &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;7&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;8&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;SPR NASA&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1 botol (siram)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;POC NASA&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;4-5 ttp/tgk (semprot)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;4-5 ttp/tgk (semprot)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;4-5 ttp/tgk (semprot)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="17"&gt;     &lt;td height="17"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;     &lt;tr height="22"&gt;     &lt;td colspan="5" height="22"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Catatan&lt;/span&gt; : Dosis    produksi padi 0,8 – 1,1 ton/ 1000 M2  Gabah Kering Panen&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;   &lt;!--DWLayoutTable--&gt;   &lt;col width="156"&gt;   &lt;col width="117"&gt;   &lt;col span="3" width="146"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr style="font-weight: bold;" align="center" height="21"&gt;     &lt;td colspan="5" height="21"&gt;Waktu Aplikasi&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="21"&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;" height="21" width="98"&gt;Jenis Pupuk&lt;/td&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;" width="123"&gt;Olah Tanah(kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;" width="160"&gt;10–14 hari (kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;" width="160"&gt;25–28 hari (kg)&lt;/td&gt;     &lt;td style="font-weight: bold; text-align: center;" width="160"&gt;42–45 hari (kg)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;Urea&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;10&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;4,5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;4&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;4&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;SP-36&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;11,5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;KCL &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;5&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;6,5&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;POC NASA &lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;20-40 ttp (siram)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;4-8 ttp/tgk (semprot)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;4-8 ttp/tgk (semprot)&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;4-8 ttp/tgk (semprot)&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="20"&gt;     &lt;td style="text-align: center;" height="20"&gt;HORMONIK&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;-&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1 ttp/tgk campur NASA&lt;/td&gt;     &lt;td style="text-align: center;"&gt;1 ttp/tgk campur NASA&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr height="17"&gt;     &lt;td height="17"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr height="22"&gt;     &lt;td colspan="5" height="22"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Catatan&lt;/span&gt; : Dosis    produksi padi 0,8 – 1,1 ton/ 1000 M2  Gabah Kering Panen&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara Penggunaan SUPER NASA &amp;amp; POC NASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pemberian SUPER NASA dengan cara dilarutkan dalam air secukupnya kemudian disiramkan ( hanya disiramkan)&lt;br /&gt;2. Jika dengan POC NASA dicampur air secukupnya bisa disiramkan atau disemprotkan.&lt;br /&gt;3. Khusus SP-36 bisa dilarutkan SUPER NASA atau POC NASA, sedang pupuk makro lainnya disebar secara merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;G. PENGOLAHAN LAHAN RINGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan pada umur 20 HST, bertujuan untuk sirkulasi udara dalam tanah, yaitu membuang gas beracun dan menyerap oksigen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;H.PENYIANGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan rumput-rumput liar seperti jajagoan, sunduk gangsir, teki dan eceng gondok dilakukan 3 kali umur 4 minggu, 35 dan 55.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I.  PENGAIRAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penggenangan air dilakukan pada fase awal pertumbuhan, pembentukan anakan, pembungaan dan masa bunting. Sedangkan pengeringan hanya dilakukan pada fase sebelum bunting bertujuan menghentikan pembentukan anakan dan fase pemasakan biji untuk menyeragamkan dan mempercepat pemasakan biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;J. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;  · &lt;em&gt;Hama putih (Nymphula depunctalis)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: menyerang daun bibit, kerusakan berupa titik-titik yang memanjang sejajar tulang daun, ulat menggulung daun padi. Pengendalian: (1) pengaturan air yang baik, penggunaan bibit sehat, melepaskan musuh alami, menggugurkan tabung daun; (2) menggunakan BVR atau Pestona · &lt;em&gt;·Padi  Thrips  (Thrips oryzae)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gejala: daun menggulung dan berwarna kuning sampai kemerahan, pertumbuhan bibit terhambat, pada tanaman dewasa gabah tidak berisi. Pengendalian: BVR atau Pestona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· &lt;em&gt;Wereng&lt;/em&gt; penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih (Sogatella   furcifera) dan  Wereng penyerang daun padi: wereng padi hijau (Nephotettix apicalis dan N. impicticep).&lt;br /&gt;Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi dan dapat menularkan virus. Gejala: tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tanaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil. Pengendalian: (1) bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR- 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penyemprotan BVR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· &lt;em&gt;Walang sangit (Leptocoriza acuta)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menyerang buah padi yang masak susu. Gejala buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan bulir padi berbintik-bintik hitam.&lt;br /&gt;Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatankebersihan, mengumpulkan dan memusnahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik, laba-laba; (2) penyemprotan BVR atau PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·&lt;em&gt; Kepik hijau (Nezara viridula)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menyerang batang dan buah padi. Gejala: pada batang tanaman terdapat bekas tusukan, buah padi yang diserang memiliki noda bekas isapan dan pertumbuhan tanaman terganggu. Pengendalian: mengumpulkan dan memusnahkan telur-telurnya, penyemprotan BVR atau PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·&lt;em&gt; Penggerek batang padi&lt;/em&gt; terdiri atas: penggerek batang padi putih (Tryporhyza innotata), kuning (T. incertulas), bergaris (Chilo supressalis) dan merah jambu (Sesamia inferens). Menyerang batang dan pelepah daun. Gejala: pucuk tanaman layu, kering berwarna kemerahan dan mudah dicabut, daun mengering dan seluruh batang kering. Kerusakan pada tanaman muda disebut hama "sundep" dan pada tanaman bunting (pengisian biji) disebut "beluk". Pengendalian: (1) menggunakan varitas tahan, meningkatkan kebersihan lingkungan, menggenangi sawah selama 15 hari setelah panen agar kepompong mati, membakar jerami; (2) menggunakan BVR atau PESTONA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· &lt;em&gt;Hama tikus (Rattus argentiventer)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah. Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman. Pengendalian: pergiliran tanaman, tanam serempak, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan NAT (Natural Aromatic).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;· Burung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Menyerang  menjelang panen, tangkai buah patah, biji berserakan. Pengendalian: mengusir dengan bunyi-bunyian atau orang-orangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;· Penyakit Bercak daun coklat &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae.&lt;br /&gt;Gejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati. Pengendalian: (1) merendam benih di air hangat + POC NASA, pemupukan berimbang, tanam padi tahan penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;· Penyakit Blast&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Pyricularia oryzae. Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk.&lt;br /&gt;Pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa. Pengendalian: (1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varitas unggul Sentani, Cimandiri IR-48, IR-36, pemberian pupuk N di saat pertengahan fase vegetatif dan fase pembentukan bulir; (2) pemberian GLIO di awal tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;· Busuk pelepah daun &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Rhizoctonia sp. Gejala: menyerang daun dan pelepah daun pada tanaman yang telah membentuk anakan. Menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit (2) pemberian GLIO pada saat pembentukan anakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;· Penyakit Fusarium &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Fusarium moniliforme. Gejala: menyerang malai dan biji muda menjadi kecoklatan, daun terkulai, akar membusuk. Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih + POC NASA dan disebari GLIO di lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;·Penyakit kresek/hawar daun &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae) Gejala: menyerang daun dan titik tumbuh. Terdapat garis-garis di antara tulang daun, garis melepuh dan berisi cairan kehitam-hitaman, daun mengering dan mati. Pengendalian: (1) menanam varitas tahan penyakit seperti IR 36, IR 46, Cisadane, Cipunegara, menghindari luka mekanis, sanitasi lingkungan; (2) pengendalian diawal dengan GLIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;· Penyakit kerdil&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: virus ditularkan oleh wereng coklat Nilaparvata lugens. Gejala: menyerang semua bagian tanaman, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau kekuning-kuningan, batang pendek, buku-buku pendek, anakan banyak tetapi kecil. Pengendalian: sulit dilakukan, usaha pencegahan dengan memusnahkan tanaman yang terserang ada mengendalikan vector dengan BVR atau PESTONA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;· Penyakit tungro&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: virus yang ditularkan oleh wereng hijau Nephotettix impicticeps. Gejala: menyerang semua bagian tanaman, pertumbuhan tanaman kurang sempurna, daun kuning hingga kecoklatan, jumlah tunas berkurang, pembungaan tertunda, malai kecil dan tidak berisi. Pengendalian: menanam padi tahan wereng seperti Kelara, IR 52, IR 36, IR 48, IR 54, IR 46, IR 42 dan mengendalikan vektor virus dengan BVR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;K.    PANEN DAN PASCA PANEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;·Panen dilakukan jika butir gabah 80 % menguning dan tangkainya menunduk&lt;br /&gt;· Alat yang digunakan ketam atau sabit&lt;br /&gt;· Setelah panen segera dirontokkan malainya dengan perontok mesin atau tenaga manusia&lt;br /&gt;· Usahakan kehilangan hasil panen seminimal mungkin&lt;br /&gt;- Setelah dirontokkan diayaki (Jawa : ditapeni)&lt;br /&gt;· Dilakukan pengeringan dengan sinar matahari  2-3 hari&lt;br /&gt;· Setelah kering lalu digiling yaitu pemisahan gabah dari kulit bijinya.&lt;br /&gt;· Beras  siap  dikonsumsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ANALISIS EKONOMIS PER 1000  M2&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Produksi  1  Ton&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benih 3 kg x Rp. 3.000 = Rp.     9.000,-&lt;br /&gt;Pupuk Makro ( Urea, TSP, ZA, KCl, Dolomit) Rp. 125.800,-&lt;br /&gt;SUPER NASA  3 botol  x  Rp. 73.000,-  = Rp. 219.000,-&lt;br /&gt;PESTISIDA  ALAMI ( Pestona + BVR )  Rp.   95.000,-&lt;br /&gt;Tenaga Olah Tanah  4 HOK x Rp. 15.000,-  = Rp.   60.000,-&lt;br /&gt;Tanam  6 HOK x Rp. 5.000,-   = Rp.   30.000,-&lt;br /&gt;Gulma (Matun)  5 HOK x Rp. 5.000,-  = Rp.   25.000,-&lt;br /&gt;Panen  10 HOK x Rp. 7.500,-   = Rp.   75.000,-&lt;br /&gt;Lain-lain    Rp.   50.000,-&lt;br /&gt;TOTAL BIAYA    = Rp.   688.800,-&lt;br /&gt;HASIL PRODUKSI 1.000 kg  x  Rp. 1.200  =Rp. 1.200.000,-&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEUNTUNGAN&lt;/strong&gt; = Rp. 1.200.000 - Rp. 688.800 =Rp.    511.200,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Produksi  0,8  Ton&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benih 3 kg x Rp. 3.000   = Rp.     9.000,-&lt;br /&gt;Pupuk Makro ( Urea, TSP, KCl)   Rp.   88.500,-&lt;br /&gt;SUPER NASA 1 botol   Rp.   73.000,-&lt;br /&gt;POC NASA  2 botol    Rp.   41.000,-&lt;br /&gt;PESTISIDA  ALAMI (PESTONA + BVR)  Rp.   95.000,-&lt;br /&gt;Tenaga Olah Tanah  4 HOK x Rp. 15.000,-  = Rp.   60.000,-&lt;br /&gt;Tanam  6 HOK x Rp. 5.000,-   = Rp.   30.000,-&lt;br /&gt;Gulma (Matun)  5 HOK x Rp. 5.000,-  = Rp.   25.000,-&lt;br /&gt;Panen  10 HOK x Rp. 7.500,-   = Rp.   75.000,-&lt;br /&gt;Lain-lain    Rp.   50.000,-&lt;br /&gt;TOTAL BIAYA    = Rp.   546.500,-&lt;br /&gt;HASIL PRODUKSI  800 kg  x  Rp. 1.200   = Rp.    960.000,-&lt;br /&gt;KEUNTUNGAN = Rp. 9620.000 - Rp. 546.500 = Rp.   413.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C. Produksi  0,6  Ton&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Benih 3 kg x Rp. 3.000   = Rp.     9.000,-&lt;br /&gt;Pupuk Makro ( Urea, TSP, KCl)   Rp.   67.250,-&lt;br /&gt;POC  NASA  2 botol    Rp.   41.000,-&lt;br /&gt;HORMONIK  1 botol   Rp.   19.500,-&lt;br /&gt;PESTISIDA ALAMI (PESTONA + BVR)  Rp.   78.700,-&lt;br /&gt;Tenaga Olah Tanah  4 HOK x Rp. 15.000,-  = Rp.   60.000,-&lt;br /&gt;Tanam  6 HOK x Rp. 5.000,-   = Rp.   30.000,-&lt;br /&gt;Gulma (Matun)  5 HOK x Rp. 5.000,-  = Rp.   25.000,-&lt;br /&gt;Panen  10 HOK x Rp. 7.500,-   = Rp.   75.000,-&lt;br /&gt;Lain-lain    Rp.   50.000,-&lt;br /&gt;TOTAL BIAYA    = Rp.   455.450,-&lt;br /&gt;HASIL PRODUKSI  600 kg  x  Rp. 1.200   = Rp.   720.000,-&lt;br /&gt;KEUNTUNGAN = Rp.720.000 - Rp. 455.450 = Rp.   264.550,-&lt;br /&gt;Keuntungan bervariasi tergantung : harga pupuk makro dan tenaga kerja setempat, serangan hama penyakit, teknis budidaya, dan harga jual gabah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau pakai pupuk Natural Nusantara saja ? tanpa pupuk kimia ? Bisa ..!&lt;br /&gt;Kebutuhan Pupuk untuk per hektar dengan pencapaian 8-10 ton/ha adalah&lt;br /&gt;20 Super NASA kecil (@ 39.000) = 780.000&lt;br /&gt;30 POC NASA (@ 27.000) = 810.000&lt;br /&gt;30 Hormonik (@ 24.000) = 720.000&lt;br /&gt;5 Pestona + BVR = 475.000&lt;br /&gt;Total = 2.785.000 rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Pengeluaran 2-3juta untuk hasil diatas 10juta/ha, siapa takut..!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Kami sudah mengalaminya, bagaimana dengan anda ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Anda dapat memesan online pada kami. Thanks.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-7390487539173729195?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/7390487539173729195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=7390487539173729195' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7390487539173729195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7390487539173729195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/budidaya-padi.html' title='Budidaya PADI'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIB4BYx-gMI/AAAAAAAAAKA/N-AOTCte5dU/s72-c/lif-006.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-5813313540111056777</id><published>2008-07-18T03:04:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T03:18:18.377-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koki'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='udang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tambak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='molting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mujair'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lele'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='plankton'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bandeng'/><title type='text'>Produk Perikanan Natural Nusantara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1. TON (Tambak Organik Nusantara)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBrY16XCPI/AAAAAAAAAI4/Fxfk6o7Wd14/s1600-h/pr_ns_pkn_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBrY16XCPI/AAAAAAAAAI4/Fxfk6o7Wd14/s400/pr_ns_pkn_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224293642282666226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Formula alami (organik) khusus tambak untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi serta menjaga/memperbaiki kelestarian lingkungan tambak dengan memberikan mineral-mineral yang dibutuhkan udang/bandeng, mempercepat pertumbuhan plankton sebagai pakan alami udang/bandeng, serta mengikat logam - logam berat sekaligus membantu mengurai senyawa komplek berbahaya beracun bagi udang/bandeng.&lt;strong&gt; TON (Tambak Organik Nusantara)&lt;/strong&gt; juga membantu merutinkan molting udang.&lt;br /&gt;1. Mengikat logam-logam berat yang berbahaya bagi  ikan/udang.&lt;br /&gt;2. Membantu  menguraikan  senyawa  kekal  komplek  berbahaya dan beracun, seperti :  H2S, amoniak, asam laktat, dsb.&lt;br /&gt;3. Memberikan semua jenis unsur makro, unsur mikro lengkap untuk mempercepat pertumbuhan plankton sebagai pakan alami udang dan bandeng.&lt;br /&gt;4. Membantu  dan  merutinkan  molting  udang.&lt;br /&gt;5. Membantu   sistem   pencernaan  udang.&lt;br /&gt;6. Meningkatkan  pertumbuhan  dan  sistem   kekebalan  tubuh  udang.&lt;br /&gt;7.Membantu perkembangan mikroorganisme yang bermanfaat bagi lingkungan tambak dan bermanfaat bagi pertumbuhan udang/bandeng.&lt;br /&gt;8. Membantu  menciptakan  dan mempertahankan ekosistem tambak  yang seimbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2. POC NASA (perikanan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBruqzeCOI/AAAAAAAAAJA/uOoeZqSd5vM/s1600-h/pr_ns_ptn_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBruqzeCOI/AAAAAAAAAJA/uOoeZqSd5vM/s400/pr_ns_ptn_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224294017258096866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Formula alami (organik) multiguna untuk tanaman juga peternakan dan perikanan yang berguna : meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman serta kelestarian lingkungan/tanah dengan memberikan semua jenis unsur hara essensial lengkap bagi tanaman (1 lt &lt;strong&gt;POC NASA&lt;/strong&gt; memiliki fungsi unsur hara mikro setara 1 ton pupuk kandang) sekaligus melarutkan sisa - sisa pupuk kimia dalam tanah sehingga dapat dimanfaatkan tanaman dan menggemburkan tanah. &lt;strong&gt;POC NASA&lt;/strong&gt; mengandung juga hormon organik (auksin, sitokinin, giberelin) untuk pertumbuhan, pembungaan, pembuahan, perakaran dan pengumbian. &lt;strong&gt;POC NASA&lt;/strong&gt; mempertinggi daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. &lt;strong&gt;POC NASA&lt;/strong&gt; juga dapat digunakan untuk meningkatkan produksi (kuantitas dan kualitas) peternakan dan perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;3. HORMONIK (perikanan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBr9bWat_I/AAAAAAAAAJI/xsM9ljhVuuQ/s1600-h/pr_ns_ptn_02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBr9bWat_I/AAAAAAAAAJI/xsM9ljhVuuQ/s400/pr_ns_ptn_02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224294270807750642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;HORMONIK&lt;/strong&gt; memacu pertumbuhan, pengumbian, pembungaan dan pembuahan tanaman untuk mendapatkan hasil panen  optimal. &lt;strong&gt;HORMONIK&lt;/strong&gt; mengandung Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Organik terutama Auksin, Giberelin dan Sitokinin, di formulasikan dari bahan alami yang dibutuhkan oleh semua jenis tanaman. &lt;strong&gt;HORMONIK&lt;/strong&gt; tidak membahayakan ( aman ) bagi kesehatan manusia maupun binatang&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAYA GUNA &lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;Mempercepat proses pertumbuhan tanaman, memacu dan meningkatkan pembungaan serta pembuahan, mengurangi kerontokan bunga dan buah, membantu pertumbuhan tunas, membantu pertumbuhan akar, memacu pembesaran umbi, meningkatkan keawetan hasil panen, memacu dan meningkatkan bobot unggas/ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku Manual, Brosur2 dan VCD nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBsb6LPVOI/AAAAAAAAAJY/RmNOGmzZn_E/s1600-h/bm_003.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBsb6LPVOI/AAAAAAAAAJY/RmNOGmzZn_E/s400/bm_003.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224294794478441698" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBslNUd2fI/AAAAAAAAAJg/QE1b1mDT2ow/s1600-h/brosur_011.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBslNUd2fI/AAAAAAAAAJg/QE1b1mDT2ow/s400/brosur_011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224294954236238322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBs7NKj5-I/AAAAAAAAAJo/H30B7A9SWIk/s1600-h/vcd_nasa_010.jpg"&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBs7NKj5-I/AAAAAAAAAJo/H30B7A9SWIk/s1600-h/vcd_nasa_010.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBs7NKj5-I/AAAAAAAAAJo/H30B7A9SWIk/s400/vcd_nasa_010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224295332151814114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBtO4On_gI/AAAAAAAAAJw/iIVytG4d_DM/s1600-h/vcd_nasa_034.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBtO4On_gI/AAAAAAAAAJw/iIVytG4d_DM/s400/vcd_nasa_034.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224295670129098242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBtb3bvvYI/AAAAAAAAAJ4/NwG16hdg8PA/s1600-h/vcd_nasa_048.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBtb3bvvYI/AAAAAAAAAJ4/NwG16hdg8PA/s400/vcd_nasa_048.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224295893253995906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-5813313540111056777?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/5813313540111056777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=5813313540111056777' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/5813313540111056777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/5813313540111056777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/produk-perikanan-natural-nusantara.html' title='Produk Perikanan Natural Nusantara'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBrY16XCPI/AAAAAAAAAI4/Fxfk6o7Wd14/s72-c/pr_ns_pkn_01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-8181296428146105930</id><published>2008-07-18T01:31:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T03:04:13.834-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bau kotoran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ternak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kambing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='unggas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vitamin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sapi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelinci'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='itik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daging'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='domba'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ayam'/><title type='text'>Produk Peternakan Natural Nusantara</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1. VITERNA plus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBWi0CtCNI/AAAAAAAAABI/o-NJMvRRxMA/s1600-h/pr_ns_tnk_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBWi0CtCNI/AAAAAAAAABI/o-NJMvRRxMA/s320/pr_ns_tnk_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224270723835300050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;VITERNA Plus&lt;/strong&gt; merupakan suplemen pakan ternak yang diolah dari berbagai macam bahan alami (hewan dan tumbuhan), memberikan zat-zat yang sangat diperlukan ternak untuk :&lt;br /&gt;1. Meningkatkan kuantitas (peningkatan Average Daily Gain /ADG bagi sapi dan peningkatan bobot panen bagi ayam) - kualitas daging (mengurangi kandungan kolesterol) - kesehatan ternak (mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit) semuanya merupakan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Aspek  K-3.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;2. Memacu  enzim - enzim  pencernaan  ternak.&lt;br /&gt;3. Memberikan   mineral  -  mineral   esensial   maupun  non esensial.&lt;br /&gt;4. Memberikan  berbagai  macam  nutrisi alami  untuk  pertumbuhan ternak  ( protein, lemak, vitamin, dsb.).&lt;br /&gt;5. Menambah  kandungan  asam   -   asam   lemak   didalam rumen  /  lambung  ternak.&lt;br /&gt;6. Meningkatkan  efisiensi dan efektifitas  pakan (TDN).&lt;br /&gt;7. Mengandung  hormon   pertumbuhan  alami  untuk  mempercepat pertumbuhan  ternak.&lt;br /&gt;8. Meningkatkan nafsu  makan.&lt;br /&gt;9. Mengurangi   kandungan   kolesterol   daging   dan  mengurangi   bau kotoran  ayam&lt;br /&gt;10.Produk  alami  aman  untuk  ternak  dan  lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2. POC NASA (peternakan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBXENtPqsI/AAAAAAAAABQ/vdQOTkGUapw/s1600-h/pr_ns_ptn_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBXENtPqsI/AAAAAAAAABQ/vdQOTkGUapw/s320/pr_ns_ptn_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224271297660299970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Formula alami (organik) multiguna untuk tanaman juga peternakan dan perikanan yang berguna : meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman serta kelestarian lingkungan/tanah dengan memberikan semua jenis unsur hara essensial lengkap bagi tanaman (1 lt &lt;strong&gt;POC NASA&lt;/strong&gt; memiliki fungsi unsur hara mikro setara 1 ton pupuk kandang) sekaligus melarutkan sisa - sisa pupuk kimia dalam tanah sehingga dapat dimanfaatkan tanaman dan menggemburkan tanah. &lt;strong&gt;POC NASA &lt;/strong&gt;mengandung juga hormon organik (auksin, sitokinin, giberelin) untuk pertumbuhan, pembungaan, pembuahan, perakaran dan pengumbian. &lt;strong&gt;POC NASA&lt;/strong&gt; mempertinggi daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.&lt;strong&gt; POC NASA&lt;/strong&gt; juga dapat digunakan untuk meningkatkan produksi (kuantitas dan kualitas) peternakan dan perikanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ada buku, brosur dan VCDnya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBXWYWPRoI/AAAAAAAAABY/25FX8vEzITY/s1600-h/bm_003.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBXWYWPRoI/AAAAAAAAABY/25FX8vEzITY/s320/bm_003.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224271609754240642" border="0" /&gt;  &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBXj9AoM2I/AAAAAAAAABg/g2fri-vZwuk/s1600-h/brosur_012.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBXj9AoM2I/AAAAAAAAABg/g2fri-vZwuk/s320/brosur_012.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224271842934010722" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBYhQ6e8wI/AAAAAAAAABw/jH0ZZYMKwYI/s1600-h/brosur_009.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBYhQ6e8wI/AAAAAAAAABw/jH0ZZYMKwYI/s400/brosur_009.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224272896248967938" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBpOq_AdNI/AAAAAAAAAIg/5FElmEOlGEw/s1600-h/vcd_nasa_032.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBpOq_AdNI/AAAAAAAAAIg/5FElmEOlGEw/s400/vcd_nasa_032.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224291268527420626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBpmBt1tYI/AAAAAAAAAIo/M4072WGQHIo/s1600-h/vcd_nasa_049.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBpmBt1tYI/AAAAAAAAAIo/M4072WGQHIo/s400/vcd_nasa_049.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224291669766419842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBp5Oa3HmI/AAAAAAAAAIw/sdeaOvJ1smY/s1600-h/vcd_nasa_034.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBp5Oa3HmI/AAAAAAAAAIw/sdeaOvJ1smY/s400/vcd_nasa_034.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224291999593995874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-8181296428146105930?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/8181296428146105930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=8181296428146105930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/8181296428146105930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/8181296428146105930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/produk-peternakan-natural-nusantara.html' title='Produk Peternakan Natural Nusantara'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBWi0CtCNI/AAAAAAAAABI/o-NJMvRRxMA/s72-c/pr_ns_tnk_01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-7446580745673428087</id><published>2008-07-17T07:51:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T02:18:11.432-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='insektisida'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembasah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='herbisida'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pestisida'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perekat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perata'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fungisida'/><title type='text'>Produk Anti Hama &amp; Penyakit NASA</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;1. PESTONA&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBbtRNij-I/AAAAAAAAACY/Hm5Ww9ObAD0/s1600-h/pr_ns_hma_02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBbtRNij-I/AAAAAAAAACY/Hm5Ww9ObAD0/s400/pr_ns_hma_02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224276401022210018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;PESTONA&lt;/strong&gt; merupakan formula pengendali organik bagi beberapa hama penting pada tanaman pangan, hortikultura dan tahunan, hasil ekstraksi dari berbagai bahan alami yang mengandung bahan aktif : Azadirachtin, Alkaloid, Ricin (asam ricin), Polifenol, Eugenol, Sitral, Nikotin, Annonain dll. Kandungan lain : Atsiri Oil, Eucalyptus Oil, Solvent Extraction. &lt;strong&gt;PESTONA&lt;/strong&gt;  dibuat  dari  bahan  alami,  maka  &lt;strong&gt;PESTONA&lt;/strong&gt; bersifat : mudah terurai dialam sehingga tidak mencemari lingkungan, relatif aman bagi manusia, hewan piaraan, serta musuh alami hama tanaman, tanaman/buah bebas residu kimia dan aman dikonsumsi. &lt;strong&gt;PESTONA&lt;/strong&gt; tidak membunuh hama secara cepat, tetapi berpengaruh pada daya makan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, hambatan pembentukan serangga dewasa, menghambat komunikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin. Selain itu berperan sebagai zat pemandul, mengganggu proses perkawinan serangga hama, menghambat peletakkan telur dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; dapat bekerja secara kontak dan sistemik. &lt;strong&gt;PESTONA&lt;/strong&gt; memiliki daya kerja dalam mengurangi nafsu makan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) atau mencegah OPT merusak tanaman lebih banyak, walaupun jarang menyebabkan kematian segera pada serangga/hama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;2. Natural PENTANA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBb4lDBwiI/AAAAAAAAACg/6uEb-xsfyRk/s1600-h/pr_ns_hma_04.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBb4lDBwiI/AAAAAAAAACg/6uEb-xsfyRk/s400/pr_ns_hma_04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224276595325387298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Natural&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt; PENTANA&lt;/strong&gt; merupakan salah satu alternatif pengendalian hama yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Dibuat dari saripati beberapa tumbuhan khusus dengan proses alami.&lt;strong&gt; Keunggulan dari PENTANA, &lt;/strong&gt;merupakan pengendali hama organik, mengendalikan hama sasaran secara cepat, mudah diaplikasikan di lapangan, tidak membunuh musuh alami, tidak mencemari lingkungan, mudah terurai (biodegradable)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;3. Natural GLIO&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBcGohu1AI/AAAAAAAAACo/2R7s_t5h104/s1600-h/pr_ns_hma_07.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBcGohu1AI/AAAAAAAAACo/2R7s_t5h104/s400/pr_ns_hma_07.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224276836777645058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Natural GLIO &lt;/strong&gt; merupakan produk pengendali hama &amp;amp; penyakit tanaman dari PT. Natural Nusantara. &lt;strong&gt;Natural  GLIO &lt;/strong&gt;mampu menghancurkan inokulum sumber infeksi penyakit tanaman, mencegah sumber infeksi penyakit menyebar kembali dengan kolonisasi tanah oleh Natural GLIO, mampu melindungi perkecambahan biji dan akar-akar tanaman dari sumber infeksi penyakit, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan, selaras dengan keseimbangan alam, mudah dan murah. &lt;strong&gt;Natural GLIO&lt;/strong&gt; bersifat Hiperparasit terhadap pathogen penyakit tanaman, sehingga terjadi persaingan tempat hidup dan nutrisi. Natural GLIO mengeluarkan zat antibiotik yaitu Gliovirin dan Viridin yang akan mematikan pathogen penyebab penyakit tanaman dan Natural GLIO ini akan berkembang terus mengkolonisasi melindungi tanaman dari gangguan pathogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;4. Natural BVR&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBcRHNqK1I/AAAAAAAAACw/kPQueAJ7wsc/s1600-h/pr_ns_hma_08.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBcRHNqK1I/AAAAAAAAACw/kPQueAJ7wsc/s400/pr_ns_hma_08.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224277016813644626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Natural BVR &lt;/strong&gt; merupakan produk pengendali hama &amp;amp; penyakit tanaman dari PT. Natural Nusantara.&lt;strong&gt; Natural  BVR&lt;/strong&gt; efektif dan efisien terhadap hama sasaran, tidak mematikan musuh alami, selaras keseimbangan alam, mudah dan relatif murah, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan, mendukung program pertanian berkelanjutan.&lt;strong&gt;Natural  BVR &lt;/strong&gt;masuk melalui mulut serangga hama, kemudian tumbuh dan berkembang menghancurkan sistem organ dari dalam. BVR menempel pada kulit hama dan mengeluarkan enzim (Kitinase, Protease, Lipase) untuk menghancurkan kulit. BVR mengeluarkan racun (Beauvericin, Beauveroilides, Asam oksalat) untuk membunuh hama. Miselium tumbuh secara progresif dan muncul badan buah berwarna putih pada hama yang mati, jika hama terinfeksi tersinggung hama sehat, maka hama akan tertulari, penularan dapat melalui angin. Kematian hama berkisar + 4-8 hari setelah terinfeksi BVR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;5. Natural VITURA&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBchPEmFlI/AAAAAAAAAC4/BsaUNYxOV2Q/s1600-h/pr_ns_hma_06.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBchPEmFlI/AAAAAAAAAC4/BsaUNYxOV2Q/s400/pr_ns_hma_06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224277293801018962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Natural VITURA&lt;/strong&gt; merupakan produk pengendali hama ulat grayak dari PT. Natural Nusantara.&lt;strong&gt; Natural VITURA &lt;/strong&gt; efektifitas sangat tinggi terhadap ulat grayak ( Spodoptera lexigua ), tidak mengganggu musuh alami lain, mudah menyebar, aman bagi manusia, hewan dan lingkungan, serta mendukung pertanian berkelanjutan.Sasarannya spesifik/khusus Ulat grayak (ulat tentara) Spodoptera litura pada tanaman Cabai, Kedelai, Kacang-kacangan, kubis dan sayuran lainnya, serta tembakau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;6. Natural VIREXI&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBcsar7BMI/AAAAAAAAADA/4CnasVugRwQ/s1600-h/pr_ns_hma_05.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBcsar7BMI/AAAAAAAAADA/4CnasVugRwQ/s400/pr_ns_hma_05.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224277485897319618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Natural VIREXI&lt;/strong&gt; merupakan produk pengendali hama ulat grayak dari PT. Natural Nusantara.&lt;strong&gt; Natural VIREXI&lt;/strong&gt; efektifitas sangat tinggi terhadap ulat grayak ( Spodoptera lexigua ), tidak mengganggu musuh alami lain, mudah menyebar, aman bagi manusia, hewan dan lingkungan, serta mendukung pertanian berkelanjutan.Sasarannya spesifik/khusus Ulat grayak (ulat tentara) Spodoptera exigua pada tanaman Bawang Merah, Bawang Daun, dan Bawang putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. AERO - 810&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBc3p8F3vI/AAAAAAAAADI/EOYYOaf60SI/s1600-h/pr_ns_hma_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBc3p8F3vI/AAAAAAAAADI/EOYYOaf60SI/s400/pr_ns_hma_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224277678970232562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;AERO-810&lt;/strong&gt; merupakan perekat-perata-pembasah terutama bagi pestisida (fungisida-insektisida-herbisida) juga untuk pupuk cair dengan fungsi antara lain :&lt;br /&gt;1. Meningkatkan efektifitas / daya kerja penyemprotan pestisida, pupuk dan hormon dengan melekatkan dan meratakan butiran semprot pada daun sehingga tidak mudah menetes/hilang dan tercuci oleh hujan.&lt;br /&gt;2. Menghemat  pestisida,  pupuk,  hormon  karena   lebih  banyak  dan  lama  melekat /diserap di daun.&lt;br /&gt;3. Meningkatkan daya kerja pestisida untuk hama  berperisai dan yang kulitnya mengandung lapisan lilin.&lt;br /&gt;4. Membantu    membersihkan   alat   semprot   dan   tidak   mengakibatkan penyumbatan  nosel.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;AERO-810&lt;/strong&gt; tidak banyak membentuk buih/busa, bersifat biodegradable, terurai secara alami sehingga aman bagi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mekanisme Kerja  :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;AERO-810 adalah bahan pencampur pestisida (insektisida, fungisida, herbisida) atau pupuk cair agar tegangan permukaan air menjadi rendah sehingga pestisida/pupuk cair menyebar lebih rata, menempel lebih kuat dan meresap lebih cepat di daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku Manual, Brosur2 dan VCD :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBdFaRdKQI/AAAAAAAAADQ/uwKDMDOciWU/s1600-h/bm_002.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBdFaRdKQI/AAAAAAAAADQ/uwKDMDOciWU/s400/bm_002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224277915283040514" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBdfZEB4mI/AAAAAAAAADY/ePImU3Nt9yk/s1600-h/brosur_005.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBdfZEB4mI/AAAAAAAAADY/ePImU3Nt9yk/s400/brosur_005.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224278361634890338" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBdyIgZ9BI/AAAAAAAAADg/6WHDWCpwXzE/s1600-h/brosur_025.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBdyIgZ9BI/AAAAAAAAADg/6WHDWCpwXzE/s400/brosur_025.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224278683608019986" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBd-M6WGsI/AAAAAAAAADo/XGwGxI1XFzU/s1600-h/brosur_003.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBd-M6WGsI/AAAAAAAAADo/XGwGxI1XFzU/s400/brosur_003.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224278890948991682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBeNpwbf6I/AAAAAAAAADw/m6Ok8_SwzWc/s1600-h/brosur_002.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBeNpwbf6I/AAAAAAAAADw/m6Ok8_SwzWc/s400/brosur_002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224279156390068130" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBebrLDFSI/AAAAAAAAAD4/q_1T4IB6wWE/s1600-h/brosur_007.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBebrLDFSI/AAAAAAAAAD4/q_1T4IB6wWE/s400/brosur_007.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224279397288318242" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBenNXFJMI/AAAAAAAAAEA/Huq_Af0q6c4/s1600-h/brosur_006.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBenNXFJMI/AAAAAAAAAEA/Huq_Af0q6c4/s400/brosur_006.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224279595444151490" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBevm3CkTI/AAAAAAAAAEI/1ex3QD9HP0s/s1600-h/brosur_001.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBevm3CkTI/AAAAAAAAAEI/1ex3QD9HP0s/s400/brosur_001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224279739728040242" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBfN-k60II/AAAAAAAAAEQ/NP5Sp579Q7M/s1600-h/vcd_nasa_035.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBfN-k60II/AAAAAAAAAEQ/NP5Sp579Q7M/s400/vcd_nasa_035.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224280261490561154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8162310905987220740-7446580745673428087?l=teknaphotosagrosite.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/feeds/7446580745673428087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8162310905987220740&amp;postID=7446580745673428087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7446580745673428087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8162310905987220740/posts/default/7446580745673428087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teknaphotosagrosite.blogspot.com/2008/07/produk-anti-hama-penyakit-nasa.html' title='Produk Anti Hama &amp; Penyakit NASA'/><author><name>Teknaphotos Agro Site</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16339999410852169640</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBbtRNij-I/AAAAAAAAACY/Hm5Ww9ObAD0/s72-c/pr_ns_hma_02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8162310905987220740.post-1825153460298136489</id><published>2008-07-17T07:02:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T02:55:07.789-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pupuk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cair'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='padat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='organik'/><title type='text'>Produk Pertanian Natural Nusantara</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;1. POWER NUTRITION&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);font-family:verdana;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBZyxdEEYI/AAAAAAAAAB4/9C8wux-Iy0c/s1600-h/pr_ns_ptn_04.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBZyxdEEYI/AAAAAAAAAB4/9C8wux-Iy0c/s400/pr_ns_ptn_04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224274296553345410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Power Nutrition&lt;/strong&gt; adalah nutrisi lengkap khusus untuk tanaman buah. &lt;strong&gt;Power Nutrition&lt;/strong&gt; dibuat dari bahan alami (organik) pilihan yang terjamin ketersediaannya dan diproses dengan mekanisme teknologi gradasi dan degradasi unsur melewati proses piruvatisasi tingkat 3 sehingga langsung dapat dimanfaatkan jaringan tanaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;Power Nutrition secara umum mempunyai fungsi :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;1.Memperbanyak buah dan membantu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; pembuahan di luar musim (iklim tidak ekstrim, air cukup, hama penyakit normal).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;2.Memperbaiki dan mempercapat pertumbuhan tanaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;3.Meningkatkan  daya tahan tubuh tamaman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;4.Menigkatkan kualitas (rasa, warna, aroma) buah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;5.Meningkatkan keawetan hasil panen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;6.Mengurangi penggunaan pupuk NPK hingga + 75%-90%.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;7.Melarutkan sisa (residu) pupuk kimia dlm tanah, sehingga bisa dimanfaatkan tanaman lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;8.Membantu perkembangan mikroorganisme yang bermanfaat di dalam tanah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;2. POP SUPERNASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBZ_XytvkI/AAAAAAAAACA/9mLsVac5QA0/s1600-h/pr_ns_ptn_03.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBZ_XytvkI/AAAAAAAAACA/9mLsVac5QA0/s400/pr_ns_ptn_03.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224274513003134530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Formula alami (organik) khusus untuk memperbaiki kerusakan tanah secara fisik (menggemburkan), secara khemis (menyediakan semua unsur hara essensialbagi tanaman) dan cesara biologis (membantu perkembangan mikroorganisme tanah bermanfaat bagi tanaman). &lt;strong&gt;POP SUPERNASA &lt;/strong&gt;dapat mengurangi jumlah penggunaan pupuk NPK kimia (urea, SP-36, dan KCl).&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Formula khusus  tanaman yang dibuat murni dari bahan-bahan organik dengan  fungsi : &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A. Fungsi utama :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Memperbaiki lahan-lahan yang rusak :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;- &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Meningkatkan kesuburan fisik : memperbaiki tanah yang keras berangsur angsur  menjadi gembur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;- Meningkatkan kesuburan khemis :  memberikan  semua  jenis unsur  makro  dan   unsur  mikro  lengkap  bagi  tanaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;- Meningkatkan kesuburan biologis :  membantu perkembangan mikroorganisme  tanah  yang bermanfaat  bagi  tanaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;2. Mengurangi  jumlah penggunaan  pupuk  NPK  kimia ( Urea, SP-36  dan  KCl  ) sebesar  +  25% - 50%.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B. Fungsi lain :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman.&lt;br /&gt;2. Melarutkan sisa - sisa  pupuk  kimia  dalam tanah,  sehingga  dapat  dimanfaatkan tanaman kembali.&lt;br /&gt;3. Memacu  pertumbuhan  tanaman, merangsang  pembungaan  dan  pembuahan serta   mengurangi  kerontokan  bunga  dan  buah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. POC NASA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBaNfZ4z_I/AAAAAAAAACI/ubhqo0LNSJc/s1600-h/pr_ns_ptn_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBaNfZ4z_I/AAAAAAAAACI/ubhqo0LNSJc/s400/pr_ns_ptn_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224274755564654578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Formula khusus terutama untuk tanaman juga peternakan dan perikanan yang dibuat murni dari bahan-bahan organik dengan fungsi multiguna :&lt;br /&gt;1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman serta kelestarian lingkungan/tanah  &lt;strong&gt;( aspek K- 3 : Kuantitas - Kualitas- Kelestarian ).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;2. Menjadikan  tanah  yang  keras   berangsur  -   angsur    menjadi  gembur.&lt;br /&gt;3. Melarutkan sisa pupuk kimia di tanah (dapat dimanfaatkan  tanaman).&lt;br /&gt;4. Memberikan semua  jenis  unsur  makro  dan   unsur  mikro lengkap.&lt;br /&gt;5. Dapat  mengurangi  penggunaan  Urea,  SP-36  dan KCl  + 12,5%  -  25%&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;6. Setiap  1  liter&lt;strong&gt; POC  NASA&lt;/strong&gt;   memiliki   fungsi   unsur  hara   mikro  setara dengan 1 ton pupuk  kandang.&lt;br /&gt;7. Memacu pertumbuhan tanaman dan akar, merangsang pengumbian, pembungaan dan pembuahan serta mengurangi kerontokan bunga dan buah ( mengandung hormon/ZPT Auksin, Giberellin dan Sitokinin).&lt;br /&gt;8. Membantu perkembangan  mikroorganisme   tanah yang  bermanfaat bagi tanaman (cacing tanah, Penicilium glaucum  dll).&lt;br /&gt;9. Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit&lt;br /&gt;10.Meningkatkan  bobot  unggas (ayam, bebek,  dll), ternak besar (sapi, kambing,dll),  ikan   serta   udang.&lt;br /&gt;11.Meningkatkan  nafsu  makan unggas,  ternak  dan  ikan/udang.&lt;br /&gt;12.Membantu pembentukan pakan alami ikan dan   udang (plankton).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;4. HORMONIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBadOMW5gI/AAAAAAAAACQ/h5KVgxmhIqo/s1600-h/pr_ns_ptn_02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBadOMW5gI/AAAAAAAAACQ/h5KVgxmhIqo/s400/pr_ns_ptn_02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224275025822410242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;HORMONIK&lt;/strong&gt; memacu pertumbuhan, pengumbian, pembungaan dan pembuahan tanaman untuk mendapatkan hasil panen  optimal. &lt;strong&gt;HORMONIK&lt;/strong&gt; mengandung Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Organik terutama Auksin, Giberelin dan Sitokinin, di formulasikan dari bahan alami yang dibutuhkan oleh semua jenis tanaman. &lt;strong&gt;HORMONIK&lt;/strong&gt; tidak membahayakan ( aman ) bagi kesehatan manusia maupun binatang.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAYA GUNA :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mempercepat proses pertumbuhan tanaman, memacu dan meningkatkan pembungaan serta pembuahan, mengurangi kerontokan bunga dan buah, membantu pertumbuhan tunas, membantu pertumbuhan akar, memacu pembesaran umbi, meningkatkan keawetan hasil panen, memacu dan meningkatkan bobot unggas/ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buku Manual :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBgIaL9ZbI/AAAAAAAAAEY/BdCGJ9CHnoY/s1600-h/bm_001.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBgIaL9ZbI/AAAAAAAAAEY/BdCGJ9CHnoY/s400/bm_001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224281265334478258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Brosur-brosur :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBgrOwhPqI/AAAAAAAAAEo/tg3JoCrZnBY/s1600-h/brosur_024.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBgrOwhPqI/AAAAAAAAAEo/tg3JoCrZnBY/s400/brosur_024.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224281863562018466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBgfI1A4LI/AAAAAAAAAEg/yXEEKjP-Qt0/s1600-h/brosur_010.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBgfI1A4LI/AAAAAAAAAEg/yXEEKjP-Qt0/s400/brosur_010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224281655811825842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBg7HhjZnI/AAAAAAAAAEw/4Tco69CXrOw/s1600-h/brosur_009.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBg7HhjZnI/AAAAAAAAAEw/4Tco69CXrOw/s400/brosur_009.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224282136498103922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBhHIamF7I/AAAAAAAAAE4/m-gKKwke_Jo/s1600-h/brosur_008.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBhHIamF7I/AAAAAAAAAE4/m-gKKwke_Jo/s400/brosur_008.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224282342895785906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;VCD :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBheY4GhWI/AAAAAAAAAFA/9EUe7i_uA30/s1600-h/vcd_nasa_005.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBheY4GhWI/AAAAAAAAAFA/9EUe7i_uA30/s400/vcd_nasa_005.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224282742451504482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBhrXwWwwI/AAAAAAAAAFI/ItSezdUNiz4/s1600-h/vcd_nasa_007.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBhrXwWwwI/AAAAAAAAAFI/ItSezdUNiz4/s400/vcd_nasa_007.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224282965488878338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBh-ECgU9I/AAAAAAAAAFQ/qBZqQsEFDMg/s1600-h/vcd_nasa_011.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBh-ECgU9I/AAAAAAAAAFQ/qBZqQsEFDMg/s400/vcd_nasa_011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224283286613808082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBiYAx1YjI/AAAAAAAAAFY/fMa-9ZKdDqg/s1600-h/vcd_nasa_012.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBiYAx1YjI/AAAAAAAAAFY/fMa-9ZKdDqg/s400/vcd_nasa_012.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224283732415177266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBiif-_L0I/AAAAAAAAAFg/c1IBaOndrtI/s1600-h/vcd_nasa_013.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBiif-_L0I/AAAAAAAAAFg/c1IBaOndrtI/s400/vcd_nasa_013.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224283912590536514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBi-Gb44LI/AAAAAAAAAFo/3oFBjD2GKd4/s1600-h/vcd_nasa_014.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBi-Gb44LI/AAAAAAAAAFo/3oFBjD2GKd4/s400/vcd_nasa_014.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224284386768773298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBjHt4SVPI/AAAAAAAAAFw/WFb4teAKngU/s1600-h/vcd_nasa_015.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBjHt4SVPI/AAAAAAAAAFw/WFb4teAKngU/s400/vcd_nasa_015.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224284551975687410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBjRl2g5_I/AAAAAAAAAF4/V7h8ZDNUIBs/s1600-h/vcd_nasa_016.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBjRl2g5_I/AAAAAAAAAF4/V7h8ZDNUIBs/s400/vcd_nasa_016.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224284721619462130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBjeeUv7-I/AAAAAAAAAGA/P0UKKPnf_U8/s1600-h/vcd_nasa_017.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_usq4W0coyAM/SIBjeeUv7-I/AAAAAAAAAGA/P0UKKPnf_U8/s400/vcd_nasa_017.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224284942937092066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href
